May 2018

Pinterest.com


Saat Kacang Pergi Dari Kulitnya

Sulit dipercaya
Aku rela taruh kau dipunggungku
Sedang kau main cekal saja rambutku
Dan baru bangun tidur pagi tadi
Ketika aku gandrungi sajak-sajak
Sedang punggungku penuh dengan sajak-sajak
Yang sengaja kupandangi dengan memicingkan mata
Ah, keparatnya!
Aku lari dari Jas Merahku sendiri
Sedang si Java hanya geleng-geleng melihatku


Yogyakarta, 2 April 2017



Diktator yang Dirindukan

Semenjak dia kaku dalam lamunan
Aku tak pernah lagi mendengar pidato-pidatonya
Orasi, apalagi teriakan-teriakan kemenangan
Yang aku dengar adalah
Bisikannya yang lirih namun penuh dengan penekanan
Menggema di alam ingatanku
“Aku akan bersinar lebih terang sebelum semua benar-benar padam.”

Purwokerto, 28 Maret 2018



 Aisyah khoirunisa,  Mahasisiwa  4 Pendidikan Agama Islam (PAI) C  IAIN Purwokerto


/koshball.blogspot.co.id

Ditengah-tengah kota Jakarta, disudut tiang lampu merah yang gelap tanpa adanya penerangan. Terlihat sesosok lelaki paruh baya tengah duduk, ia ditemani sebuah mangkuk kecil. Kian larut makin samar terlihat hingga lampu kendaraan yang simpang siur di depannya sewaktu-waktu menyorotinya. Terlihat jelas bagaimana dia menggoyangkan mangkuk yang berisi beberapa uang pecahan lima ratusan hingga suaranya mengalihkan perhatian setiap orang yang berlalu dihadapannya. Beberapa orang iba terhadapnya. Namun tak banyak juga orang  yg mengacuhkannya bahkan mencacinya.

Kencring...kencring....

Dua buah uang lima ratusan dan satu lembar uang ribuan dilempar ke arahnya. Dengan segera lelaki itu memungutnya sebelum angin malam membawanya pergi.
Malam yang semakin larut, angin yang kian terasa dingin tak melemahkan semangatnya hingga ia dapat membawa pulang makanan untuk kedua anaknya.

“satu..dua..tiga...” dengan teliti dia mulai menghitung uang yg dia kumpulkan hari ini.
“Alhamdulillah” gumamnya

Segeralah ia membereskan barang-barangnya dan pulang dengan membawa beberapa uang yang tak seberapa jumlahnya. Tono namanya, lelaki tua yang kini menginjak kepala lima ini hidup dengan mengandalkan penghasilannya dari mengemis setiap harinya.

“Hidup di Jakarta itu keras” kata beberapa tetangga Tono di kampung tempat tinggalnya dulu sebelum ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan mencari pekerjaan di kota yang tak pernah jauh dari kata macet ini. Tak bisa dihindari, takdir yang kini harus menjadikannya hidup serba kekurangan. Bukan kekurangan malah, bahkan kata melarat pun pantas ia sandang.

Sampah menjadi pemandangan yang mau tak mau harus Tono lihat setiap harinya. Bahkan menjadi sahabat dan hiasan pekarangan rumah Tono. Diambang pintu rumah Tono, tampak dua anak kecil tengah mondar-mandir sambil memegangi perut mereka. Tono mempercepat langkahnya dan menghampiri ke dua anak itu. Mereka tampak bahagia dan langsung menyambar kresek yang dibawa Tono. Senyum sedih tampak samar terlihat di wajah Tono yang berusaha untuk disembunyikannya, berharap kedua anaknya tidak melihat.

***
Fajar keluar dari peraduannya. Ayam berkokok memecah keheningan pagi. Sulit dirasa, namun malam benar-benar cepat berlalu. Dengan segera Tono bergegas pergi ke kota sebelum rezekinya hari ini di patok ayam begitulah kata pepatah. 

Dengan modal mangkok Tono berjalan menyusuri trotoar dan berhenti di setiap lampu merah atau persimpangan.
“matur suwun” ucap Tono sesekali pada orang-orang yang dengan ikhlas menyisihkan sebagian hartanya. Dalam benak Tono, pekerjaan ini bukanlah sesuatu yang ia harapkan. Kepindahannya ke Jakarta dengan alasan ingin memperbaiki taraf ekonomi keluarganya. 

