Kancah Pemikiran Konstruktif

Thursday, December 2, 2021

UIN SAIFUDDIN ZUHRI GELAR WISUDA PERTAMANYA


Purwokerto - Universitas Islam Negeri Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto(UIN SAIZU) menggelar acara wisuda pertama kalinya di Auditorium UIN SAIZU Purwokerto pada Rabu (01/12). Acara ini dihadiri sebanyak 303 wisudawan dan menjadi acara wisuda dengan predikat “Pujian” terbanyak yaitu sebanyak 206 orang dengan rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,59 di UIN SAIZU Purwokerto.

Rektor UIN SAIZU Purwokerto Dr. KH. Mohammad Roqib, M.Ag yang memimpin jalannya acara mengatakan “Tidak ada proses dalam keragu-raguan”.

Wisuda sarjana strata satu ke-49 dan magister ke-16 ini menjadi acara wisuda yang pertama bagi UIN SAIZU Purwokerto setelah sebelumnya berganti nama dari IAIN Purwokerto. Acara ini disabut baik oleh banyak pihak terutama dari Mahasiswa yang lulus setelah kampus bertransisi dari Institut menjadi Universitas.

Peraih IPK tertinggi pada wisuda kali ini jatuh kepada Deva Mega Istighfarriana, S.Pd program studi strata satu jurusan Pindidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) dengan IPK 3,91. Dan untuk IPK tertinggi dari program studi Magister adalah Mujayaroh, M.Pd jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan IPK 3,93. Abdul Wachid B.S, S.S., M.Hum selaku pembuka sidang senat pada acara wisuda mengatakan bahwa rata-rata mayoritas wisudawan sudah mencapai IPK yang ditargetkan oleh Universitas yaitu 3,3 walau ada satu wisudawan yang mendapat IPK 3,00.

Deva Maga Istifarrina selaku peraih IPK tertinggi tingkat Universitas juga mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2 di UIN SAIZU Purwokerto. Dirinya tidak menyangka akan mendapatkan beasiswa S2 tersebut dan memutuskan untuk mengambilnya dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

“Alhamdulillah besyukur dan ngga nyangka akan mendapat predikat tertingi. Kebetulan dapat beasiswa S2 program studi lanjutan jadi akan melanjutkan S2 dengan jurusan PIAUD juga” katanya.

Di samping itu Deva Maga Istifarrina menambahkan bahwa selama menempuh pendidikan strata satu banyak sekali hambatan terutama saat pandemi covid berlangsung. Namun itu semua bukan menjadi penghalang untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Intinya kita tuh rajin dan telaten belajar. Semalas-malasnya kita, kita harus ingat tujuan pertma kita kuliah itu apa. Kita bahagiakan diri sendiri juga bahagiakan orang tua. Dalam kondisi apapun kita harus bersyukur, berdoa dan berusaha” tambah Deva saat wawancara berlangusng.

Mengingat masa pandemi covid belum usai, panitia penyelenggara wisuda tetap mematuhi protokol kesehatan. Maka dari itu acara wisuda diadakan dua sesi yaitu pada tangga 1 Desember 2021 dan 2 Desember 2021.

Selama acara wisuda berlangsung listrik padam sekejap dan sempat memutus sambungan hadirin yang menyaksidak acara wisuda secara daring. Tetapi semua dapat diatasi dengan cepat tanpa mengurangi antusiasme dari hadirin dan para wisudawan pada acara tersebut.

Wartawan: Cita Najma Zenitha

  Faridatul labibah

 

 

 

 

Share:

Saturday, November 20, 2021

Sistem Informasi Bahasa (SIB): Error System or Human Error ?

