March 2018

Polemik Sistem Akademik

ilustrasi : Sri roijah

Sistem Informasi Akademik (SISCA) pada dasarnya merupakan sebuah sistem yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan akademik. Yang mana, layanan pendidikan bisa terkomputerisasi dengan baik. Baik untuk meningkatkan kinerja, kualitas pelayanan, dan pengolahan data nilai mahasiswa, mata kuliah, dosen, serta administrasi yang sifatnya masih manual untuk dikerjakan dengan bantuan software agar mampu mengefektifkan waktu dan mengurangi biaya operasional. Selain itu manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya Sistem Informasi Akademik (SISCA) adalah kemudahan bagi mahasiswa untuk memperoleh informasi tanpa harus melakukan interaksi langsung dengan bagian administrasi karena informasi tersebut dapat diperoleh dengan melakukan pencarian data pada sistem yang di pakai.

Namun, pada kenyataannya Sistem Informasi Akademik (SISCA) IAIN Purwokerto masih belum bisa berfungsi secara maksimal. Terbukti, masih banyak mahasiswa yang mengeluh, kelimpungan, dan merasakan akan carut marutnya Sistem Informasi Akademiknya. “Sebenernya, kasihan temen-temen yang berjuang dari pagi, siang, malem buat akses website sisca. Sekalipun bisa, lemot banget, karena banyak yang mengakses website soalnya berbarengan dengan ngisi KRS, KKN, dan daftar Wisuda.“ ungkap Zuhal Qolbi salah satu mahasiswa IAIN Purwokerto. Dia juga menambahkan, sebaiknya sistem segera di perbaiki, agar tidak seperti ini terus dari tahun ke tahun.

Di mulai saat tidak kondusifnya proses pendaftaran KKN secara online, yang mana tidak sesuai dengan informasi yang sudah di sebar luaskan. Bahwa, pendaftaran KKN secara online tertulis dibuka pada tanggal 29 Januari 2018 pukul 08.00 WIB, namun sistem baru bisa diakses jam 14.00 WIB. Dan itupun tidak berjalan dengan lancar. Sisca lemot pada saat itu, baik untuk pendaftaran KKN secara online, pengisian KRS, dan pendaftaran wisuda. Pasalnya, hanya ada satu server untuk menampung data itu semua.
Agus Sriyanto, selaku kepala Unit Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (TIPD) menjelaskan terkait molornya waktu pendaftaran KKN secara online itu dikarenakan ada perubahan sistem yang berbeda dari sebelumnya yang mana harus diubah. “Pendaftaran KKN secara online kemarin itu sampai harus diundur, karena ada perubahan sistem yang harus diubah, dimana ada perubahan persyaratan dan sistem input terkait nilai BTA PPI yang dulu hanya menggunakan keterangan lulus dan tidak, sekarang LPPM menghendaki bahwa 4 nilai komponennya harus diinput. Dan untuk mengubah sistemnya itu butuh waktu. Sebenernya paginya itu sudah siap, cuma harus testing ulang sistem terlebih dahulu untuk memvalidasi.” jelas Agus.

Agus menambahkan, selain karena perubahan sistem tersebut, di satu sisi sarana dan prasarana yang ada itu terbatas. Terlebih tentang server yang ada, server yang dipakai SISCA sejak tahun 2010 sampai sekarang belum pernah mengalami peremajaan server atau pembaharuan. Dan itu menjadi kendala yang dirasakan oleh TIPD dan berimbas kepada carut marutnya SISCA. “Bukannya kita tidak mengajukan, ya kami mengajukan. Cuma tahun ini saja itu pengadaan sarana prasarana IAIN hanya 480 juta. Itu untuk satu IAIN. Sedangkan kalau kita mau beli server satu gitu, yang bagus saja itu diatas 350 juta. Dan kamipun berharap kedepannya sistemnya ya lancar, yang jelas ada beberapa faktor yang harus terpenuhi yaitu sarana prasarana, SDM, terus kemudian insfrastruktur, pembiasaan bagaimana kita sudah terbiasa hal-hal yang online ini, dan kesadaran mau memakai.” jelas Agus. (Ay)

Penulis & reporter : Triasih

lilin membentuk logo 60+  yang berarti aksi ini bukan hanya 60 menit saja namun diikuti dengan perubahan gaya hidup yang ramah  lingkungan. ( foto: Sri roijah)
EARTH HOUR PURWOKERTO GELAR AKSI MEMATIKAN LAMPU SELAMA 60 MENIT

Purwokerto, Sabtu (24/3) dunia melakukan aksi serentak memperingati earth hour mulai jam 20.30 sampai 21.30 waktu setempat. Mematikan lampu selama 60 menit menjadi simbol yang menunjukan solidaritas untuk bumi.

