Kancah Pemikiran Konstruktif

Saturday, February 13, 2021

Tingkatkan Eksistensi, UKM Silat Sukseskan Saizu Championship Pertama

 

Foto: Doc.OBSESI

Purwokerto– Sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing dan ajang silaturahmi atlet pecak silat. Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pecak silat IAIN Purowkerto yang tergabung dalam Ikatan Pecak Silat Indonesia (IPSI) menggelar Saizu Championship di Audititorium IAIN Purwokerto, Sabtu, 13/02.

“Dari berjalannya waktu kami memiliki target ajang ini bukan hanya dari lingkup IAIN Purwokerto saja tapi bisa tingkat Banyumas. Dari cara ini juga, supaya kawan SD, SMP, SMA bisa mengenal pecak silat yang ada di IAIN Purwokerto,” jelas Riko Agung Kurnia selaku Ketua Panitia.

Kejuaraan yang memiliki tema Kawal Sportivitas Cetak generasi Emas, diikuti oleh 39 peserta dari gabungan tiga perguruan yaitu Pagar Nusa, Tapak Suci dan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Pertandingan ini terdiri dari 16 pertandingan dan masing-masing terdiri dari tiga babak. Pembina pecak silat IAIN Purwokerto berserta enam perwakilan dari ketiga perguruan pecak silat turut hadir dan menjadi juri pada kegiatan tersebut.


Foto: Doc.OBSESI

Pertandingan yang melatih mental, disiplin dan sportifitas ini menuntut peserta untuk mengerahakan kemampuan terbaiknya. “Sebenarnya udah satu tahun gak latihan, jadi rada kaku waktu main dan kehilangan reflek. Kalo melihat pihak lawan cukup bagus, cuma dia masih gak berani keluar dari kandang. Jadi kita harus pandai-pandai melihat peluang,” ujar Setiaji dari Perguruan Tapak Suci.

Sebagai mahasiswa baru IAIN Purwokerto program studi Pendidikan Agama islam, Setiaji juga menambahkan untuk kedepannya kejuaran ini dapat terus dilaksanakan guna meningkatkan nilai saing atlet Pecak Silat IAIN Purwokerto dan meningkatkan eksistensi atlet Pecak Silat IAIN Purwokerto dalam melestarikan olahraga bela diri tradisional. “Diperlukannya penanaman nilai pada atlet dan harapannya semoga sarana dan prasarana pecak silat IAIN Purwokerto juga terpenuhi sehingga dapat mencetak atlet-atlet pecak silat yang mumpuni,” tambah Setiaja diakhir wawancaranya.


Reporter : Cita Najma Z.

Share:

Tuesday, February 9, 2021

PPM Laksanakan Pelantikan Lembaga Kemahasiswaan IAIN Purwokerto

 

Foto: Doc.OBSESI

Purwokerto- Setelah Pemilihan Mahasiswa telah selesai dilaksanakan di bulan Januari lalu, Panitia Pemilihan Mahasiswa (PPM) Institut Agama Islam Negeri Purwokerto melanjutkan  perannya dengan mengadakan acara pelantikan untuk seluruh Lembaga Kemahasiswaan (LK) di IAIN Purwokerto. Acara ini digelar seacara online dan offline. Pelaksanaan offline bertempat di gedung Auditorium IAIN Purwokerto dengan hanya dihadiri oleh perwakilan BPH dan Demis ditiap LK. Sedangkan anggota LK selain BPH mengadiri secara online via zoom (8/02).

            “…yang hadir itu sekitar 190 orang, terdiri dari BPH baru sama Demis itu salah satu, untuk sertijab, ini berbeda dengan sebelumnya karena terbagi menjadi dua yaitu offline dan online, untuk online itu pengurus yang lain.” Ungkap Sidik, selaku ketua PPM.

Foto: Doc.OBSESI

Jika di tahun-tahun sebelumnya pelantikan LK diadakan secara offline dan dihadiri oleh seluruh anggota Lembaga Kemahasiswaan (LK) dan juga demisonernya, maka kali ini Pelantikan diadakan secara online dan offline. Ini merupakan konsep baru yang dilaksanakan oleh PPM menimbang situasi dan kondisi pandemi covid-19 yang masih belum mereda.  Menyesuaikan kondisi tersebut, Sidik Adi Purnama selaku ketua PPM menjelaskan bahwa terdapat tiga konsep yang diusung dan dipaparkan kepada Wakil Rektor, yaitu :

1.     1. Semua pengurus hadir.