Ilustrasi LPM OBSESI 

Pasca insiden Sistem Informasi Bahasa atau lebih dikenal dengan istilah SIB yang down beberapa waktu lalu, baru-baru ini tepatnya pada hari Kamis, 18 November 2021 mahasiswa Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) kembali dihebohkan dengan insiden hilang atau tidak munculnya soal ujian ketika berlangsungnya English Proviciency Test of UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (EPTUS) dan Ikhtibar al-Qudrah li Kafa’at al-Lughah al-‘Arabiyyah (IQLA) yang diselenggarakan oleh UPT Pengembangan Bahasa. Kejadian tersebut diperparah dengan sikap kurang responsifnya pengawas dan penyelenggara ujian dalam menangani masalah tersebut, dengan tidak meberikan instruksi solusi yang jelas kepada peserta ujian.

Permasalahan sistem informasi down bukan lagi hal baru yang dialami oleh mahasiswa UIN SAIZU. Kejadian seperti itu sangat sering dialami bahkan setiap tahunnya pasti terjadi terutama menjelang pergantian semester saat pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) di Sistem Informsi Akademik (SISCA). Bahkan seringnya SISCA down sudah berkali-kali mendapat kritikan keras dari mahasiswa. Sayangnya sampai saat ini usaha yang dilakukan oleh mahasiswa masih belum mendapatkan hasil maksimal dari pihak kampus. Dan sekarang tidak hanya SISCA, Sistem Informasi Bahasa (SIB) sebagai pengganti dari Sistem Informasi UPT Bahasa (SIUB) juga mulai menimbulkan kekhawatiran bagi mahasiswa.

Selama ini tuntutan perbaikan sistem di kampus yang seringkali down seperti Sistem Informasi Akademik (SISCA), Sistem Informasi Bahasa (SIB), dan sistem informasi yang lain selalu diarahkan kepada unit pegawai yang bertanggungjawab mengelola sistem tersebut. Namun setelah ditelisik lebih lanjut, dari banyaknya sistem informasi yang ada di kampus rupanya hanya dipegang oleh satu orang programer saja. Unit-unit pegawai yang selama ini diprotes oleh mahasiswa hanyalah sebagai penanggungjawab pelayanan untuk mahasiswa. Artinya, dalam kasus Sistem Informasi Bahasa (SIB) yang down dan kasus hilang atau tidak munculnya soal ketika ujian adalah di luar kendali dari UPT Pengembangan Bahasa. Cepat lambatnya respon dari UPT Pengembangan Bahasa terkait masalah-masalah yang terjadi pada mahasiswa tergantung dari kecepatan respon programer selaku pembuat sistem tersebut.

Ade Ruswati selaku PLT UPT Pengembangan Bahasa juga menjelaskan bahwa tidak serta merta hal-hal yang terjadi selalu sepenuhnya diakibatkan oleh sistem yang error. Tidak dapat dipungkiri kejadian human error pun sering terjadi seperti kesalahan username, lupa password, dan sebagainya. Namun pihak UPT Pengembangan Bahasa juga tidak mengelak kemungkinan bahwa sistemnya yang eror. Karena sebaik apapun sistem pastilah tidak luput dari terjadinya trouble, yang mana kekurangan-kekurangan dari sistem yang dibuat tersebut hanya bisa diketahui ketika dilakukan uji coba berulang kali sehingga bisa di tindaklanjuti dengan melakukan perbaikan.

Mengenai insiden hilang atau tidak munculnya soal ujian ketika berlangsungnya EPTUS dan IQLA, pihak UPT Pengembangan bahasa juga memberikan tanggapan mengenai opsi solusi yang mungkin bisa dilakukan yaitu dengan mennyelenggarakan ujian secara offline. Namun opsi tersebut belum menjadi solusi terbaik mengingat banyaknya faktor yang perlu dipertimbangkan jika dilakukan secara offline, seperti faktor jarak, yang mana tidak semua peserta ujian berada satu wilayah dengan kampus. Sehingga hal tersebut berpotensi banyak peserta yang tidak bisa hadir saat ujian sehingga harus melakukan remidi. Tentunya hal tersebut tidak menguntungkan bagi peserta dan juga penyelenggara ujian. Dengan sistem ujian online peserta dapat lebih fleksibel mengikuti ujian karena bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun.

