Kancah Pemikiran Konstruktif

Thursday, April 12, 2018

Bagaimana Keadaan Pers Mahasiswa Saat Ini ?

sumber gambar: gospelworldview.wordpress.com
Sejarah Pers Mahasiswa

Mahasiswa merupakan sebutan bagi orang yang sedang menempuh  pendidikan di perguruan inggi. Mahasiswa digadang-gadang  sebagai calon intektual dan cendekiawan muda  dalam masyarakat. Masa depan suatu negara ditentukan oleh para pemuda penerus bangsa yang salah satunya adalah mahasiswa. Mahasiswa memiliki peranan penting dalam kemajuan bangsa. Hal ini dikarenakan mahasiswa memiliki tugas dan peran diantaranya sebagai Agen Perubahan, Kontrol Sosial, memiliki Kekuatan Moral tinggi. Kekritisan dalam menyikapi persoalan-persoalan di masyarakat juga menjadi tugas yang diemban oleh seorang mahasiswa.

Dalam sejarah, pemberitaan-pemberitaan yang ada di masa perkembangan bangsa Indonesia tak lepas dari peran mahasiswa. Mahasiswa dengan semangat perjuangan ikut andil dalam memenangkan kemerdekaan. Salah satu bukti perjuangan tersebut dibuktikan dengan kehadiran Pers Mahasiswa (Persma). Pers mahasiswal lahir dari rahim perjuangan para mahasiswa.  Pers mahasiswa merupakan kumpulan sekelompok mahasiswa yang melakukan praktik jurnalistik  di lingkungan Perguruan Tinggi.

Praktik Jurnalistik oleh mahasiswa sejatinya sudah bermula sejak puluhan tahun sebelum didirikan Universitas di Indonesia. Pada masa itu rezim kolonial Belanda menguasai Hindia Belanda, sehingga sampai tahun 1920an belum ada perguruan tinggi yang didirikan. Beruntung,  pribumi mendapatkan kesempatan dari politik etnis untuk melajutkan pendidikan tinggi di Belanda, meskipun hanya segelintir dan dari kalangan pribumi yang kaya saja.  Segelintir mahasiswa yang ada di Belanda melakukan pertemuan dengan tujuan yang sama dan kesadaran akan perjuangan kemerdekaan dari penjajah. Dari pertemuan-pertemuan tersebut lahirlah sebuah organisasi sosial pada tahun 1908 yaitu organisasi Indische Vereniging. Organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI), diantaranya Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Ali Sastroamidjojo dan Soetomo.

Tujuan awal berdirinya Perhimpoenan Indonesia (PI) mulanya adalah menyerukan persatuan atas dasar nasionalisme untuk melepaskan bangsa Indonesia dari penderitaan dan cengkraman kolonialisme Belanda masa itu. Gagasan serta kritikan-kritikan terhadap kolonial Belanda tertuang dalam surat kabar yaitu majalah Hindia Poetra. Majalah Hindia Poetra bergerak dinamis dalam menyampaikan kritikannya terhadap Belanda, hingga majalah tersebut kemudian berganti nama menjadi Indonesia Merdeka dengan menerbitkan salah satu edisi khusus yang sampai sekarang dikenal dengan nama Manifesto 1925.

Pada  tahun 1942 kolonial Belanda terusir oleh  fasis militer Jepang. Fasis tersebut membubarkan paksa semua oganisasi dan pergerakan mahasiswa yang berkembang di Indonesia termasuk organisasi pers. Mereka juga menutup semua peguruan tinggi yang ada. Hanya organisasi-organisasi bentukan dari razim fasis Jepang yang boleh didirikan. Namun, dalam situasi semacam itu, masih ada sebagian mahasiswa yang tetap mempertahankan organisasinya dan memperjuangkan kemerdekaannya, dengan melakukan diskusi-diskusi gelap serta menyebarkan selebaran-selebaran secara sembunyi-sembunyi.

Di era revolusi tahun 1945-1949, mahasiswa semakin gencar mempertahankan Republik Indonesia. Para pemuda dan mahasiswa bergabung dalam organisasi pemuda perjuangan yang membela Republik Indonesia seperti Angkatan Pemuda Indonesia (API). Meskipun pada waktu itu perkembangan perguruan tinggi masih kurang dan tidak paralel dengan pertumbuhan pers mahasiswa secara khusus. Situasi ini terjadi karena peresmian  perguruan tinggi pada tahun 1949 masih dibawah rezim kolonial Belanda yang masih berkeinginan menjajah bangsa Indonesia.

Pada dekade 1950an kemerdekaan Indonesia diakui secara luas oleh negara-negara lain. Dekade ini menjadi awal berdirilah perguruan-perguruan tinggi milik Indonesia, yang kemudian memunculkan kembali organisasi-organisasi pelajar dan mahasiswa termasuk pers mahasiswa (Persma). Banyak persma bemunculan di peguruan tinggi. Semangat mereka berkobar dalam menyerukan aspirasi dan ide-idenya. Pada masa ini, persma mencapai puncak emasnya. Dan bahkan sempat  dikatakan bahwa pers mahasiswa lebih unggul dari pers-pers umum. Dilihat dari produksivitasnya dan perkembangannya yang pesat dalam komesial dan redaksionalnya.

Pada konferensi I bagi pers mahasiswa, muncullah Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia (IWMI) dengan diketuai T Yacob dan Serikat Pers Mahasiswa Indonesia (SPMI) dengan diketuai Nugroho Notosusanto. Yang kemudian, pada sekitar tahun 1958 terjadi Konferensi Pers Mahasiswa II dengan hasil meleburkan IWMI menjadi Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI). Organisasi ini berbarengan dengan transisi pemerintahan Demokrasi Liberal menuju Demokrasi Terpimpin.