2.   2Membuat shift, dengan sebagian anggota menunggu di ruang kelas agar tidak menimbulkan kerumunan.

3.     3. Diwakili oleh BPH, dan anggota lain secara online.


Dari tiga konsep yang diajukan, Wakil Rektor III cenderung lebih menyetujui konsep ketiga yang dilihat lebih efektif, efisien, dan tetap menjaga prtokol kesehatan. Melalui Warek III, TIPD memfasilitasi perangkat-perangkat pendukung untuk pelantikan yang dilakukan secara online.

Foto: Doc.OBSESI

            “…kalau TIPD kemungkinan gratis ya karena fasilitas dari kampus, kemarin itu rektor hanya melimpahkan ke TIPD, tapi kita belum tau dari operatornya minta bayaran atau enggak…” Jelas Sidik saat ditemui reporter LPM OBSESI.

Berdasarkan hasil wawancara bersama pegawai TIPD yang membantu menjadi operator untuk pelantikkan secara online, ia menerangkan bahwa untuk semua fasilias yang digunakan disediakan oleh TIPD tanpa ada pungutan biaya apapun.

“.......... melihat sedang pandemi seperti ini pihak kampus membeli beberapa alat juga, salah satunya yang digunakan acara hari ini.” Jelas Fadil selaku pegawai TIPD.

Berdasarkan informasi yang didapat, rencana anggaran belanja untuk dana yang didapat PPM dibuat untuk konsep yang pertama, yaitu semua anggota LK yang akan dilantik datang secara langsung. Melihat kenyataannya bahwa PPM melakukan pelantikan yang dihadiri hanya perwakilan BPH dan Demisioner serta fasilitas untuk pleantikan online pun diberikan secara cuma-cuma oleh pihak kampus. Hal ini sontak menimbulkan pertanyan untuk beberapa pihak terkait pengalokasian dana.

Menanggapi isu tersebut Ketua PPM menjelaskan, “Kita kan ada pembetukan… dari kepanitiaan pasti pingin ada pembubaran. Nah itu niatnya mau dialokasikan ke pembubaran itu. Terus sebelumnya, panitia  butuh konsumsi juga. Contohnya pas debat aja… selama tiga hari panitia tidak mendapat snack, tapi satu hari memakan nasi.

 

Reporter : Nissa & Iqbal

Editor    : Arifa & Wardah

 

Share:

Monday, January 18, 2021

Pesta Demokrasi Daring, Strategi Branding Melengking

 

Ilustrasi: Media Indonesia

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto sedang ramai mempersiapkan pesta demokrasi via daring. Hal ini merupakan hal baru dan perdana yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan Mahasiswa (PPM) IAIN Purwokerto. Berbagai strategi baru mulai muncul dari masing-masing kubu, mulai dari pembuatan pamflet-pamflet yang berisi kata-kata bijak, dagelan, plesetan-plesetan kata yang secara halus mengajak pembaca melihat ataupun memilih dirinya maupun video pengenalan ala tik-tok yang berisi pengenalan calon-calon yang nantinya akan bersaing di Pemiluwa.

Strategi baru ini disebut sebagai strategi branding-politik, secara sederhana branding sendiri adalah “pemberian merek” terhadap suatu produk untuk memberikan kesan yang tidak bisa dilupakan dari ingatan konsumen. Brand bisa dikatakan identitas atau kepribadian yang mengidentifikasikan suatu produk, layanan maupun lembaga dalam bentuk nama, tanda, simbol, desain maupun kombinasi diantara semua itu. Sedangkan dalam panggung politik, branding sering kali diartikan sebagai tindakan pencitraan atau pembangunan image terhadap si kandidat terkait karekter personal si kandidat.

IAIN Purwokerto sudah melewati masa ini dimana sebelum hari kampanye, branding sudah berkeliaran hebat di media sosial terutama dijumpai di WhatsApp, karena WhatsApp salah satu media yang lebih private dan lebih personal.