Tak seperti di kampung dulu yang hanya mengandalkan upah dari orang-orang yang mempercayainya untuk mengurus kebun atau sawah, itupun jarang dan hasilnya tak seberapa. Tono menjual rumahnya di kampung dan pindah ke Jakarta bersama istri dan kedua anaknya. Alih-alih memperbaiki taraf ekonomi justru membuatnya semakin buruk. Istrinya kabur karena tak tahan dengan keadaannya yang semakin melarat. Kontrakan yang semula ditempatinya kini tak bisa lagi ia tempati karena pembayaran yang kurang lancar dan nunggak beberapa bulan. 

Ia sudah berusaha mencari pekerjaan kesana kemari namun semuanya nihil, tak ada satupun yang tertarik dengan keahliannya. Kini ia tinggal di sebuah gubuk tua di dekat sungai Ciliwung yang penuh dengan sampah. Tak heran jika setiap kali hujan mengguyur Jakarta, air Ciliwung meluap bahkan sampai ke gubuknya. Tono masih bersyukur gubuknya tidak hancur akibat serangan banjir yang kian menjadi sorotan publik.

Seperti biasanya, Tono kini terduduk disamping lampu merah dengan menggoyangkan mangkuk yang berisi beberapa uang recehan. Berbeda dengan kemarin, hari ini banyak sekali orang yang melemparkan uang ke arahnya. Baru  setengah haripun ia sudah mendapatkan uang yang lebih banyak dari yang kemarin ia dapatkan.

”Nasib untung” gumamnya sambil menyimpulkan senyum di bibirnya. Bukan senyum tamak, tapi senyum dengan penuh rasa syukur atas rizki yang ia peroleh hari ini. Namun sesuatu terlintas dipikirannya. Sambil memandangi uang diatas mangkuk ia meratap, alangkah hinanya ia sampai harus menjadi parasit negeri hanya untuk sesuap nasi. Matanya menatap jauh namun tak bertuju, hingga orang yang melempar uang ke arahnya pun tak dihiraukan. Pikirannya terbawa jauh, sampai terbersit  masa depan anaknya jika ia meninggal nanti. Mengingat umurnya yang semakin hari semakin berkurang. Namun apalah daya, biar takdir yang menjawab. Mungkin ia akan menitipkan kedua anaknya ke panti asuhan hingga mereka mendapat orangtua asuh yang mampu membiayai hidup mereka, tidak seperti Tono. Suara klakson membangunkan Tono dari renungannya. Ia tersadar kembali setelah beberapa menit terbawa ke alam angannya.

Jalanan makin siang makin ramai. Pejalan kaki pun kian padat memenuhi trotoar. Sebuah Sedan dengan kecepatan tinggi melaju kencang dari arah utara. Kecepatannya hingga membelah jalanan jakarta yang padat. Seseorang yang tengah menyebrang hampir menjadi korban keganasan mobil. Kejadian itupun menjadi pusat perhatian masyarakat yang melihatnya. Beberapa polisi ikut terjun untuk mengamankan, takut-takut terjadi insiden saling pukul dari teman korban terhadap pelaku. Tono yang saat itu melihatnya ikut mengerumuni korban. Tak ada darah yang tumpah dari peristiwa itu. Hanya saja mobil yang dikendarai pelaku hancur bagian depannya karena menabrak tiang pembatas jalan. Tono hanya bisa menggeleng kepala melihat kejadian itu. Ia kembali ke trotoar sebelum banyak orang yang memperhatikannya.

Hari yang semakin larut mengharuskannya untuk menghentikan kerjanya. Tak lupa nasi uduk slalu dibawanya sebagai buah tangan untuk kedua anaknya. Saat Tono menyusuri jalan menuju rumahnya, tak sengaja ia mendengar suara tangisan. Dengan penuh penasaran akhirnya tono memutuskan untuk mencari sumber suara itu. Suara yang begitu familiar di telinganya. Ternyata suara tangisan itu berasal dari gubuknya sendiri. seketika Ia menghentikan langkah. Sungguh kagetnya saat ia melihat gubuk yang di tempatinya hancur. Tak terasa air mata lelaki paruh baya itu tumpah. Dengan segera Tono melihat sekeliling mencari kedua anakya. Ternyata suara tangisan itu berasal dari kedua anak Tono yang sedang menangis di sudut-sudut tiang yang roboh, perlahan Tono mendekati.

