Kancah Pemikiran Konstruktif

Thursday, September 16, 2021

Mahasiswa UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Raih Juara Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional

           

Dok. LPM OBSESI

           Nia Nur Pratiwi (Program Studi Manajemen Pendidikan Islam) dan Asti Hayatri (Program Studi Tadris Bahasa Inggris) merupakan  Mahasiswi UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri   meraih  juara 2 dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah  ( LKTI ) Nasional Pemuda yang diselenggarakan oleh Yayasan Garuda Nusa, Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Perlombaan dilaksanakan pada tanggal 9-12 September 2021.

"Senang, alhamdulillah bisa mewakili UIN Saizu di acara nasional. Semoga nantinya bisa diteruskan oleh adik-adik UIN Saizu tercinta”  ujar Nia selaku peserta lomba LKTI.

           Tema yang di angkat oleh tim karya ilmiah UIN Saifudin Zuhri yaitu pemberdayaan masyarakat dengan judul Beras Analog Mocaf: Pemberdayaan Petani Singkong Berbasis Socioprener Melalui Skema Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 di Desa Pesangkalan, Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah”. Tema tersebut diusung karena banyaknya sumber daya alam singkong yang melimpah di Banjarnegara agar bisa diperdayakan oleh masyarakat menjadi beras sebagai substitusi pangan. Keunggulan beras analog mocaf dengan beras pada umumnya, beras analog mocaf lebih rendah gula sehingga cocok untuk orang-orang penderita diabetes yang bisa dijadikan alternatif untuk mengurangi makanan yang manis-manis.

           Tim karya ilmiah UIN Saifuddin Zuhri memulai penelitian pada awal juni sampai akhir juni 2021 dengan menggunakan metode kualitatif, deksriptif analitik secara mendalam. Dalam pengumpulan datanya  melakukan wawancara kepada petani, pengrajin, penggiat muka serta mengumpulkan dokumen-dokumen yang ada dengan tekhnik analisis data  triangulasi.

           Perlombaan lebih banyak diikuti oleh universitas non PTKIN. Namun, 2 universitas PTKIN mampu lolos sampai ke babak final yaitu dari UIN Prof KH Saifuddin Zuhri dan UIN Banten. Berawal dari 20 finalis yang masuk ke babak final, dan selanjutnya diseleksi lagi tersisa menjadi 13 finalis. Untuk juara ada juara 1, 2, 3 dan harapan 1, 2, 3.

            “Pada dasarnya memang penelitian diarahkan untuk diterbitkan ke jurnal entah itu jurnal pemberdayaan, jurnal social atau yang sejenisnya yang bisa disesuaikan dengan tampletnya untuk bisa submit” ujar bapak Wahyu Budi Antoro M. Sos selaku pembimbing karya ilmiah dari UIN Saizu.

           Dari kejuaran ini hendaknya digiatkan terus terkait kepenulisan khusunya untuk mahasiswa dalam bidang kepenulisan dan riset yang berdasarkan tridarma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.


Reporter : Intan Melly

Editor : Istiqomah

Share:

Monday, August 30, 2021

UIN SAIZU Gelar 2000 Dosis Vaksin Untuk Mahasiswa & Umum

 

Foto Dok. LPM OBSESI

Purwokerto – Sebanyak 2.000 dosis vaksin  Moderna  diberikan kepada Mahasiswa dan Masyarakat umum pada pelaksanaan program vaksinasi covid – 19 yang bertempat di Auditorium Universitas Islam  Negeri Prof. KH. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) pada Senin, (30/8).

Moh Roqib selaku Rektor UIN SAIZU menyampaikan bahwa kegiatan hari ini merupakan suatu titik gerakan kemanusiaan dengan kolaborasi antara Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN SAIZU bersama  TNI-Polri dalam rangka meningkatkan imunitas masyarakat agar tetap bertahan dalam melawan virus Covid-19. Ungkapan serupa juga disampaikan Kapolresta Banyumas Kombes Pol.  Lukmanul Hakim, beliau  mengatakan bahwa kegiatan vaksinasi ini bertujuan untuk memberikan kekebalan bagi kalangan produktif termasuk mahasiswa.

Foto Dok. LPM OBSESI

Moderna dipilih karena efektifitasnya yang mencapai 94,1% dengan ketersediaan yang cukup saat ini,  meskipun  mempunyai  efek samping tersendiri.