Melihat hal tersebut, Jalbi Hasanul Fikri, selaku Ketua Panitia Pengawas Pemiluwa (Panwasluwa) menganggap sebagai sesuatu yang biasa saja dan bukanlah pelanggaran.

“Sebenarnya gini, sempat kemarin ada gugatan yang masuk terkait hal tersebut. Kembali ke definisi kampanye yang tadi saya jelaskan, ya. Bagi saya itu bukan termasuk pelanggaran. Karena saya juga melihat langsung di WhatsApp saya, itu termasuk kategori branding. Branding setiap individu. Jadi kalau saya melarang hal itu, sama saja saya melanggar hak seseorang untuk berekspresi. Nah di dalam Undang-undang pun sudah dijelaskan meskipun disitu ada kategori gambar, gambar yang seperti apa? Gambar yang mengandung unsur kampanye pastinya. Nah di dalam (poster) itu, saya tidak menangkap tuh apasih sebenarnya kampanye, kampanye seperti apa. Yang saya lihat disitu hanya ada quotes-quotes, nasehat-nasehat seolah mereka adalah tetangga Mario Teguh. Karena kalau misal disini itu, kita (PPM dan Panwasluwa) hanya membatasi bukan melarang,” ujarnya kepada Reporter LPM OBSESI saat ditemui di Sekretariat PPM (17/01)

Menurut Panwasluwa, berkeliarannya pamflet-pamflet yang berisi gambar masing-masing kandidat bukanlah sebuah pelanggaran, karena hal tersebut masih dalam kategori branding yang justru ketika Panwasluwa menganggap hal tersebut merupakan pelanggaran, sama halnya Panwasluwa dan PPM lah yang melakukan pelanggaran karena secara tidak langsung mereka telah melanggar Hak Asasi Manusia setiap orang.

Meskipun  tidak sedikit dari mereka (pasangan calon) yang menyebarkan pamflet-pamflet maupun video, bergerak bersamaan secara masif dan serentak sebelum masa kampanye dilangsungkan, dan ada beberapa yang bahkan sudah menyebutkan nomor urut paslonnya dan ajakan untuk memilih dengan bahasa plesetan. Dengan hal semacam itu, PPM dan Panwas tetap bersikukuh menganggap  sebagai branding, kecuali jika kandidat yang terkait menggunakan kata-kata yang jelas mengajak orang lain untuk memilihnya itu yang bisa dikatakan sebagai pelanggaran.

“Tidak apa-apa. Karena tidak termasuk dalam pelanggaran. Dan itu pun saya lihat dan saya diskusikan dengan teman-teman, bahwa itu branding. Kalau misal itu dikategorikan pelanggaran, semua calon masuk dalam pelanggaran tersebut. kecuali didalamnya ada ajakan, misal “pilih  satu, saya adalah generasi penerus bangsa” gitu,” jelasnya.

Penyebaran pamflet-pamflet maupun video masing-masing kandidat membawa respon pula untuk mahasiswa IAIN Purwokerto, salah satunya Syarif Hidayat yang merasa bahwa penyebaran pamflet-pamflet yang ada di WhatsApp sangat meresahkan, mengganggu karena merupakan bagian dari kampanye sebelum waktunya.

“Sebenarnya secara tidak langsung itu adalah bagian dari kampanye, meskipun tidak ada atribut-atribut partai dan sejenisnya. Namun pamflet yang tersebar di status WA yang katanya berisi quotes itu menampilkan wajah-wajah dari calon ketua ataupun calon wakil ketua LK yang mendaftar,” Jelas Syarif kepada salah satu tim reporter LPM OBSESI via WhatsApp (17/01).

 Menurut Syarif jika pamflet yang bertebaran di WhatsApp benar-benar hanya sekadar quotes, rasanya hanya cukup dengan nama kandidat saja tidak perlu dibubuhi foto dari masing-masing kandidat karena hal itu jelas tidak mengurangi esensi dari quotes itu sendiri. Syarif juga menyebutkan bahwa brending yang dibuat oleh salah satu kandidat dengan menggunakan viedo tik tok itu polanya sama seperti yang dilakukan paslon Lembaga Kemahasiswaan di kampus lain yang ada di Purwokerto.