“Apa yang terjadi nak?” ucap tono sambil memeluk kedua anaknya.
“Bapaaaaaaak...” suara tangisan itu semakin kencang sampai-sampai mengundang perhatian tetangganya. Seorang tetangga tampak menghampirinya. Dia menceritakan awal mula terjadinya penggusuran ini. Ternyata gubuk yang di tempati Tono itu ada pemiliknya. Pemiliknya menyuruh beberapa orang untuk menghancurkannya karena lahannya akan dipakai untuk pembuatan pabrik. Begitulah keterangan beberapa tetangga yang melihat kejadian itu.

“Besok si pemilik tanah ini akan datang kesini, kau tunggu saja” seseorang memberikan keterangan.

“Untuk malam ini kau tinggal saja di gubuknya Pak Harto. Kasian anak-anakmu. Kalau kau mau biar ku antar” ajak seorang tetangga yang Tono pun tak mengetahui siapa namanya.

Ia pun akhirnya memenuhi ajakan tetangganya. Diantarkannya Tono dan kedua anaknya ke gubuk Pak Harto yang sebelumnya sudah meminta izin terlebih dahulu kepada si pemilik.

”Gudang beras awalnya, tapi Pak Harto sekarang sudah tidak menggunakannya karena beralih profesi jadi bos bakso. Kalau kau mau pakai saja untuk tempat tinggalmu sementara.” Ucap tetangganya menjelaskan sebelum ia pergi meninggalkan Tono dan kedua anaknya di gubuk itu. 

Malam semakin larut, rasa kantuk mulai menggerogoti Tono. Akhirnya ia tertidur di atas amparan tikar yang sedikit termakan rayap dan membiarkan kedua anaknya tidur di atas ranjang walau agak reyod karena kayunya sudah mulai lapuk. Malam yang terasa singkat namun mereka tertidur cukup pulas dan melupakan kejadian yang telah mereka lalui untuk sejenak.

Setelah disadari hadirnya pagi, Tono bergegas mengambil uang yang disimpannya di kantong celana yang tergantung di dinding yang kemudian ditukarkan dengan dua bungkus nasi untuk makan kedua anaknya. Setelah sampai kembali di gubuk tersebut, Tono membangunkan kedua anaknya kemudian pergi ke kota untuk bekerja dan meninggalkan kedua anaknya.

Angin berhembus meniupkan baliho-baliho iklan di sepanjang jalan Jakarta. Tono bukanlah seorang yang buta huruf, sesekali ia membaca isi dari iklan tersebut. Langkah Tono membawanya ke suatu tempat dimana banyak orang yang bernasib sama sepertinya. Sekelompok pengemis di ujung jalan buntu tengah berkumpul dan menyantap nasi bungkus. Tono ingin menyapa namun siang hampir  memanggilnya sehingga ia harus bergegas pergi ke trotoar di dekat lampu merah.

Matahari benar-benar berada diatas kepala dan Tono mulai lelah. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali. Jalan yang dilalui sama seperti saat dia berangkat tadi. Masih dalam suasana yang sama, di ujung jalan buntu ada segerombol pengemis. Kali ini yang dibawanya bukan lagi sebungkus nasi namun kaleng berisi uang yang tengah  dihitung para pengemis. Kali ini Tono menghampiri dan menyapa teman se-profesinya. Belum sempat menyapa, Polisi datang mengepung tempat tersebut sehingga semuanya panik termasuk Tono. Ternyata pengemis tersebut merupakan pengemis suruhan. Tono berusaha melarikan diri namun apalah daya ia hanya bisa pasrah. Semua pengemis tadi termasuk Tono dibawa ke kantor polisi untuk di proses. Akhirnya Tono beserta pengemis lain di tahan. Pikiran Tono tertuju kepada kedua anaknya. Entah bagaimana keadaan mereka sekarang, Tono hanya bisa meratap disertai air mata yang mengalir deras.


