Kancah Pemikiran Konstruktif

Saturday, April 21, 2018

Diantara Generasi Kartini, Laki-Laki dan Kemajuan Bangsa

lukisan : Farih Mif
Raden Ajeng Kartini. Sosok pahlawan nasional yang menjadi penggerak kebangkitan perempuan pada masanya dahulu, di jaman kolonial Belanda. Ada rasa yang mencuat ketika melihat, mendengar dan membaca sosok R.A Kartini. Baik itu dari lagu Ibu Kartini yang sering kita dengarkan, maupun dari surat-surat dan buku yang beliau tulis, Habis Gelap Terbitlah Terang. Sederhana saja, cerita-cerita tentang R.A Kartini sudah lama nyantol dalam telinga dan pikiran kita. Sejak kapan? Sejak kita mulai memasuki sekolah. Dengan pelajaran sejarah, bahkan tanpa perantara pelajaran sejarah. Hampir semuanya mengingat tanggal 21 April di setiap tahun. Hari Kartini.

Tapi apakah itu hanya menjadi peringatan dan tradisi saja? Sementara di luar sana masih banyak sosok perempuan dengan seribu masalahnya. Yang seolah hanya menjadi kajian berita saja. Ideologi patriarki belum sepenuhnya hilang di Indonesia. R.A Kartini memang tidak seperti pahlawan nasional lainnya yang mewariskan semangat berjuang yang langsung bertempur melawan penjajah. Namun R.A Kartini mewariskan pemikiran yang tidak lekang dan digusur oleh waktu. Hal ini dapat kita pelajari untuk melihat lebih luas, bagaimana kondisi lingkungan kita saat ini? Apakah kaum laki-laki dan perempuan sudah selaras?

Tidak dipungkiri berkat keberanian R.A Kartini yang mewakili perasaan perempuan tertindas. Mampu membuat dunia mendengar bagaimana rasa dari seorang perempuan. Lahirnya pemimpian perempuan di Indonesia, banyaknya perempuan yang telah mandiri dengan karirnya, serta profesi lainnya. Itulah salah satu wujud kemajuan bangsa yang diinginkan R.A Kartini. Namun diantara perempuan-perempuan itu, lebih banyak yang mana dengan perempuan yang sampai hari ini masih dilecehkan oleh laki-laki?

Jika kita menyalahkan siapa yang salah dan yang benar. Tampaknya hal ini sulit berujung dengan kata ending. Justru sebuah solusi bisa dihadirkan untuk kita semua. Baik untuk perempuan dan untuk laki-laki. Dengan kita menghadirkan pemikiran-pemikiran R.A Kartini tersebut untuk kemajuan bangsa. Menghadirkan dengan otak yang lalu merangsang ke hati kita.

Memperingati suatu perayaan memang sah-sah saja. Namun coba kita hitung berapa banyak dana yang jika dikumpulkan dari perayaan itu untuk membantu saudara-saudara kita di luar sana yang miskin akan keadilan?

Salah satu daripada cita-cita yang hendak kusebarkan ialah : Hormatilah segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya, baik tidak terpaksa baikpun karena terpaksa, haruslah juga segan menyakiti makhluk lain, sedikitpun jangan sampai menyakitinya. Segenap cita-citanya hendaklah menjaga sedapat-dapat yang kita usahakan, supaya semasa makhluk itu terhindar dari penderitaan, dan dengan jalan demikian menolong memperbagus hidupnya : dan lagi ada pula suatu kewajiban yang tinggi murni, yaitu “terima kasih” namanya. – R.A Kartini.

Inilah salah satu dari sekian kegelisahan yang ditulis R.A Kartini. Inti daripada itu adalah bahwa kita saling menghargai satu sama lain. Untuk semua gender yang telah diciptakan Tuhan.

Kalaupun tidak berasal dari pemikiran R.A Kartini. Sejatinya manusia mempunyai hati nurani yang luhur. Belum terpadu dengan emosi dan keegoisan diri. Indonesia sudah berkembang maju dan tentunya menuju kemajuan yang hakiki. Maju untuk semua tanpa ada warganya yang merasa tersisihkan. Generasi Kartini, inilah pendidikan karakter yang bisa kita kembangkan untuk kemajuan bangsa kita. Sesungguhnya, karakter diri adalah cerminan dari orang itu sendiri. Begitu pula sebuah bangsa.

Generasi Kartini, bukan hanya untuk perempuan. Namun untuk pemuda-pemudi, siapa saja mereka yang menghargai hidup dan menghargai dirinya sendiri. Berawal dari diri kita sendiri, yang tidak lagi apakah yang lewat di depan kita perempuan atau laki-laki. Namun kita akan sama-sama saling menyapa dengan senyuman.