 “Kami juga memiliki beberapa solusi, solusinya yaitu dilakukan secara offline. Tetapi jika secara online masih bisa tersistemkan kenapa mesti menggunakan offline, karena dengan sistem tersebut data-data yang mahasiswa miliki dapat terjaga dengan baik.” Ujar Ade.

Pihak UPT Pengembangan Bahasa berharap kepada mahasiswa untuk tidak menyalurkan keluhannya langsung kepada pihak programer. Sesuai dengan prosedur, keluhan dari mahasiswa bisa langsung di sampaikan kepada UPT Pengembangan bahasa sebagai penyedia layanan mahasiswa baik via online maupun dengan datang langsung ke kampus sesuai dengan jam kerja. Selain itu, sebelum menyampaikan keluhan mahasiswa diharapkan dapat terlebih dahulu mencari dan mengikuti perkembangan informasi dengan terus memantau grup ujian EPTUS IQLA serta mengecek secara berkala informasi di website SIB. Berdasarkan penjelasan dari Ade Ruswati, kurangnya pelayanan yang dilakukan selain dikarenakan tupoksi yang cukup banyak seperti ujian remidi, sertifikat, perkulihan pengembangan bahasa, terjemah, seminar, kegiatan bimbingan teknis, dan sebagainya, pegawai UPT Pengembangan Bahasa juga merupakan dosen yang memiliki tanggungjawab untuk mengajar.

Dengan kejadian Sistem Informasi Bahasa (SIB) yang down dan hilang atau tidak munculnya soal ketika ujian, mahasiswa berharap pihak kampus dapat lebih concern melakukan pembenahan yang mungkin bisa dimulai dengan menyediakan lebih dari satu Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk menghandle sistem informasi yang ada di kampus.

 

Reporter          : Aiq Haidar

Editor             : Wardah Munfaati

Share:

Tuesday, October 26, 2021

UKM MASTER UIN SAIZU GELAR KEGIATAN JAM SESSION


                                                                    Foto dok. LPM OBSESI

OBSESI - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Master UIN Prof. KH Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) kembali menyelenggarakan kegiatan  rutinan setiap bulannya berupa JAM SESSION, acara ini diselenggarakan di halaman gedung UKM yang dilaksanakan secara offline dimulai dari  pukul 15.30 – 21.00 WIB, Minggu (24/10/21), di hadiri oleh beberapa  tamu undangan dari perwakilan beberapa universitas lain seperti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) ,  Universitas Wijaya Kusuma (UNWIKU) dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Dalam acara ini, UKM Master tidak mengangkat tema apapun, tetapi hanya menampilkan musik saja dengan tetap menggunakan protokol kesehatan. Sebelum kegiatan tersebut berlangsung telah dilaksanakan pula kegiatan minishow, biasa dikenal dengan instrument kegiatan rutinan yang dilaksanakan setiap bulan meskipun masih di masa pandemi covid-19. Akhirnya dalam acara kegiatan ini mereka berani mengadakan kegiatan lebih besar lagi.  

“Dari pemerintah sudah diperbolehkan konser offline tapi dari kita tetap mematuhi protokol Kesehatan”, ungkap Diva Kamila selaku divisi acara.

Untuk mengikuti kegiatan acara ini tidak ada persyaratan tertentu, yang terpenting tetap menjaga protokol kesehatan yang sudah ditentukan. Saat diwawancarai oleh Crew OBSESI, Diva menuturkan bahwa dalam mengadakan kegiatan ini terdapat kendala dalam penataan panggung dan banyak tamu undangan yang datang terlambat. Meskipun pada  sore hari dilanda gerimis, para peserta tetap antusias untuk mengikuti kegiatan jam session ini. Acara ini berlangsung selama tiga jam dan diakhiri dengan sesi pengambilan foto bersama.