Peserta vaksinasi mahasiswa adalah mereka yang sudah lolos validasi data serta memiliki E-Tiket serta terdaftar dalam link yang disediakan oleh pihak DEMA, dengan syarat menunjukan Kartu Keluarga serta nomor telepon yang bisa dihubungi  serta screening di tempat. Namun, ada beberapa kasus mahasiswa sudah mendaftar melalui link yang tersedia, tetapi tidak mendapatkan  E-Tiket.

Terkait hal tersebut, Sahal selaku ketua DEMA mengatakan “Kita memliki dua belas personil tim kolsultasi dan pendataan. Hal ini memiliki kelemahan, yaitu ketika peserta itu sudah mendaftar di link yang pertama kemudian dia mendaftar lagi di link yang sama, maka datanya akan hilang, karena mendaftar lebih dari sekali, data itu akan menumpuk dan tidak masuk direkap, karena yang kita rekap itu satu data yang paling pertama yang ke dua dan seterusnya itu tidak masuk, disitu kendalanya” ujarnya.

Foto Dok. LPM OBSESI

Menurut Sahal, alasan lain dari kasus ini adalah terkait penyertaan nomor telepon, banyak mahasiswa yang menyertakan nomor WhatsApp bukan nomor ponsel aktif yang bisa dihubungi, karena informasi terkait vaksinasi ini melalui SMS bukan via WhatsApp, sehingga informasi akhirnya tidak sampai.

Vaksinasi yang disambut hangat antusias mahasiswa ini masih belum sepenuhnya berhasil karena masih ada beberapa mahasiswa yang gagal ikut vaksin.

Seperti yang diungkapkan oleh Amri, peserta yang berhasil melakukan vaksinasi “ Tadi aku deg-degan ya, serius, karena kemarin sempat vaksin ke UMP tapi aku ngga lulus screening, terus vaksin disini, dan disini Alhamdulillah baru tadi, perasaannya sekarang lega karena saya sudah menjadi manusia kuat, punya ini kartu vaksin, seperti itu. Ayo segera vaksin dong biar bisa kemana-mana lagi dengan tetap protokol kesehatan.”

Ungkapan lain, dari peserta yang belum berhasil melakukan vaksinasi covid-19, Fazrul mengatakan “Sebenernya cukup kecewa sih, karena ini udah momen yang langka banget kan, kita bisa vaksin moderna, apalagi di kampus sendiri. Cuma tadi aku juga lagi kurang fit juga. Sama dokternya tadi pas screening ternyata nggak dibolehin, yaa gimana lagi gitu ya.”

Dalam mengatasi peserta tertunda ini, Sahal megungkapkan  bahwa mereka akan ditampung terlebih dahulu dan akan tetap diperjuangkan untuk vaksin di kampus. Rektor UIN SAIZU juga menyatakan akan ada pendataan terkait hal tersebut dan jika sudah siap akan dilakukan vaksin gelombang berikutnya.

Reporter    : Iqbal & Irma

Editor    : Isti


Share:

Wednesday, August 25, 2021

Antusiasme Mahasiswa Baru dalam Pelaksanaan PBAK UIN SAIZU 2021


Photo Dok. LPM OBSESI

OBSESI – Hari terakhir Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2021 Universitas Islam Negeri Prof. K.H Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU)  Purwokerto (25/8) diisi dengan pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Unit Kegiatan Khusus (UKK), Partai Politik Mahasiswa dan Organisasi Kemahasiswaan.

PBAK 2021 kali ini menyungsung tema “Bumikan Bangsa Langitkan Budaya dalam Moderasi Beragama” dengan ini diharapkan mahasiswa baru UIN SAIZU dapat menjaga bangsa, budaya dan toleransi antar umat beragama. Saat ditemui crew LPM OBSESI, Rizki, ketua PBAK 2021 menuturkan bahwa jumlah panitia PBAK tahun ini berjumlah 165 orang yang terbagi menjadi 8 divisi dan diikuti oleh 3.272 peserta.

Photo Dok. LPM OBSESI

Beberapa kendala kerap ditemukan dalam proses pelaksanaan PBAK, hal ini dijelaskan langsung oleh Rizki “Kendala krusial mungkin miskomunikasi, terus yang paling urgent yaitu untuk budgeting masih dari temen-temen panitia, selain itu ada sedikit kendala 1-2 menit terhadap media, dikarenakan kabel yang copot tetapi itu bisa cepat diatasi oleh tim media sehingga tidak mengakibatkan kendala yang krusial”.