“Tapi sepertinya hal tersebut lumrah-lumrah saja bagi PPM dan Panwaslu, ya mau gimana lagi”. ungkap Syarif yang merasa kecewa dengan pemiluwa tahun ini.


Reporter : Wardah Munfaati dan Aulia Insan

Share:

Saturday, January 9, 2021

TABLOID EDISI 1 VOL XX 2020 : "Polemik Era Pandemi"

 Hallo Pembaca Setia OBSESIANA.COM

Salam Persma!!!

Kali ini LPM OBSESI IAIN Purwokerto hadir dengan Karya terbaru Tabloid Point Edisi 1 Vol XX 2020 dengan tema “POLEMIK ERA PANDEMI".

Surat Edaran yang dikeluarkan oleh kampus perihal diadakannya Work From Home (WFH) dan Kelas Online tidak serta-merta membuat kami Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) OBSESI IAIN Purwokerto berhenti untuk menyuguhkan topik-topik terhangat era pandemi ini.

Dengan harapan kita semua senantiasa membudidayakan dan membudayakan gemar membaca walau pandemi masih berlangsung. Dan jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan.

Terimakasih...

Link Download PDF >>> CLICK HERE



Share:

Tuesday, January 5, 2021

Mendekati Pemiluwa, PPM IAIN Purwokerto Adakan Sosialisasi

 

Foto: Doc.OBSESI

Panitia Pemilihan Mahasiswa (PPM) IAIN Purwokerto kembali menggelar Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemiluwa) tahun ini. Berdasarkan timeline yang dibagikan oleh PPM melalui akun instagram (@ppmiainpwt_2021), rangkain acara Pemiluwa hingga pelantikan akan dimulai pada 04 Januari-04 Februari 2021. Seperti tahun sebelumnya, Pemiluwa diadakan untuk memilih Partai Politik Mahasiswa (Parpolma) serta Ketua dan Wakil Ketua Lembaga Kemahasiswaan (LK) Eksekutif.

Pada sosialisasi kegiatan Pemiluwa yang diselenggarakan oleh PPM pada Senin (04/01) secara daring yang dihadiri oleh Ketua UKK dan UKM, Ketua Komunitas, serta Kosma menggunakan media zoom. Sedangkan sosialisasi secara luring bertempat di Auditorium Utama IAIN Purwokerto yang dihadiri oleh Ketua Partai Se-IAIN Purwokerto dan Ketua Lembaga Kemahasiswaan Se-IAIN Purwokerto. PPM menjabarkan terkait timeline Pemilwa serta pemberkasan yang diperlukan, pembacaan Surat Keputusan (SK), pembacaan regulasi. Untuk teknis pencoblosan, dari PPM masih mematangkan konsep dan akan diumumkan disosialisasi selanjutnya.

Sosialisasi dimulai pada pukul 08.55 WIB, meskipun di Undangan, jadwal sosialisasi dimulai pada pukul 07.30 WIB. Menurut Ketua PPM, Sidik Adi Purnama, hal tersebut disebabkan karena menunggu tamu undangan di Auditorium memenuhi jumlah minimum kursi yang sudah disediakan.

“Dari panitia, sudah siap semenjak jam tujuh. Kalaupun setengah delapan atau jam delapan, kita mulai, tetapi peserta dan tamu undangan belum datang semua, konsekuensinya pemahaman kalian. Kami dari panitia menunggu tamu undangan. Bukan menyalahkan, tapi karena tamu undangan tidak datang tepat waktu. Kalaupun tepat waktu ya silakan langsung duduk. Kami pun mempertimbangkan, kalau tamu undangan yang hadir setidaknya 50%. Kenapa link baru dibagikan untuk tamu undangan via daring, agar mereka menunggu, bukan melihat acara kami yang mulur,” jelasnya.

