April 2018

lovethispic.com

Aku berkaca
Pada embun yang selalu menyelimuti pagi hari,
tanpa pernah mengeluh
Aku berkaca
Pada air yang meluap setiap naik kuali,
tanpa pernah berkata tolong
Aku berkaca
Pada seekor keledai yang meringkik dengan beban berat dipunggungnya,
tanpa pernah berkata aku lelah
Aku berkaca       
Pada matahari yang terus bergelantung di atas sana
tanpa pernah berkata lepaskan aku
Aku bahkan berkaca
Pada seekor semut yang selalu berteriak Kerja! Kerja! Kerja!
Rembulan selalu mengingatkanku untuk berpikir
Kerjapan si kejora menyanjungku setiap kali aku jatuh dan terseok
Bahkan air yang mengalir
menuntutku untuk bangkit, bangkit dan bangkit
Aku selalu berkaca
Aku berkaca tanpa pernah bercermin

2016



 Aisyah khoirunisa,  Mahasisiwa  4 Pendidikan Agama Islam (PAI) C  IAIN Purwokerto

IAIN Purwokerto menjadi juara umum IPPBMM VII 2018.
foto : Sri

IPPBMM VII telah berakhir dengan dilaksanakannya penutupan pada Jum’at (27/4) di Auditorium utama IAIN Purwokerto. Penyerahan medali oleh Ketua Panitia kepada Rektor IAIN Purwokerto ditandai sebagai bergilirnya posisi juara umum yang sebelumnya diraih oleh IAIN Tulungagung.

Acara penutupan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dilanjutkan dengan sesi penyerahan medali kepada para pemenang disetiap cabang lomba. IAIN Purwokerto memperoleh medali terbanyak dengan jumlah keseluruhan sebanyak 18 medali (10 emas, 4 perak, 4 perunggu). Disusul oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang memperoleh 10 medali (4 emas, 5 perak, 1 perunggu). Di posisi selanjutnya ditempati IAIN Tulungagung dengan jumlah 9 medali (4 emas, 4 perak, 1 perunggu).

Luthfi Hamidi, selaku Rektor IAIN Purwokerto mengungkapkan rasa syukurnya atas prestasi yang sudah diraih. Hal tersebut diungkapannya saat sesi sambutan di akhir selepas penyerahan piala bergilir dan piala juara umum. Ucapan maaf atas segala kekurangan dan fasilitas yang tersedia tidak lupa pula disampaikan.

Sebanyak 31 kontingen dari berbagai PTKIN di seluruh Indonesia telah meramaikan pagelaran IPPBMM VII ini. Salah satunya UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang meraih posisi juara umum keempat. Ade Lela kontingen dari UIN Sunan Gunung Djati peraih juara 3 di cabang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) mengungkapkan harapanya IPPBMM tahun 2020 semakin lebih baik, yang diperkirakan akan dilaksanakan di UIN Sunan Gunung Djati itu sendiri. Selain itu, dalam sarannya perlu adanya peningkatan dari jumlah Liaison Officer (LO) yang mendampingi tiap kontingen. Seharusnya ada LO dari setiap cabang lomba yang mendampingi sehingga peserta tidak kewalahan. Dalam perjalanannya, peserta harus turun tangan sendiri untuk Technical Meeting (TM). (Okt/Sri/Windha)

lomba Musabaqah Qira'atul Qutub.

Musabaqah Qira’atul Kutub (MQK) tingkat nasional dalam IPPBMM VII telah dilaksanakan. Bertempat di IAIN Purwokerto pada (24-25/4), kejuaraan ini menghasilkan UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai juara satu dalam kategori putra dan UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten untuk putri.

Dalam IPPBMM VII ini MSQ diikuti 19 PTKIN dariseluruh Indonesia. Perlombaan ini berlangsung dua hari. Satu hari pertama diperuntukkan untuk putra yang diikuti juara dua berasal dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Serta tuan rumah IAIN Purwokerto sebagai posisi ketiga. Sedangkan di hari kedua, pemenang tingkat dua dan tiga putrid diisi oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan IAIN Kediri.

MQK adalah perlombaan yang berfokus pada kitab Fathul Qorib sebagai penilaian. Peserta harus membacanya dengan Bahasa Arab beserta pemaknaan dengan mufrodat yang baik. Selainitu, kaidah nahwu sharaf pun menjadi kriteria selanjutnya untuk para juri memberkan nilai. Penjelasan maksud kalimat dari bab yang dibaca dalam Bahasa Indonesia ditambah adanya Tanya jawab menjadi pelengkap nilai yang tidak kalah penting.

Terdapat tiga juri yang menentukan hasil lomba. Diantaranya dari IAIN Purwokerto, Pesantren Al Makmur Sokaraja dan UIN Malang. Menurut Ainul Yaqin selaku penanggung jawab lomba, meskipun terdata 19 PTKIN tetapi tidak seluruhnya mengirimkan perwakilan untuk putra dan putri. Ada beberapa PTKIN yang hanya mengirimkan untuk putra atau putri saja. Dengan data yang lebih rinci, 17 PTKIN untuk masing-masing kategori. Dalam urutannya, perlombaan MQK ini adalah yang kedua dalam tingkat nasional.

Nur Azkadari UIN Sunan Kalijaga yang menjadi harapan satu mengatakan, untuk perlombaan MQK membutuhkan waktu satu bulan dalam pelatihan. Nur Azka yang juga pernah menjadi peserta dalam MQK nasional sebelumnya. Saat berlangsungnya perlombaan, ada  perbedaan dari segi penyampaian nilai yang tidak langsung disampaikan oleh dewan juri kepada panitia melalui layar lcd. Hal itu dikarenakan sarana yang belumada, sehingga penjurian belum bersifat transparan.

Ahmad Sulaiman selaku pelatih dari AbdaBilah dari IAIN Purwokerto pun mengatakan, kurang lebih dua bulan anak didiknya berlatih agar bias mantap mengikuti MQK ini. Karena menurutnya, peserta lain yang mengikuti mempunyai kualitas yang bagus pula. Karena rasa optimis dan kemantapan AbdaBilah, membuatnya mampu meraih kategori juara ketiga.

Ahmad Sulaiman berharap bahwa sosialisasi IPPBMM dari IAIN Purwokerto khususnya, selanjutnya dapat kembali diperluas dalam hal publikasi agar mahasiswa lain yang mumpuni dapat mengikuti lomba.  (Nur A Shabira)



Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by fpm. Powered by Blogger.