Walaupun diselenggarakan secara online, antusiasme peserta cukup luar biasa dalam mengikuti serangkaian acara yang sudah terstruktrur, walupun masih ada beberapa anak yang belum bisa terkondisikan untuk mengikuti kegiatan PBAK, hal ini terjadi karena terdapat beberapa anak yang meminta izin untuk mengikuti kegiatan vaksinasi. Hal tersebut dimaklumi oleh panitia PBAK, karena mengingat vaksinasi juga merupakan salah satu bentuk kegiatan dari pemerintah yang perlu didukung oleh masyarakat termasuk akademisi.

Imam Hanif, peserta PBAK UIN SAIZU 2021 prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) mengutarakan pesan dan kesannya terhadap PBAK 2021 saat dihubungi oleh crew ”kurang asik karena dilaksanakan secara online begitu pun banyak kendala yang dialami diantaranya yaitu masih tentang kendala sinyal yang umum terjadi dikalangan peserta PBAK, tidak ada keluhan karena tugas hanya meresume” ungkapnya.

Pada kesempatan lain Septi Muslimatul Khasanah, peserta PBAK dari prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES) juga mengungkapkan pesan dan kesannya terhadap kegiatan PBAK “Asik ngga garing walaupun online tetapi berkesan kendala yang dihadapi masih sama yaitu terkait kendala sinyal dan kurangnya pemahaman terhadap teknologi seperti penggunaan zoom yang  masih bingung” saran Septi untuk kedepannya bagi mahasiswa yang belum bisa dalam pengoperasian zoom mungkin dari panitia bisa membuatkan tutorial mengenai pemakaian zoom tersebut.

Pada akhir sesi wawancara, Rizki memberikan pesan kepada Calon Mahasiswa Baru UIN SAIZU “Semangat terus, semangat kuliah walaupun banyak halang rintang terkait pandemi, tetap fokus terhadap tujuan utama kuliah dan juga dengan PBAK ini mahasiswa dapat mengetahui apa saja yang ada di kampus dan bisa melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, pengabdian, dan penelitian” Untuk seluruh mahasiswa baru dan teman-teman yang lain, tidak usah hebat untuk memulai tapi memulailah untuk jadi hebat” Tutup Rizki.

Reporter    : Subhan & Nia

Editor    : Fazrul



Share:

Tuesday, August 24, 2021

APATIS BUKAN BERARTI TIDAK PEDULI "Bersuara Melalui Platform Media TikTok"

 

ilustrasi : Iqbal (Crew LPM OBSESI)

“Tolong banget lah pemerintah ini, buset dah! Kita mau makan ini, mau makan aja udah kaya, mau beli apaan tau, kaya beli narkoba ini, kita saut sautan sama pedagangnya di dalem”.

Demikian isi video TikTok dari akun yang bernama @tentararusia yang mengungkapkan keresahannya pada regulasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dibuat oleh pemerintah dan diunggah melalui platform media TikTok.

Dengan video berlatar didepan sebuah Warmindo (Warung Makanan Indomie) yang teralisnya setengah tertutup, konten tersebut mendapatkan atensi yang cukup banyak dan disukai oleh jutaan pengguna aplikasi TikTok. Walaupun mendapatkan atensi cukup banyak, konten kreator video tersebut menuturkan bahwa sebenarnya dia membuat konten hanya sebatas iseng akan tetapi memiliki tujuan untuk membantu banyak orang bersuara terutama pedagang yang mengalami dampak pemberlakuan dari PPKM tersebut.

Akun TikTok @tentararusia sendiri dipegang oleh seorang admin yang merupakan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Prof. KH. Saiffudin Zuhri Purwokerto (UIN SAIZU), mahasiswa dengan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) tersebut bernama Irham Hanif Abriyanto yang kerap disapa Icam, Icam sendiri merupakan seorang anak rantau asli Jakarta.