Suatu pekerjaan yang tak baik pada ujungnya berakhir tak baik pula. Sudah jatuh dengan keadaan Tono yang melarat, tertimpan tangga pula dengan masuknya ia ke tahanan beserta anaknya yang terlantar entah dengan siapa.

Penulis  : Sri Roijah, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester 4 IAIN Purwokerto

pinterest.co


Tahun rilis :  1955
Genre        : Komedi
Sutradara  :  Usmar Ismail
Pemain      : M. Pandji Anom
Hassan Sanusi
Tina Melinda
Cassim Abbas
Chitra Dewi
Udjang

Sekitar bulan Agustus 2009 saat saya masih duduk di kelas 3 SMP, TVRI mengadakan peringatan HUT RI dengan menyiarkan film-film lama seperti Tiga Dara, November 1828, dan Tamu Agung. Salah satu film yang saya tonton dari awal hingga selesai adalah film Tamu Agung yang dirilis tahun 1955. Hampir delapan tahun kemudian saya berkesempatan melihat film ini lagi melalui seorang teman di Surabaya. Film ini disutradarai H.Usmar Ismail yang dikenal sebagai Bapak Perfilman Indonesia dan salah satu pendiri Lesbumi

Tamu Agung berlatar belakang di sebuah Desa pinggiran kabupaten yang kurang makmur masyarakatnya bernama Desa Sukaslamet. Suatu hari Desa Sukaslamet geger oleh kabar kedatangan “Tamu Agung” ke kabupaten mereka dan kemungkinan akan mengunjungi Desa Sukaslamet. Para pejabat desa beserta rakyat sangat mengharapkan kedatangan tamu agung itu dengan harapan sang tamu agung dapat menolong mereka mengatasi himpitan ekonomi karena desa mereka yang masih tertinggal. Pak Wedana (diperankan Hassan Sanusi) kemudian mengutus Pak Midi (Udjang) yang kebetulan satu partai dengan tamu agung untuk menjemput tamu agung yang akan berkunjung ke kota. Setibanya di kota, Pak Midi malah kebingungan karena tidak bisa mendapati si tamu agung. Dalam kebingungannya tersebut, dia bertemu dengan tukang obat bernama Slamet (M. Pandji Anom) dan seorang asistennya (diperankan Cassim Abbas), yang mengeluh karena obatnya tidak laku akibat para langganan berlari meninggalkan dagangannya, menuju suatu tempat yang dikabarkan akan datang seorang tamu agung di sana. Mereka berpikir harus pindah ke suatu daerah di mana tidak akan pernah ada tamu agung datang ke sana. Dan Desa Sukaslamat, tempat Pak Midi tinggal, yang kemudian menjadi pilihan. Dengan diiming-imingi obat penghilang uban dan perjalanan dengan menggunakan mobil, Pak Midi bersedia menumpang sembari menunjukkan jalan ke Desa Sukaslamet.

Karena kedatangan mereka menggunakan mobil, mereka disambut oleh masyarakat desa sebagai tamu agung yang dinanti nantikan. Pak Midi yang ingin menjelaskan bahwa yang datang itu bukan tamu agung, melainkan tukang obat, tidak mendapat kesempatan. Masyarakat sudah yakin begitu saja bahwa si tukang obat adalah tamu agung. Dua orang tukang obat tersebut malah memanfaatkan situasi tersebut agar bisa menjadi raja sehari, dan menikmati sandiwara yang terjadi begitu saja. Mereka pun di sambut oleh para pejabat desa, wanita-wanita cantik, sajian makanan, dan juga berbagai keluhan dan negosiasi dari para pejabat tentang permasalahan yang ada di Desa Sukaslamet. Cerita mencapai klimaks ketika si tukang obat yang bernama Slamet, yang dianggap sebagai tamu agung, hilang di dalam hutan ketika Pak Wedana mengajaknya untuk melihat telaga, di mana telaga ini menjadi mimpi Pak Wedana bagi pembangunan Desa Sukaslamet. Pak Midi dan asisten tukang obat yang secara diam-diam mengikuti mereka akhirnya juga terlibat polemik di dalam hutan. Ketika Pak Wedana yang cemas atas kehilangan ‘tamu agung’ itu berusaha mencarinya, tukang obat, asisten tukang obat, dan Pak Midi bertemu, lalu mengikat sumpah untuk tidak membocorkan rahasisa mereka, bahwa sesungguhnya si tukang obat bukanlah tamu agung.

