Kancah Pemikiran Konstruktif

Monday, May 7, 2018

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga


/koshball.blogspot.co.id

Ditengah-tengah kota Jakarta, disudut tiang lampu merah yang gelap tanpa adanya penerangan. Terlihat sesosok lelaki paruh baya tengah duduk, ia ditemani sebuah mangkuk kecil. Kian larut makin samar terlihat hingga lampu kendaraan yang simpang siur di depannya sewaktu-waktu menyorotinya. Terlihat jelas bagaimana dia menggoyangkan mangkuk yang berisi beberapa uang pecahan lima ratusan hingga suaranya mengalihkan perhatian setiap orang yang berlalu dihadapannya. Beberapa orang iba terhadapnya. Namun tak banyak juga orang  yg mengacuhkannya bahkan mencacinya.

Kencring...kencring....

Dua buah uang lima ratusan dan satu lembar uang ribuan dilempar ke arahnya. Dengan segera lelaki itu memungutnya sebelum angin malam membawanya pergi.
Malam yang semakin larut, angin yang kian terasa dingin tak melemahkan semangatnya hingga ia dapat membawa pulang makanan untuk kedua anaknya.

“satu..dua..tiga...” dengan teliti dia mulai menghitung uang yg dia kumpulkan hari ini.
“Alhamdulillah” gumamnya

Segeralah ia membereskan barang-barangnya dan pulang dengan membawa beberapa uang yang tak seberapa jumlahnya. Tono namanya, lelaki tua yang kini menginjak kepala lima ini hidup dengan mengandalkan penghasilannya dari mengemis setiap harinya.

“Hidup di Jakarta itu keras” kata beberapa tetangga Tono di kampung tempat tinggalnya dulu sebelum ia memutuskan untuk pindah ke Jakarta dan mencari pekerjaan di kota yang tak pernah jauh dari kata macet ini. Tak bisa dihindari, takdir yang kini harus menjadikannya hidup serba kekurangan. Bukan kekurangan malah, bahkan kata melarat pun pantas ia sandang.

Sampah menjadi pemandangan yang mau tak mau harus Tono lihat setiap harinya. Bahkan menjadi sahabat dan hiasan pekarangan rumah Tono. Diambang pintu rumah Tono, tampak dua anak kecil tengah mondar-mandir sambil memegangi perut mereka. Tono mempercepat langkahnya dan menghampiri ke dua anak itu. Mereka tampak bahagia dan langsung menyambar kresek yang dibawa Tono. Senyum sedih tampak samar terlihat di wajah Tono yang berusaha untuk disembunyikannya, berharap kedua anaknya tidak melihat.

***
Fajar keluar dari peraduannya. Ayam berkokok memecah keheningan pagi. Sulit dirasa, namun malam benar-benar cepat berlalu. Dengan segera Tono bergegas pergi ke kota sebelum rezekinya hari ini di patok ayam begitulah kata pepatah. 

Dengan modal mangkok Tono berjalan menyusuri trotoar dan berhenti di setiap lampu merah atau persimpangan.
“matur suwun” ucap Tono sesekali pada orang-orang yang dengan ikhlas menyisihkan sebagian hartanya. Dalam benak Tono, pekerjaan ini bukanlah sesuatu yang ia harapkan. Kepindahannya ke Jakarta dengan alasan ingin memperbaiki taraf ekonomi keluarganya. 

Tak seperti di kampung dulu yang hanya mengandalkan upah dari orang-orang yang mempercayainya untuk mengurus kebun atau sawah, itupun jarang dan hasilnya tak seberapa. Tono menjual rumahnya di kampung dan pindah ke Jakarta bersama istri dan kedua anaknya. Alih-alih memperbaiki taraf ekonomi justru membuatnya semakin buruk. Istrinya kabur karena tak tahan dengan keadaannya yang semakin melarat. Kontrakan yang semula ditempatinya kini tak bisa lagi ia tempati karena pembayaran yang kurang lancar dan nunggak beberapa bulan. 

Ia sudah berusaha mencari pekerjaan kesana kemari namun semuanya nihil, tak ada satupun yang tertarik dengan keahliannya. Kini ia tinggal di sebuah gubuk tua di dekat sungai Ciliwung yang penuh dengan sampah. Tak heran jika setiap kali hujan mengguyur Jakarta, air Ciliwung meluap bahkan sampai ke gubuknya. Tono masih bersyukur gubuknya tidak hancur akibat serangan banjir yang kian menjadi sorotan publik.