Saat dihubungi oleh crew OBSESI, Iaki-laki berambut ikal dan berkulit sawo matang ini menuturkan bahwa awal mula ia masuk dunia perkuliahan didasari oleh tatapan rasa kekecewaan dengan keadaan lingkungan sekitar. Ia merupakan seorang lulusan SMA melalui jalur Paket C. Disaat dia menyelesaikan Pendidikan paket C nya tersebut, kakak tertua dari tiga bersaudara ini pun, sambil berkerja untuk uang saku tambahan.

Hal tersebut dilakukan oleh Icam karena pada saat itu pria bertubuh agak tambun ini telah kehilangan bapaknya, hingga pada akhirnya ia harus belajar mandiri untuk mencukupi kebutuhannya. Setelah lulus dari ujian paket C nya, icam pun mengincar tiga kampus untuk melanjutkan studinya dan salah satunya yaitu UIN SAIZU. Icam menceritakan bahwa masuk di jurusan KPI didasari rasa sukanya terhadap dunia komunikasi dan juga penyiaran,

Karena satu nasehat yang paling icam ingat dari bapaknya adalah “lakukanlah apa yang kamu senangi”, dan hal itu pula lah yang menjadi awal perjalanan icam dalam mendapat atensi public melalui hal yang ia sukai.

Saat memasuki dunia perkuliahan, Icam akhirnya ditunjukan kepada realita kampus yang tidak pernah terbayangkan oleh dia pada awalnya, terutama dalam hal “politik” atau “pengkaderan”. Icam merasa kaget dengan sistem politik kampus yang benar-benar diluar ekpektasi dia selama ini, yang mana kakak tingkat berusaha membujuk para adik tingkatnya untuk masuk dalam golongannya dan akan didukung dalam seluruh kegiatan Lembaga Kemahsiswaan (LK) dikampus.

Icam menyayangkan dalam hal perpolitikan yang terlalu memaksa, seperti contohnya menunjuk seseorang untuk menduduki sebuah jabatan di LK tanpa didasari uji kompetensi akan tetapi hanya bermodalkan dukungan golongan partai.

Keresahan itupun ia salurkan dalam konten tiktoknya, konten tersebutpun menuai banyak respon dari netizen, para netizen banyak yang menyetujui pendapat Icam. Walaupun memang ada saja orang yang tidak senang dengan konten buatannya, tapi bagi Icam itu tidak masalah dan tidak mau terlalu dipermasalahkan. “Ya, kalau ada yang ga suka ya ga masalah, ini kan dari sudut pandang gua dan gua ya ga maksa orang lain mikirnya sama kayak gua, kalau sependapat ya monggo kalau ga sependapat pun ya silahkan, ngga terlalu mempersalahin lah.” Ujar Icam.

Bagi Icam jangan jadikan orang disekitar menjadi penghambat dalam pengekspresian diri sendiri, mahasiswa-mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi di kampus, sebenarnya mereka pun ikut dalam organisasi penggerak sosial di kampus, mereka bukan apatis tapi hanya merasa lelah dengan oknum-oknum yang sering membuat kecurang-kecurangan dalam dunia politik kampus.

Dengan kata lain, Icam mendukung anak-anak yang bersikap netral karena keadaan dan ingin menunjukan bahwa masih ada beberapa hal yang salah dalam dunia politik kampus dan harapan Icam kedepan adalah dengan adanya konten-konten kritikus yang ia buat, hal tersebut dapat mengubah pandangan orang-orang tentang LK di kampus, selain itu Icam mengharapkan bahwa anggota-anggota LK dapat memperbaiki sistem regulasi dengan lebih baik lagi, “Idealis lah ketika masih berada di kampus, karena jika sudah lulus, maka realitas lah yang akan mengubur idealisme itu” tutup Icam.

Penulis : Rian

Editor : Fazrul




Share:

Thursday, July 15, 2021

Aliansi Ahmad Yani Menggugat : Aksi Offline, Audiensi Online

 

Dok. Syaibani Ihza L

Purwokerto – Lebih dari lima puluh mahasiswa melakukan aksi di depan Universitas Islam Negeri Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) berupa tuntutan terkait pemotongan Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Kalender Akademik.( 15/ 7)

Aksi tersebut dinamakan Aliansi Ahmad Yani yang diberikan oleh massa. Seperti yang dijelaskan oleh Sahal bahwa latarbelakang aksi ini adalah untuk melakukan komunikasi dengan birokrat atas audensi yang dilakukan sebelumnya, setelah dikaji dan ditelaah bersama ternyata masih kurang. Sehingga muncullah Aliansi Ahmad Yani Menggugat Jilid II.