Sekembalinya dari hutan, Pak Wedana mengabarkan bahwa tamu agung telah hilang entah ke mana di dalam hutan. Setelah melalui perdebatan, akhirnya para pejabat desa sepakat untuk mencari tamu agung ke dalam hutan, bersama-sama warga desa. Pencarian ke dalam hutan ini kemudian menjadi antiklimaks, ketika akhirnya Pak Midi malah membeberkan rahasia mereka, bahwa orang yang mereka cari itu bukanlah tamu agung, melainkan orang yang berprofesi sebagai tukang obat.

Sindiran Sosial Politik Masa Lalu dan Masa Kini

Tamu Agung dibuat ketika Republik Indonesia sedang berada dalam Demokrasi Parlementar dan di tahun itu pula digelar Pemilu yang pertama. Demokrasi Parlementer telah menyebabkan kabinet yang berganti-ganti karena banyaknya Partai Politik dan akhirnya pembangunan tidak berjalan dengan baik karena para pemimpin bangsa di Parlemen saat itu sibuk dengan kepentingan partainya. Hal ini beberapa kali disindir secara tidak langsung dalam Tamu Agung. Salah satunya ketika seorang pejabat desa mempertanyakan sikap Pak Midi yang mendadak acuh terhadap Bapak Tamu Agung yang hilang dengan berkata,”Barangkali Pak Midi ada siasat politiknya, sekarang macam-macam akal orang untuk mencari nama dan pengaruh.” Sebetulnya sindiran Usmar Ismail di Tamu Agung terhadap kongkalikong politik yang dilakukan pejabat negara hingga menyebabkan kewajiban menyejahterakan masyarakat menjadi terbengkalai tidak hanya berlaku pada masa Demokrasi Parlementer, bahkan kian menjadi-jadi pada pemerintahan yang sekarang. Terlihat bagaimana para pejabat negara berlomba-lomba mencari nama dan pengaruh bahkan sampai mengobral agama untuk kepentingan politiknya. Padahal kondisi ekonomi masyarakat dewasa ini sedang terhimpit dan kurs rupiah yang masih lemah.

Usmar Ismail dengan Tamu Agungnya juga dengan berani mengkritik satu sisi gaya kepemimpinan Presiden Sukarno yaitu menganggap diri sebagai raja (lihat buku Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie). Dengan sosok Tamu Agung sebagai metafora, Tamu agung dianggap sebagai seorang yang sangat istimewa bahkan penyambutannya sangat meriah, dan tamu agung diperlakukan bak seorang raja. Penggambaran tokoh tukang obat yang dianggap sebagai tamu agung adalah representasi dari Sukarno mulai dari gaya berpakaian yang necis, mengenakan peci yang menjadi representasi seorang nasionalis, membawa tongkat, gaya berpidato dan memberi salam, serta kecenderungannya yang gila wanita. Ciri khas dari pemerintahan Soekarno yang lain adalah tentang seremonial dan tata pemerintahan yang sangat berjiwa feodal. Dalam adegan rapat penyambutan tamu agung, juga bisa kita sadari tentang persaingan politik pada masa itu, di mana ada banyak partai politik yang bersaing dalam pemilu. Di dalam adegan, terjadi perdebatan antara Pak Midi dengan Mantri Cacar. Pak Midi dengan pecinya, anggota dari sebuah partai yang sama dengan tamu agung, mewakili kelompok yang pro dengan pemerintahan, menggambarkan sosok yang nasionalis. Berhadapan dengan lawan debatnya, Mantri Cacar, yang terlihat mewakili golongan sosialis, yang pro rakyat.