Tujuan dilaksanakannya acara ini sebagai ajang silaturahmi sesama UKM seni khusunya musik terutama dilingkup Purwokerto karena sudah lama tidak bertatap muka secara langsung. “Terjalinnya silaturahmi semakin ketat dan regenerasi untuk anggota penerus UKM Master agar saling mengenal satu sama lain”, harapan Arif selaku ketua umum.

Reporter : Intan & Hanifah

Editor : Istiqomah

 

Share:

Tuesday, October 19, 2021

Aksi Depan Gedung DPRD Banyumas : Refleksi Tujuh Tahun Rezim Jokowi

 

Foto dok. LPM OBSESI

Purwokerto - Aksi kembali dilakukan oleh Serikat Masyarakat Bergerak Banyumas (SEMARAK) sebagai bentuk peringatan tujuh tahun era pemerintahan Presiden Joko Widodo di depan gedung  Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banyumas. Senin(18/10)

      Aksi tersebut diikuti oleh massa yang terdiri dari berbagai Badan Elemen Mahasiswa diantaranya : Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (BEM Unsoed ) yang terdiri dari BEM Fakultas Peternakan dan  BEM Fakultas Kedokteran, BEM Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Banyumas, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto beserta Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA)  UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto yang datang dengan  menyampaikan beberapa tuntutan, yaitu : 1) Wujudkan kebebasan sipil seluas-luasnya sesuai dengan amanat konstitusi dan menjamin keamanan setiap orang atas hak berpendapat dan dalam kegiatan mengungkapkan pendapat. 2) Memberikan evaluasi dan arahan kepada Polri untuk menghentikan segala bentuk tindakan representasi. 3) Memberhentikan Firli Bahuri sebagai ketua KPK, membatalkan TWK, serta mengembalikan marwah serta independensi KPK sebagai wujud realisasi janji Jokowi untuk memperkuat agenda pemberantasan korupsi. 4) Menuntut presiden Jokowi untuk menerbitkan perpu untuk menggantikan undang-undang cipta kerja yang melibatkan masyarakat dalam penyusunannya. 5) Merealisasi janji Jokowi dalam menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu dan menangkap serta mengadili para pelaku pelanggaran HAM masa lalu. 6) Menuntut pemenuhan hak-hak korban pelanggaran HAM berat masa lalu dan jaminan ketidakberulangan pelanggaran HAM berat masa lalu.

 

            Aksi ini dijadwalkan pada pukul 12.30 WIB dengan titik kumpul di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM Unsoed), tetapi massa baru bergerak pada pukul 14.30 WIB karena ada beberapa hambatan saat melakukan perjalanan menuju ke lokasi aksi. Diantaranya adanya cegatan dari aparat saat massa berniat untuk parkir di area masjid SMA Muhamadiyah 1 Purwokerto, ketika sampai di lokasi massa dihalangi masuk oleh petugas protokol kesehatan dengan menyuruh membawa semua aksi massa untuk melakukan tes usap ( swab test) dengan alasan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pers tidak diizinkan masuk oleh petugas dengan alasan sudah diwakilkan oleh salah satu media mahasiswa.

          Atas desakan massa yang terus-menerus pada akhirnya pers diizinkan untuk masuk. Sementara itu orasi-orasi tetap disuarakan, dengan demikian ini memaksa ketua DPRD Banyumas untuk menampakan diri di depan massa aksi.

         Dalam pidatonya, beliau menyampaikan akan melanjutkan tuntutan ke pusat, namun bukan berarti menyetujui tuntutan, bahkan beliau sempat menolak untuk menandatangi keputusan. Atas desakan dan juga perdebatan antara pihak DPRD dengan pihak Mahasiswa, akhirnya terbitlah surat tanda terima berkas dengan kop DPRD Kab. Banyumas.

 “Saya siapi untuk meneruskan, bukan menandatangani untuk menyetujui.” Ujar dr. Budhi Setiawan Ketua DPRD Banyumas.