Ada sebelas tuntutan yang diajukan oleh massa, diantaranya yaitu  Semester Pendek,  pemotongan UKT 50% bagi mahasiswa aktif yang tidak memiliki tanggungan mata kuliah (hanya mengambil skripsi),  pemotongan UKT sebesar 25% untuk seluruh mahasiswa tanpa syarat,  perpanjangan pembayaran UKT,  pemerataan subsidi kuota dari kampus untuk seluruh mahasiswa, revisi kalender akademik, diadakannya beasiswa apresiasi untuk mahasiswa berprestasi,  pengadaan vaksin bagi seluruh mahasiswa,  transparansi alokasi UKT,  keterlibatan peran mahasiswa dalam merumuskan kebijakan, serta pembenahan sistem akademik kampus.

Sahal juga menjelaskan terkait tuntutan revisi kalender akademik  baginya tidak ada yang salah, hanya saja kurang tepat. Dia memaparkan  kalender akademik biasanya sudah terbit paling cepat tiga bulan dan  biasanya sudah muncul di laman Sistem Informasi Akademik (SISCA), sehingga mahasiswa memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan pembayaran. Namun yang terjadi, kalender akademik yang dimaksud justru terbit bulan juni lalu, itu pun saat sore setelah audiensi pertama bersama Senat Mahasiswa ( SEMA) dan para petinggi.

“Disitu, dijelaskan pembayaran itu dimulainya akhir Juli. Surat atau kalender akademik itu keluar bulan apa? Bulan kemarin, masih Juni. Satu bulan jangka waktu untuk membayar UKT mampu ga? Yaa makanya kita menuntut untuk revisi. Kemudian pendaftaran untuk mahasiswa baru diundur, tapi PBAK itu dilaksanakan Agustus”ujar Sahal.

Aksi tersebut tidak berlangsung lama dan berakhir pada pukul 09.20 WIB, kemudian  dilanjutkan audiensi secara online. “Memang awalnya kita itu tidak menginginkan adanya audiensi secara online, karena ya ketika online itu waktu pasti terbatas lah dan ketika online pun kita tidak bebas menyampaikan mungkin terkendala sinyal dan sebagainya dan mungkin nanti malah timbulnnya kesalahpahaman dan lain sebagainya gitu, tapi secara tiba-tiba birokrat itu mengirimkan surat. Surat itu berisi undangan kepada seluruh civitas akademik dan DEMA dan SEMA dari Universitas ataupun dari Fakultas kemudian perwakilan dari mahasiswa untuk mengikuti audiensi secara online melalui zoom ”jelas Sahal kepada reporter LPM Obsesi.

“Nah ketika audiensi itu dilaksanakan secara online dan tidak goal maka ya  kita akan  melaksanakan  aksi yang lebih besar lagi karena apa? yang namanya aksi ya memang ada yang tidak mendapatkan hasil dan ada juga  yang mendapatkan hasil tapi jelas kita punya tuntutan lah kalo kita sudah aksi tapi tuntutan kita tidak ada yang goal untuk apa kita aksi?” ungkap  Sahal terkait rencana kedepannya.

Tidak seperti aksi pada umunya yang dihadiri oleh banyak orang sampai memadati area, aksi pada hari ini terlihat hanya melibatkan beberapa orang saja. Menanggapi hal ini, Sahal menjelaskan karena masih dalam masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat  (PPKM), dia membatasi kouta hanya 40, namun pada kenyataannya yang datang lebih dari lima puluh  massa yang mengikuti aksi ini dan itu pun sesuai dengan protokol kesehatan.

           “Kalau untuk izin jelas susah, kita harus ke pihak kepolisian atau pihak kampus dulu. Ini pun sebenernya tidak dapat izin dari birokrat, tapi kami tetap memaksa. Kita tidak memutuskan secara sepihak, dan karena teman-teman lain ingin aksi ini ada, ya tetap kita aksi. Toh, kita melakukanya secara baik-baik” ujar Sahal.

Sumber : Aliansi Ahmad Yani Menggugat Jilid II


Reporter : Asti, Subhan, Iqbal

Editor : Istiqomah

Share:

TERPOPULER