Kancah Pemikiran Konstruktif

Tuesday, April 10, 2018

Monster Pemakan Sawah



Iilustrasi : Sri Roijah


Bulan ini seharusnya masuk musim tanam padi, tapi banyak sawah di desaku yang terbengkalai. Jerami dibiarkan menumpuk.  Rumput tumbuh liar. Hanya beberapa petani saja yang beraktifitas seperti biasa. Padahal sawah di desaku begitu subur. Sawah yang terbelah oleh aliran sungai ini telah menghidupi keluarga di desa kami dari generasi ke genarasi. Sawah yang terkenal sebagai pengasil padi terbaik. Sawah yang sering menjadi objek penelitian mahasiswa dari kota.

Seperti pada umumnya sawah di tempat lain, di sawahku ada juga orang-orangan sawah. Bukan untuk mengusir hama. Tapi untuk mainan anak-anak petani yang ikut ke sawah. Para petani di desaku tak pernah pusing dengan hama yang menyerang. Kami beranggapan bahwa ketika hama menyerang, itulah waktu bagi kami untuk berbagi rejeki dengan mahluk lain. Kami masih berkecukupan bila hanya padi kami dimakan hama. Semua itu karena kesuburan tanah di sini, jadilah orang-orangan sawah dibuat selucu mungkin agar anak-anak betah di sawah.

Anak-anak petani biasanya menunuggu orang tua mereka di gubuk. Hampir setiap petani punya gubuk di sawahnya masing-masing. Adalah kehadiran kakek warno  (kakekku ) yang selalu ditunggu anak-anak. Usianya tujuh puluh tahun. Ia adalah pendongeng yang baik. Itu sebabnya anak-anak menyukainya.

Kakek sering bercerita tentang asal usul orang orangan sawah. Dahulu kala orang-orang di desa ini sukanya hura-hura, pesta miras dan judi setelah panen raya. Ditengah kehidupan warga desa yang tak beraturan. Sawah sebagai penghasilan utama mereka terserang hama sampai bertahun-tahun. Paceklik berkepanjangan menyebabkan warga desa kelaparan. Salah satu Sesepuh desa mendapat bisikan gaib yang menyuruh agar warga desa membuat orang orangan sawah dengan jerami. Singkat cerita hama tak lagi menyerang. Dan mereka sadar bahwa sikap hura-hura telah mendatangkan malapetaka, lambat laun orang-orang desa kembali ke jalan yang benar. Orang-orangan sawah mulai dibuat dengan wajah tersenyum ramah. Seperti perasaan warga desa yang selalu bahagia sebab padi tumbuh subur. Benar atau tidaknya cerita kakek tanyakan sendiri kepadanya.

            Kakek juga sering bercerita tentang Dewi Sri; lambang kesuburan khususnya padi. Ketika kutanya kenapa petani tidak menanam padi ia menjawab “Dewi Sri sedang marah, bisa kualat kalau tetap menanam padi”. Tentang Dewi Sri kakek juga sering berpesan kepada bapaku kalau punya anak perempuan berilah nama Dewi Sri agar selalu berlimpah kemakmuran.

            Salah satu petani yang tetap beraktifitas adalah pak Barjo; tuan tanah sekaligus ketua kelompok tani di desaku.  Ia petani sukses yang tak sungkan membagikan ilmunya kepada petani lain. Rumahku sering dijadikan tempat rapat kelompok tani itu. Dari balik dinding aku sering menguping pembicaraan mereka. Termasuk pembicaraan tentang monster yang tengah menyerag sawah. Karena penasaran, suatu hari aku memberanikan bertanya langsung kepada pak Barjo.

            “kenapa para petani tak menanam padi”

            “sawah kita sedang diserang monster”

            “apa monsternya besar?”

           “ya besar sekali, dia punya banyak tangan, kukunya tajam. Ia sangat rakus. Apa saja bisa dimakan. Tapi tak pernah kenyang, bahkan kalau bumi ini juga dimakan.”

            “menakutkan sekali”

            “makannya sekolah yang bener, nanti kamu bisa mengalahkan monster jahat itu”

            “siap pak Barjo”

Sebenarnya kepalaku masih dipenuhi tanda tanya tentang kenapa para petani tidak menanam padi. Kata kakek karena Dewi Sri sedang marah, tapi kata pak Barjo karena ada monster.  Jadi mana yang benar?

Ditengah kebimbanganku, banyak perubahan yang terjadi pada warga desa, terlebih mereka yang menggarap sawah. Kini rumah mereka berubah. Tak lagi berdinding anyaman bambu. Ada juga yang punya sepeda motor atau mobil baru. Tapi dibalik semua itu, Tak ada lagi obrolan hangat di warung kopi milik  mbok cumleng. Tak ada lagi tegur sapa atau senyum ramah yang keluar dari wajah mereka. Lebih asik mengurung diri di rumah baru mereka.