WWF (
World Wildlife Found) menyebut planet bumi sedang krisis. Kerusakan bumi berjalan begitu cepat. Di Purwokerto, sekelompok orang yang tergabung dalam Earth Hour Purwokerto ini menggelar berbagai macam acara seperti kampanye Earth Hour, aksi bersih-bersih alun-alun dan panggung aksi yang diisi penampilan dari berbagai komunitas di Purwokerto dan sekitar.

penampilan tari saman dari komunitas.

"Kita mengingatkan masyarakat tentang hemat energi dan peduli akan perubahan lingkungan" tutur Yanuar Agung Firmansyah selaku ketua panitia. "Masyarakat yang mau ikut berpartisipasi di Earth Hour ini tidak harus datang ke alun-alun, tapu bisa di rumah dengan mematikan alat-alat eletronik yang tidak terpakai" tambahnya.


Earth Hour Purwokerto sendiri sebelumya mengadakan sosialisasi tentang lingkungan ke beberapa sekolah juga aksi gerakan pungut sampah di sungai bertajuk "mujair" mungut junk di air di sekitar sungai kranji pada Februari lalu.

Penulis : Anisa maulina, Nurul avivah
Reporter : Sri roijah

Editor : Triasih



Menilik Kembali, Curug Cipendok yang Masih  Keruh

jalan menuju curug yang kotor tertutup lumpur . (foto: Rizki rama)


Pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) oleh  PT. Sejahtera Alam Energy (SAE)  di lereng selatan gunung Slamet  masih menjadi polemik hingga saat ini. Berbagai aksi penolakan dari masyarakat  belum membuahkan hasil yang optimal. keresahan-keresahan dari dampak proyek tersebut terus dirasakan oleh warga.

Keadaan Curug Cipendok pada hari selasa (27/3) terlihat keruh, jalanan menuju curug licin sebab tertutup lumpur, daun-daun tertutup lumpur yang terkandung dalam air Curug. Curug yang berada di Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas selama beberapa bulan kebelakang mengalami kerusakan akibat dampak dari eksplorasi proyek PLTPB.

Aliran air Curug Cipendok berasal dari  pertemuan dua sungai di bagian hulu, yaitu antara sungai Tepus dan sungai Prukut yang mengalir ke hilir. Sungai Tepus merupakan sungai yang berdekatan dengan proyek PLTPB. Sehingga hasil dari eksplorasi proyek PLTPB langsung mengalir ke Curug Cipendok. Hal tersebut yang menyebabkan air dari Curug Cipendok keruh karena tercampur oleh lumpur serta tanah. Eksplorasi proyek PLTPB juga menyebabkan longsoran tanah yang berimbas ke curug Cipendok. Akibat longsoran tersebut, banyak material-material tanah dan lumpur yang menimbun area Curug. Seperti yang dikatakan oleh salah satu petugas pengelola Curug Cipendok, Rasih (37) “Sebagian ada longsoran dari tebing, longsoran tersebut dampaknya juga dari proyek PT itu” katanya, Selasa (27/3).

Menurut  salah satu penjaga curug Cipendok, Atmowijoyo atau Ahmad Jangkung (64) ketika ditemui di sekitar area Curug mengatakan bahwa ketika musim kemarau, air Curug terkadang mengalir jernih seperti biasanya  meskipun jika musim hujan tiba, warna air akan kembali menjadi coklat dan keruh akibat banjir dari hulu. Ia juga menjelaskan, pengaruh dari keruhnya air juga mengakibatkan pengunjung yang datang menjadi enggan untuk turun dan bermain di sekitar aliran Curug. Bahkan sudah tidak ada lagi pengunjung yang mandi di bawah air terjun. Karena keadaan air yang sudah kotor dan bebatuan yang sudah tertimbun oleh longsoran tanah  juga bau tak sedap  yang ditimbulkan akibat terkontaminasi dengan lumpur dan tanah. Percikan air yang jatuh juga menyebabkan sebagian tumbuhan disekitar menjadi berwarna coklat. “ Sebagian dari tumbuhan yang ada di sini pada mati karena tertutupi oleh debu, dulunya hijau semua” tambah  Atmo.
(foto: Rizki rama)