Masa transisi menuju Demokrasi Terpimpin menjadikan pers khususnya pers mahasiswa dirundung kegalauan. Pers mahasiswa dan media diawasi ketat oleh pemerintah. Media pers yang tidak mencantumkan nama MANIPOL USDEK dalam dasar organisasinya mendapatkan ancaman pembredelan. Saat itu persma benar-benar terjebak dalam situasi yang rumit. Banyak permasalahan-permasalahan yang muncul. Pers mahasiswa yang memiliki prinsip independen mengalami krisis eksistensi karena dalam tubuh IPMI terdapat kegelisahan yang timbul dari anggotanya. Ada sebagian anggota yang tetap keukeuh mempertahankan sikap independennya sebagai pers tetapi ada juga sebagian yang menginginkan untuk mengarah pada pola partisipan.

Pers mahasiswa dan birokrat pada masa pemeintah Orde Baru mulai  berjalan berdampingan tanpa ada perseteruan. Akan tetapi hal tersebut tidaklah berlangsung lama. Mahasiswa mulai diawasi kembali setiap gerak geriknya hingga tahun 1970. Berbagai ancaman dilontarkan oleh pemerintah termasuk melalui senjata utamanya, yaitu pembredelan atau pemberhentian izin terbit kepada pers mahasiswa yang mengkritik kebijakan pemerintah. Kebebasan pers mulai tenggelam. Semua tulisan yang diterbitkan oleh pers dimonitori oleh pemerintah secara langsung.

Keadaan Pers Mahasiswa Sekarang

Puncak kemenangan mahasiswa terjadi pada Mei 1998. Dimana pada masa itu ribuan mahasiswa mengeluarkan aspirasinya secara terang-terangan. Demo besar-besaran yang terjadi di gedung MPR menuntun rezim  soeharto untuk mundur dari jabatannya menjadi Presiden RI. Perjuangan tersebut membuahkan hasil, teriakan dan sorakan yang tak ada hentinya mendapat bayaran yang setimpal. Melalui pidatonya Presiden Soeharto menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden RI, dan digantikan oleh Wakilnya B.J Habibie. Kemenangan digenggam oleh mahasiswa dan juga pers mahasiswa yang ikut andil dalam perjuangan tersebut. Kebebasan telah diraih oleh Pers Mahasiswa. Di tambah lagi, pada tanggal 5 Juni 1998, saat Yunus Yosfiah selaku Menteri Penerangan RI Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah Presiden B.J Habibie, memerdekaan insan Pers dengan mencabut Peraturan Menteri Penerangan RI No. 01/PER/MENPEN/1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Sejak saat itu, pers mulai berkembang pesat hingga sekarang.

Sejarah pers mahasiswa yang sangat kental akan perjuangan dan pelawanan, pada era sekarang semakin meluntur. Suara-suara sorakan dari aspirasi rakyat kini tidak terdengar lantang. Mahasiswa seakan apatis terhadap hal-hal tersebut. Padahal peran mahasiswa  sebagai kaum agen of change dan social control seharusnya menjadi kepekaaan untuk mengawal demokrasi dan kebijakan-kebijakan pemerintah. Eksistensi dari pers mahasiswa saat ini sangat  jauh berbeda dari masa-masa awal munculnya pers yang menjadi pemersatu pemikiran-pemikrian untuk mengubah negeri. Mereka lebih memfokuskan diri pada isu-isu yang ada diwilayah kampus saja, dan seperti tidak lagi menyuarakan aspirasi rakyat.

Tulisan-tulisan yang tertuang dalam terbitan majalah, tabloid, buletinpun sudah tidak lagi mengkritik secara dalam kebijakan-kebijakan yang dianggap menyeleweng.  Karena saat ini posisi persma dalam situasi yang dilematis. Persma memiliki fungsi sebagai pengawasan, kritik, dan saran bagi kebijakan dan kepentingan umum, yang masih dibawahi oleh kampus. Sedangkan kampus merupakan objek utama pemberitaan  Lembaga Pers Mahsisa (LPM).

Lirik lagu Persma berjuang yang sering dilantunkan oleh mahasiswa-mahasiswa merupakan refleksi diri bahwa persma seharusnya tetap mempertahannkan ideologinya yaitu ‘Perlawanan’. Rasa takut sering kali muncul dalam benak mahasiswa untuk mengkritik kebijakan-kebijakan kampus lebih dalam. Rasa takut tersebut didasari oleh kekhawatiran pada nasib jadi mahasiswa lebih memiliherkuliahannya. Akhirnya, mereka lebih memilih  diam dari pada harus di keluarkan dari kampus.

Selain itu juga, menurunnya minat baca menyebabkan banyaknya tulisan yang terbengkalai. Rasa keingintahuan mengenai kampusnya sendiri masih sangat minim. Padahal dalam setiap terbitan dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) tidak memungut biaya sepersen pun dari pembacanya. Itulah yang kadang menjadi kesedihan dari anggota-anggota persma itu sendiri.

Keadaan tersebut merupakan segelintir dari permasalahan yang ada di Lembaga Pers Mahasiswa. Ketika persma tak lagi seperti awal kemunculannya, perlawanan persma tak lagi lantang. Persma seakan bungkam terhadap birokrasi kampus.


Penulis : Anisa Maulina. Mahasiswa jurusan KPI semester 4 IAIN Purwokerto.



Share:

0 comments:

Post a Comment

TERPOPULER