Massa akhirnya memberikan opsi  jawaban tuntutan dari  pemetintah tepat pada peringatan sumpah pemuda.

 “Misal tidak ada jawaban, kita akan datang kembali pada tanggal 28 Oktober, sekaligus memperingati sumpah pemuda.” Ujar salah satu perwakilan massa aksi setelah penandatanganan surat pernyataan.



Reporter : Irma & Iqbal
Editor : Isti
Share:

Saturday, September 25, 2021

Organisasi Intra Dan Organisasi Ekstra


Mahasiswa merupakan seseorang yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dan diharapkan dapat membawa  perubahan  ke arah yang lebih baik (progress) untuk negeri. Maka dari itu, mahasiswa sering  disebut sebagai agent of change karena estafet kepemerintahan akan diberikan kepada generasi muda yang mampu menjadi pemimpin. Kepemimpinan bisa didapatkan dengan mengikuti  organisasi yang berada di kampus, karena mengikuti organisasi bisa menjadi bekal bagi anggotanya untuk memiliki karakter menjadi seorang pemimpin. Tingkatan terendah dari seorang pemimpin adalah memimpin diri sendiri.

Jadi, apa sih makna  organisasi menurut pendapat aktivis di kampus Universitas Islam Negeri Prof.KH Saifuddin Zuhri? “Organisasi  itu wadah, dan kita itu airnya. Kita nanti akan menyesuaikan wadahnya”- Nia Nur Pratiwi, Anggota Senat Mahasiswa (SEMA) Universitas Islam Negeri Prof.KH Saifuddin Zuhri Komisi A

Organisasi adalah kumpulan suatu orang yang  ingin mencapai suatu tujuan, dan itu di buku leadership juga ada”-Fikri Al-Hakim, Anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Divisi Hikmah

Orgapisasi adalah wadah untuk kita yang ingin melatih publick speaking, menambah pengalaman, menambah wawasan, yang jauh di luar kegiatan akademik”-Ermawati, Anggota Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan (FTIK) Komisi C

Bagi Saya itu organisasi adalah sebuah wadah, diibaratkan organisasi sebuah laboratorium. Di dalam laboratorium itu di dalamnya ada yang namanya percobaan atau uji coban. Semisal kita ingin membuat bahan A atau membuat makanan A, disitu kita kan meramu terus merumuskan; sekiranya makanan ini agar enak apa aja bahannya?. Tentunya di dalam percobaan tersebut ada yang namanya: kegagalan, produk gagal, terus ada produk jadi. Sama halnya seperti itu di organisasi diajarkan seperti halnya yang telah Saya sebutkan. Pasti kita ada yang mengalami  kesalahan, terus kita dapat teguran, dapat masukan, dan dimana masukan tersebut menjadikan kita menjadi mahasiswa yang berkualitas, salah satunya kita belajar banyak hal, belajar dari kesalahan yang nantinya kesalahan tersebut nantinya bisa kita perbaiki ya dari organisasi”-Nailurrobikh, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Dan Ilmu Keguruan (FTIK)

Organisasi mahasiswa memiliki dua lingkup yakni, organisasi intra dan organisasi ekstra. Tentunya ada perbedaan dari keduanya, bisa dari: ruang lingkup, budgeting, kegiatan kemahasiswaan, dan kepentingannya.

 Secara bahasa kalau intra  itu kan dari dalam sedangkan ekstra itu dari luar, Kalau kita lihat dari esensi nya itu intra adalah semua organisasi  yang memang dari kampus kalau ekstra itu, berasal dari luar kampus. Lalu apa yang membedakan antara intra dan ekstra itu terkait budgeting dari organisasi intra itu berasal dari kampus; kegiatannya berkaitan dengan birokrat, berkaitan dengan kemahasiswaan, baik secara fakultas maupun di univ. Kemudian secara Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART)  juga diatur dalam sidang tertinggi yang diatur dalam kongres yang hanya ada dimiliki di kampus. Kemudian organisasi ekstra adalah organisasi yang secara budgeting di luar budgeting kampus,  kemudian AD/ART nya memiliki AD/ART sendiri-sendiri” Menurut Nia Nur Pratiwi Senat Mahasiswa Universitas Saifuddin Zuhri Purwokerto (UIN SAIZU) Komisi A yang dihubungi pada 21 September 2021, pukul 19.42 WIB

Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) merupakan ajang  organisasi bisa melakukan misi untuk kaderisasi anggota. Maka inilah saatnya untuk menyampaikan doktrin-doktrin yang ada dari masing-masing organisasi. Di mana  mahasiswa baru akan memilih organisasi untuk berproses, eksistensi itu tidak perlu, yang perlu adalah jati diri pribadi berada di organisasi yang tepat. Bukan seberapa banyak massa yang mengikuti organisasi tersebut. Hal ini bukan perihal kuantatitas seberapa banyak massa nya; melainkan kualitas bagaimana anggotanya mampu memahami tujuan organisasi yang diikuti, bukan eksistensi ataupun hanya sekadar cari sensasi.

Menurut Ermawati, Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan ( SEMA FTIK) Komisi C yang dihubungi pada Hari  Selasa, 21 September 2021 pukul 14.13 WIB “Organisasi itu sebuah keharusan. Nanti saat kita akan berpolitik juga perlu organisasi.. Kalau kita terjun ke luar (masyarakat) juga membutuhkan pengalaman

Sedangkan menurut Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan (DEMA FTIK), Nailulrrobikh yang dihubungi pada Hari Minggu,  19 September 2021 pukul 15.17 WIB.

Bagi Saya, organisasi itu merupakan suatu keharusan ya. Karena di dalam organisasi sendiri terdapat beberapa aspek yaitu ada: aspek kepemimpinan, ada management organisasi, ada team building, ada networking, ada relationship juga yang dimana kita dapat mengembangkannya. Organisasi itu sendiri disiapkan untuk menjadi bagian masyarakat yang nantinya memiliki kemampuan yang dapat diterapkan, dikembangkan, dan diupayakan atau dioptimalkan penggunaannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Jika semisalkan mahasiswa sering berorganisasi, memaksimalkan di wadah tersebut nantinya itu akan menjadikan bekal di lingkungan masyarakat. Terlebih lagi kan di Indonesia sekarang lagi gencar-gencar  nya 2045 itu generasi emas. Tinggal bagaimana nanti dari beberapa remaja tersebut bisa memberikan solusi, dimana dia bisa mengembangkan potensinya, memaksimalkan apa yang dia miliki  yang dia punyai sebagai power dari diri mereka”.

Mengapa seringkali organisasi disekat dengan kata ‘versus” yang bermakna lawan? mengapa tidak diganti dengan kata “dan”? padahal, kata penghubung tersebut mampu mendinginkan seperti situasi panas.  Organisasi intra dan organisasi ekstra seringkali dibenturkan karena masing-masing dari keduanya memiliki kepentingan dan ruang lingkup yang berbeda. Tentunya sebagai manusia memiliki subjektivitas dalam menilai suatu fenomena yang ada, perbedaan itu wajar Negara Indonesia pada akhirnya mencapai kemerdekaan meski memiliki heterogenitas dalam beberapa aspek. Maka, seyogyanya mahasiswa sebagai pribadi intelek mampu melihat sesuatu dengan melek dan pertimbangan objektif. Organisasi intra dan ekstra tentu berbeda, keduanya berjalan pada jalannya masing-masing. Namun, hakikat dari kedua organisasi tersebut sama, yakni; menciptakann kader pemimpin yang nantinya akan memimpin Indonesia menuju Indonesia tangguh dan tumbuh. Salam Mahasiswa! Salam Persma!

 

Penulis: Lilih Pangesturini

 

 

Share:

TERPOPULER