Lebih banyak kita maklum, lebih kurang rasa dendam dalam hati kita, semakin adil pertimbangan kita dan semakin kokoh dasar rasa kasih sayang. Tiada mendendam, itulah bahagia. – R.A. Kartini.

Ya! Generasi Kartini harus kita dedikasikan untuk negeri ini. Nusantara yang telah menyediakan keindahan yang bahkan negara lain pun iri dengan kita. Kurang adil bagaimana Tuhan kita membuat nusantara ini? Justru kita yang sangat tidak nalar jika kita belum tahu bagaimana menghargai sesama makhluk Tuhan. Perempuan menghargai lelaki. Lelaki menghargai perempuan. Tidak ada lagi generasi yang melecehkan gender di salah satunya. Yang ada adalah generasi Kartini yang tahu akan kedudukan dan kebebasan setiap manusia.

Biarlah kita menggapai mimpi kita tanpa adanya batasan. Karena pada dasarnya nasib setiap manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri. Sangatlah kejam jika seorang individu terperangkap dengan ketidakpercayaan diri yang justru karena datang dari orang lain. Tidak ada lagi istilah kasta, yang bersumber dari berbedanya gender, berbedanya status sosial karena kemiskinan. Indonesia disempurnakan dengan budaya dan disatukan pula dengan budaya.

Sungguh sempurna, dari sabang sampai merauke. Menyatu mereka para generasi yang berbeda latar belakang. Memenuhi pengetahuan, pengalaman, serta melengkapi emosional kita untuk mengerti mereka.

Hari Kartini, tidak hanya kita hapal akan lagunya. Tidak hanya hapal akan judul bukunya. Tidak hanya tahu seorang pahlawan. Tidak hanya kita terfokus akan sebuah perayaan. Namun kita meresapi dan memandang realita sesungguhnya apa arti dari kegelisahan R.A Kartini yang menginginkan kemajuan untuk bangsa Indonesia. Lahirlah engkau seorang perempuan yang tidak takut akan kejamnya dunia. Dan lahirah engkau seorang lelaki yang mampu melindungi seorang perempuan. Maka terjadilah keselarasan hidup.

Biar bagaimanapun kita dilahirkan dari rahim seorang perempuan. Itulah takdirnya bahwa perempuan memang kunci dari dunia. Seorang lelaki hebat ada Ibu yang telah membesarkannya. Seorang lelaki yang hebat ada sosok istri yang mendampinginya.

Lahirlah generasi kartini yang beranggotakan perempuan dan laki-laki. Lahirlah generasi kartini yang mengingat akan perjuangan. Lahirlah generasi kartini yang menikmati masa muda tidak hanya merasa muda, namun merasa tua bahwa Tuhan dapat dengan cepat mengambil hidup kita. Yang akan memaknai hidup yang cuma satu sekali ini dengan senyuman untuk semua. Senyuman yang mengartikan rasa syukur untuk Tuhan, alam dan sesama.

Ibu kita Kartini, putri sejati
Putri Indonesia, harum namanya
Ibu kita Kartini, pendekar bangsa
Pendekar kaumnya untuk merdeka
Wahai ibu kita Kartini
Putri yang mulia
Sungguh besarcita-citanya
Bagi Indonesia

Pahlawan tidak harus terkenal di dunia. Namun pahlawan dapat didasari dengan niat kita yang luhur untuk kemajuan Indonesia. Pahlawan untuk keluarga. Untuk lingkungan dan semesta. Generasi Kartini bukanlah pemuda yang menyia-nyiakan kasih sayang orang tua. Generasi Kartini akan berjuang untuk berhasil meraih mimpinya.

Cinta dan terimakasih. Dua kata yang melambangkan hubungan manusia. Dengan cinta, kita dapat mengasihi tidak hanya dengan pandangan mata, namun nalurilah yang menerobos status dan lika-liku perbedaan. Dengan terimakasih, kita akan senantiasa tahu dan mengingat mereka telah menghargai kita. Mereka telah menggerakan niatannya untuk membantu kita.

Terimakasih atas semuanya yang telah engkau berikan. Terimakasih akan kesadaran engkau untuk mempersilahkan duduk dengan senyumanmu tanpa engkau memandang siapa yang engkau persilahkan. Terimakasih engkau telah menebarkan cinta untuk kemakmuran Indonesia dengan menghargai sesama. Kita Generasi Kartini yang terdiri dari perempuan dan laki-laki bersatu untuk kemajuan bangsa Indonesia. 


Penulis : Okti Nur Alifia, wakil Pimpinan Umum (PU) LPM Obsesi.

Share:

0 comments:

Post a Comment

TERPOPULER