Isu feminisme juga diusung oleh Usmar Ismail melalui karakter ibu Wedana yang sangat berambisi menjadi ibu bupati, berbanding terbalik dengan Pak Wedana yang tidak gila kuasa dan memilih mengabdi demi kesejahteraan rakyat Sukaslamet. Namun Usmar Ismail membuat paradoks tentang posisi perempuan pada masa itu. Para wanita diperlihatkan lebih dominan dari laki-laki saat penyambutan Tamu Agung dan pengenalan terhadap perkumpulan wanita di Desa Sukaslamet. Namun di sisi lain Usmar Ismail mengkritik posisi perempuan sebagai alat dalam melakukan lobi politik. Seperti dalam dialog ketika tamu agung gadungan dijamu oleh para wanita, pujian demi pujian diucapkan oleh tukang obat digunakan oleh ibu Wedana untuk mempengaruhi legitimasi “Tamu Agung” agar menaikkan pangkat suaminya dan dirinya sendiri. Faktanya hingga saat ini, perempuan masih menjadi sosok penting dalam memperkuat lobi politik. Kita bisa melihat dewasa ini kasus korupsi dan suap yang melibatkan wanita sebagai alat mempermudah lobi dengan tokoh politik tertentu.
Usmar Ismail mengakhiri Tamu Agung dengan sebuah kritikan yang diperlihatkan melalui perkataan pak Midi di akhir film,”Kita musti berusaha, Pak Wedana harus memimpin kita, jangan bergantung lagi sama satu tamu agung atau siapa saja. Nasib kita terletak di tangan kita sendiri.”

Sosok Tukang Obat yang menjadi Tamu Agung mungkin bisa dijadikan representasi sebagai orang asing, yang tidak tahu kondisi sebenarnya dari Desa Sukaslamet sedangkan pak Wedana yang menjadi pimpinan desa Sukaslamet mesti mendapat dukungan rakyat dan selanjutnya bekerja bersama-sama membangun desa menjadi maju seperti yang dicita-citakan. Artinya bangsa Indonesia hendaknya mampu menjadi negeri yang maju dengan kekuatan sendiri dan tidak tergantung pada negara lain ataupun orang-orang asing. Kita bisa lihat saat ini bagaimana anak bangsa kita seringkali kalah dengan orang asing di negeri sendiri, bahkan sampai tingakatan kebudayaan seperti budaya islam sekalipun, kita tetap “dijajah” oleh orang asing, entah itu Barat, Korea, Jepang, atau Arab. Akhir film ini memberi pesan kepada kita bahwa dalam membangun negara dan bangsa yang terpenting adalah adanya persatuan dan saling percaya antara pemimpin dengan rakyatnya. Bukannya saling unjuk wibawa agar dijadikan pimpinan ataupun “meminta belas kasihan” negara lain

Tamu Agung menjadi film komedi yang lengkap dengan segala potret sosial politik bangsa kita yang rupanya sejak tahun rilisnya film ini belum membaik, bahkan semakin menjadi-jadi. Kita mungkin tidak akan tertawa terpingkal-pingkal saat melihat film ini seperti kita menyaksikan My Stupid Boss ataupun  film-film Warkop DKI. Namun setidaknya kita kita bisa tersenyum menertawai diri kita sendiri, keadaan bangsa kita sendiri. Semoga saja dengan menertawakan keadaan kita sendiri akan menjadi langkah awal untuk membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Hahaha
penulis : Farid Lutfi Assidqi, mantan ketua PKPT UNNES

ketua DEMA  FTIK sedang berorasi menyampaikan aspirasinya di Hari Pendidikan Nasional.
foto : Aziz

Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (DEMA FTIK) gelar aksi peringati Hari Pendidikan Nasional. Dengan memusatkan aksinya di halaman gedung FTIK. Aksi ini diikuti oleh perwakilan Lembaga Kemahasiswaan yang ada di FTIK, mahasiswa FTIK dan  juga beberapa perwakilan mahasiswa dari Fakultas lain. Dalam aksi yang dimulai pukul 08.00 WIB ini DEMA FTIK lebih menyorot persoalan yang ada di lingkup FTIK (2/5).

FTIK sebagai Fakultas terbesar dan tertua di IAIN Purwokerto pada kenyataanya masih banyak menyisakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama oleh jajaran Birokrat di Fakultas.

Dalam press releasenya, aksi ini menuntut beberapa permasalahan yang menjadi keresahan mahasiswa di kampus IAIN Purwokerto khususnya FTIK. Diantaranya permasalahan dalam pelayanan administrasi kampus, sarana dan prasarana yang belum memadai dan kinerja tenaga pengajar kampus.