Foto: Doc.OBSESI

Acara pembukaan berlangsung semestinya, dari sambutan hingga penutup, dilanjutkan pada acara inti yang merupakan topik utama sosialisasi ini. Diawali dengan pembacaan SK yang telah ditetapkan pada hari Jumat 25 Desember 2020 serta pemberitahuan terkait pemberkasan harus dikirim dalam dua bentuk file yaitu softfile dan hardfile yang harus dikirimkan ke sekre PPM tepatnya di ruangan A5 bagi hardfile.

Salah satu peserta daring, M. Alfi Alkautsar menyayangkan sosialisasi yang terbagi menjadi dua, menurutnya, hal tersebut meurpakan salah satu bentuk diskriminasi.

“Menurutku ya sosialisasi pemiluwa tahun ini hampir sama dengan tahun kemarin bahkan bisa dikatakan lebih buruk begitu, kenapa karna di sistem sosialisasi tahun ini itu terbagi 2 yaitu offline dan online dan menurut saya itu merupakan diskriminasi. Iya saya paham kalo itu untuk mematahui Protokol kesehatan, tetapi tentunya juga panitia PPM harus memperhatikan agar tujuan sosialisasi itu tersampaikan dengan baik. Selain itu juga sosialisasi ini menurut saya, membatasi hak untuk berbicara sebab dalam sosialisasi ini banyak yang ingin berpendapat namun terhalang oleh beberapa hal seperti signal, kuota dan sebagainya ini untuk temen - temen yg online,” jelasnya kepada reporter LPM Obsesi via whatsApp.

Selama beberapa jam, baik peserta offline maupun online disuguhi pembacaan timeline, SK, regulasi, syarat-syarat serta gambaran samar teknis pemilihan secara lisan, tanpa ada sedikit pun tampilan visual berupa share screen yang menurut beberapa peserta daring maupun luring sebagai suatu hal penting dalam sosialisasi terutama  bagi mereka yang mengikuti sosialisasi secara daring. Saat dibuka sesi tanya jawab, hal itu menjadi pertanyaan sebagian peserta mengenai apa yang bisa dipahami dengan sosialisasi seperti itu?

“Kami sengaja tidak menampilkannya, karena ditakutkan peserta fokusnya terbagi, antara tampilan visual dan apa yang dijelaskan,  jadi kami harap dengan cara ini, perhatian peserta menjadi terfokus dengan apa yang disampaikan,”   jelas Sidik, sewaktu ditanyai terkait jalannya sosialisasi.

Namun, meski sudah dijelaskan demikian, nampak gelombang pertanyaan terkait pemahaman muncul ditiap peserta yang mengangkat tangan. Hal itu memicu salah satu anggota SEMA, Umam angkat bicara :

“Daritadi bermasalah sekitar pemahaman, kalau kita itu pernah belajar filsafat dan berbicara tentang pemahaman itu adalah kebenaran yang subjektif, masing-masing orang itu mempunyai kebenaran dan pemahaman tingkatnya sendiri-sendiri, jadi ketika pemahaman itu diumumkan  ataupun menjadi kebenaran objektif itu ngga bakal bisa, sampai kiamat H-2 itu ngga bakal bisa, karena apa ketika ada visualisasi atau sharescreen apakah pemahaman itu mewakili semua orang, belum tentu karena apa masalah pemahaman itu adalah sifat objektif semua orang,” imbuh Umam usai salah satu peserta menyanggah terkait masih banyak yang belum paham dengan sosisalisasi tersebut.

Seperti tahun sebelumnya, sosialiasi berbagai macam rangkaian Pemilwa, PPM mengandalkan akun sosial media mereka berupa Instagram dan Facebook.

Selain itu, Alfi berharap ajang pemilwa kali ini tidak hanya menjadi ajang pesta sebagian kaum, melainkan pesta demokrasi semua mahasiswa IAIN.

“ya paling membuat mahasiswa lebih peduli lagi terkait demokrasi dan perpolitikan yang ada di kampus begitu, untuk menciptakan demokrasi yang lebih baik. Kemudian juga diharapkan acara pemiluwa ini bukan hanya ajang pesta dari sebagian kaum saja, tp ini adalah pesta seluruh mahasiswa di IAIN sendiri,” harapnya.

 

Reporter: Chairunnisa dan M. Iqbal

Editor: Aulia Insan.

Share:

TERPOPULER