Bukan hanya berdampak pada keruhnya air saja, Rasih juga mengeluhkan semenjak air keruh pengunjung menurun drastis hingga 60% dan yang pengunjung aktif hanya 40%.  Jika sebelumnya pengunjung  perharinya mencapai diatas 80 pengunjung, tetapi setelah perubahan air yang terjadi akibat proyek PLTPB pengunjung paling banyak hanya sekitar 50 orang. Sedangkan pada hari libur sebelumnya pendapatan mencapai sekitar 500ribu, namun untuk sekarang hari libur ataupun tanggal merah pendapatan menjadi menurun. “ Minggu kemarin hanya sekitar 73ribu, bahkan waktu tanggal merah sangat sepi” tambahnya.

Jumlah penurunan pengunjung terutama disebabkan karena keindahan alam sekitar curug yang sudah tidak sedap dipandang. Dan juga fasilitas yang ada hampir semuanya kotor, seperti jalanan menuju air terjun menjadi licin karena banyak lumpur yang menempel. Hal tersebut juga di keluhnya oleh pengunjung asal Cilacap, Indra Setiawan “Saya kira air terjun itu sangat indah sekali, tapi karena ada penambangan PLTPB semuanya jadi kotor. Jadi wisatawan untuk turun ke bawah juga mikir-mikir ya” ucapnya.

Keluhan juga dirasakan oleh salah satu pedagang yang sudah berjualan di kawasan Curug Cipendok sejak  tahun 2001. Perubahan drastis setelah keruhnya air terjun sangat dirasakan oleh  Atun (40). Dulu sebelum air keruh, ia membuka kiosnya bisa sampai pukul 20.00 WIB tetapi sekarang hanya sampai sekitar pukul 14.00 WIB. Karena jumlah pengunjung yang semakin berkurang. Bahkan pernah daganganya tidak terjual satupun. Terkadang satu hari hanya ada sepuluh orang yang datang ke Curug, itu pun hanya sampai di depan kios-kios belum sampai ke Curug kemudian kembali lagi. Ia juga menjelaskan bahwa pendapatan yang didapatpun menjadi menurun, yang sebelumnya bisa mencapai 600ribu per hari, sekarang hanya 100ribu perhari bahkan kurang dari itu. “Kalo seperti ini terus, mungkin saya mending kembali bekerja di majikan saya saja” tuturnya.

Rasih menyatakan sebenarnya pihak manejemen dari objek wisata Curug Cipendok sudah mengadukan keluhan  mengenai fasilitas yang rusak dan kotor dari dampak yang ditimbulkan dari proyek PLTPB. Respon yang didapatkan dari PT tersebut adalah dengan mengirimkan tenaga kerja untuk membersihkan area Curug Cipendok yang terkena lumpur setiap satu bulan sekali. Ia mengatakan pihak menejemen PT. SAE sudah menandatangani surat untuk dana ganti rugi wisata Curug Cipendok. Dana ganti rugi tersebut berkisar kurang lebih seratus dua puluh juta yang diberikan dalam bentuk material. Rasih juga menjelaskan kalau beberapa waktu yang lalu realisasi dari ganti rugi tersebut sempat dibelit-belit dan dari pihak manajemen PT SAE memberikan banyak alasan. “Tapi alhamdulillah, kemarin kata pihak pengelola dana sudah keluar segitu, itu sih katanya saya belum tau pasti” ucapnya.

Harapan Rasih terkait proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) agar  proyek tersebut segera terselesaikan dan tidak menimbulkan bencana alam lain. “Karena diibaratkan kita terjebur, kita sudah sangat-sangat basah” tambahnya.

Penulis : Anisa maulina, Riza hanifah
Reporter : Retno asih, khafsoh nur alifa

Editor  : Triasih 


Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by fpm. Powered by Blogger.