 Kabar duka datang dari tetangga ku. Pak Rasam atau bapaknya sikin (sahabat karibku) meninggal. Ada yang bilang ia dibunuh ada pula yang bilang ia mati karena monster itu. Sejak kematian pak Rasam yang juga anggota kelompok tani. pertemuan kelompok tani semakin sering. Bahkan sampai larut malam.

“monster itu tidak bisa dibiarkan”

“ya.. berapa korban lagi harus berjatuhan?”

“saya lebih ikhlas padi saya dimakan hama dari pada dimakan monster itu”

           “sabar bapak-bapak,  kita harus tetap tenang menghadapi masalah ini, jangan grusa grusu” pak Barjo menengahi

            “tapi apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa diam saja”

            “benar.... benar”

         “besok malam kumpulkan semua jerami yang  tersisa di sawah kalian, kita bikin orang-orangan sawah untuk mengusir monster itu”

Malam harinya, rumahku menjadi keramaian di tengah suasana desa yang sepi. Anggota kelompok tani sibuk membuat orang-orangan sawah, berbeda dengan orang-orangan sawah yang biasanya berwajah ramah dan lucu. Kali ini orang-orangan sawah dibuat menyeramkan. Bahkan ada beberapa yang dilumuri darah ayam. Sampai larut malam seratus orang-orangan sawah berhasil dibuat. Malam itu juga  orang-orangan sawah dipasang.

            “ besok pagi kita berangkat ke sawah dan hadapi monster itu!” seru pak Barjo

            “ bunuh para monster sialan”

            “ monster bajingan yang telah memakan sawah kami ”

            Ketika matahari sepenggalah naik. Anggota kelompok tani dan keluarganya yang telah cukup umur berangkat ke sawah, dipimpin pak Barjo di tengah, di sampingnya ada bapaku dan ibuku. Anak-anak dan lanjut usia tak ada yang boleh ikut, termasuk kakekku. Aku  hanya memandang dari jauh. Di bawah pohon beringin, bersama kakek dan teman-temanku.

            Di tengah sawah sana. Kelompok tani berhadapan dengan polisi dengan senjata lengkap; seolah akan menghabisi teroris. Jadi apa itu monsternya? Pikirku. Keadaan mulai tak tekendali. Kelompok tani itu membakar orang-orangan sawah. asap membubung tinggi, terdengar suara tembakan ke udara. Tak lama kemudian kelompok tani membubarkan diri. Kembali kerumah masing-masing. Pak Barjo pulang kerumahku. Ia tak berani pulang kerumahnya. Katanya monster itu sedang mencari dirinya.

            Dua hari sejak kejadian itu, suasana desa semakin mencekam. Orang-orang baru keluar rumah ketika ada keperluan. Masjid yang biasanya penuh oleh jamaah sholat, kosong seketika. Pak Barjo mengajaku pergi ke sawah.

            “ apa monster-monster itu yang kemarin berseragam polisi” tanyaku memulai.

            “ bukan. Monster itu tidak terlihat”

            “ mereka bersembunyi?”

            “ ya mereka bersembunyi”

Bekas kobaran orang-orangan sawah menyambut kedatanganku, pak Barjo berjalan gontai, memandang sawah-sawahnya, air mukanya tidak menunjukan ia sedang bahagia. Lalu pak Barjo memanggilku. Menunjuk papan bertuliskan “TANAH INI MILIIK PT. Sejahtera Bersama”.

            “ apa kita kalah dari monster itu?”

            “ kita telah melawan dengan sebaik-baiknya dengan sehormat-hormatnya. Kalaupun kita kalah. Kita kalah dengan sebaik baiknya, juga sehormat-hormatnya”

            Kini tak ada lagi orang-orangan sawah di sawah. Beberapa warga membuat orang-orangan sawah dengan wajah menyeramkan untuk dipasang di depan rumah mereka. Sekedar untuk mengenang, katanya.  Sawah di desaku telah berubah menjadi pabrik yang katanya-entah kata siapa- dapat mensejahterakan warga desa, mengentaskan dari kemiskinan.  



  


MIftahul Aziz, lahir di Banyumas 09 juli 1995. Santri Al Amien Purwokerto Wetan. Sedang menyelesaikan studi di IAIN Purwokerto prodi Pendidikan Bahasa Arab. Berusaha menjadi anak yang manis.
Share:

0 comments:

Post a Comment

TERPOPULER