Tidak berfungsinya beberapa kamar mandi di gedung FTIK membuat mahasiswa harus mecari kamar mandi di gedung lain ketika akan buang air kecil. “Banyak sekali masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa FTIK terkait sarana dan prasarana, salah satu contoh kecilnya adalah kamar mandi yang menghambat kefektifan belajar mahasiswa,” ujar Anwar Maulidin selaku ketua DEMA FTIK.


Fahrur Roziq mahasiswa Fakultas Dakwah yang menjadi salah satu peserta aksi menyatakan bahwa tujuan utama dari aksi tersebut adalah untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional dan juga sebagai bentuk penyampaian hak-hak mahasiswa terkait dengan fasilitas dan sistem pembelajaran di kampus IAIN yang kurang maksimal.

Receptionist khususnya di FTIK  juga dinilai kurang ramah dalam melayani, ketika dilayani dengan ramah pastinya mahasiswa akan senang dan lebih semangat. Hal lain seperti  Kinerja dosen yang kurang memuaskan tentu berimbas pada kualitas mahasiswa. Transfer ilmu dari dosen ke mahasiswa haruslah dilakukan dengan sungguh-sungguh, agar FTIK ini mampu menghasilkan lulusan yang berkompeten dibidangnya.

“Terkait kinerja dosen banyak juga dosen yang hanya mengajar seenaknya sendiri, Kita disini belajar bukan hanya mencari absen ataupun nilai tapi kita butuh yang namanya ilmu”. jelas Anwar.

“Harapan kami setelah adanya aksi ini, karena saya tadi sudah sowan ke Abah Kholid selaku Dekan satu itu mendukung aksi ini agar sebagai evaluasi fakultas terkait apa yang masih kurang di dalam FTIK,  dan harapannya pastinya apa yang menjadi hak kami ataupun tuntutan kami nanti bisa didengar oleh jajaran yang ada di fakultas dan bener-bener direallisasikan” tambahnya. (Day)


Front Perjuangan Rakyat Banyumas gelar perayaan hari buruh di alun-alun purwokerto.
foto: Annisa

Hari buruh atau May Day dirayakan hari ini, Selasa (1/5). Front Perjuangan Rakyat (FPR) Banyumas menggelar aksi hari buruh di Alun-alun Purwokerto. Aksi  tersebut diikuti oleh beberapa organisasi yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat (FPR).

FPR yang terdiri dari Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) Banyumas, Pemuda Baru Indonesia Banyumas, Front Mahasiswa Nasional (FMN) cabang Purwokerto, FMN ranting UNSOED, FMN ranting UMP, pemuda-pemuda desa di Cilongok, tim kebudayaan baru Purwokerto, serikat perempuan Indonesia Banyumas, pecinta alam Darmapala , dan Aliansi Selamatkan Slamet, dalam rilisnya menuntut :

1. Cabut PP 78 tahun 2015 tentang pengupahan.
2. Berikan jaminan keselamatan kerja kepada seluruh pekerja di Banyumas.
3. Berikan akses pendidikan gratis dan lapanagan pekerjaan yang layak bagi pemuda di Banyumas.
4. Berikan jaminan kesejahteraan bagi guru honorar Banyumas.
5. Realisasi anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN dan APBD.
6. Berikan fasilitas yang layak untuk pekerja seni di Banyumas.
7. Cabut perda no 16 tahun 2015 tentang penyakit masyarakat.
8. Segera berikan ganti rugi dan cabut izin panas bumi mega proyek PLTPB Baturaden.
9. Mewujudkan Reforma Agraria Sejati, bukan Reforma Palsu ala Jokowi.
10. Wujudkan pendidikan yang ilmiah, demokratis dan mengabdi pada rakyat.

Di momen pilkada 2018 permasalahan seperti perburuhan, Pendidikan tinggi yang semakin mahal sehingga tidak bisa diakses rakyat kecil. PLTPB Baturaden dan permasalahan lain di Banyumas harus menjadi perhatian serius. Terutama bagi mereka yang akan duduk di kursi pemerintahan. 

Cendikia Nur Kholik selaku koordinator FPR Banyumas berharap pemimpin berikutnya mampu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di Banyumas. (Ay/Ans)



Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Theme images by fpm. Powered by Blogger.