Seperti biasanya, Tono kini terduduk disamping lampu merah dengan menggoyangkan mangkuk yang berisi beberapa uang recehan. Berbeda dengan kemarin, hari ini banyak sekali orang yang melemparkan uang ke arahnya. Baru  setengah haripun ia sudah mendapatkan uang yang lebih banyak dari yang kemarin ia dapatkan.

”Nasib untung” gumamnya sambil menyimpulkan senyum di bibirnya. Bukan senyum tamak, tapi senyum dengan penuh rasa syukur atas rizki yang ia peroleh hari ini. Namun sesuatu terlintas dipikirannya. Sambil memandangi uang diatas mangkuk ia meratap, alangkah hinanya ia sampai harus menjadi parasit negeri hanya untuk sesuap nasi. Matanya menatap jauh namun tak bertuju, hingga orang yang melempar uang ke arahnya pun tak dihiraukan. Pikirannya terbawa jauh, sampai terbersit  masa depan anaknya jika ia meninggal nanti. Mengingat umurnya yang semakin hari semakin berkurang. Namun apalah daya, biar takdir yang menjawab. Mungkin ia akan menitipkan kedua anaknya ke panti asuhan hingga mereka mendapat orangtua asuh yang mampu membiayai hidup mereka, tidak seperti Tono. Suara klakson membangunkan Tono dari renungannya. Ia tersadar kembali setelah beberapa menit terbawa ke alam angannya.

Jalanan makin siang makin ramai. Pejalan kaki pun kian padat memenuhi trotoar. Sebuah Sedan dengan kecepatan tinggi melaju kencang dari arah utara. Kecepatannya hingga membelah jalanan jakarta yang padat. Seseorang yang tengah menyebrang hampir menjadi korban keganasan mobil. Kejadian itupun menjadi pusat perhatian masyarakat yang melihatnya. Beberapa polisi ikut terjun untuk mengamankan, takut-takut terjadi insiden saling pukul dari teman korban terhadap pelaku. Tono yang saat itu melihatnya ikut mengerumuni korban. Tak ada darah yang tumpah dari peristiwa itu. Hanya saja mobil yang dikendarai pelaku hancur bagian depannya karena menabrak tiang pembatas jalan. Tono hanya bisa menggeleng kepala melihat kejadian itu. Ia kembali ke trotoar sebelum banyak orang yang memperhatikannya.

Hari yang semakin larut mengharuskannya untuk menghentikan kerjanya. Tak lupa nasi uduk slalu dibawanya sebagai buah tangan untuk kedua anaknya. Saat Tono menyusuri jalan menuju rumahnya, tak sengaja ia mendengar suara tangisan. Dengan penuh penasaran akhirnya tono memutuskan untuk mencari sumber suara itu. Suara yang begitu familiar di telinganya. Ternyata suara tangisan itu berasal dari gubuknya sendiri. seketika Ia menghentikan langkah. Sungguh kagetnya saat ia melihat gubuk yang di tempatinya hancur. Tak terasa air mata lelaki paruh baya itu tumpah. Dengan segera Tono melihat sekeliling mencari kedua anakya. Ternyata suara tangisan itu berasal dari kedua anak Tono yang sedang menangis di sudut-sudut tiang yang roboh, perlahan Tono mendekati.

“Apa yang terjadi nak?” ucap tono sambil memeluk kedua anaknya.
“Bapaaaaaaak...” suara tangisan itu semakin kencang sampai-sampai mengundang perhatian tetangganya. Seorang tetangga tampak menghampirinya. Dia menceritakan awal mula terjadinya penggusuran ini. Ternyata gubuk yang di tempati Tono itu ada pemiliknya. Pemiliknya menyuruh beberapa orang untuk menghancurkannya karena lahannya akan dipakai untuk pembuatan pabrik. Begitulah keterangan beberapa tetangga yang melihat kejadian itu.

“Besok si pemilik tanah ini akan datang kesini, kau tunggu saja” seseorang memberikan keterangan.

“Untuk malam ini kau tinggal saja di gubuknya Pak Harto. Kasian anak-anakmu. Kalau kau mau biar ku antar” ajak seorang tetangga yang Tono pun tak mengetahui siapa namanya.

Ia pun akhirnya memenuhi ajakan tetangganya. Diantarkannya Tono dan kedua anaknya ke gubuk Pak Harto yang sebelumnya sudah meminta izin terlebih dahulu kepada si pemilik.

”Gudang beras awalnya, tapi Pak Harto sekarang sudah tidak menggunakannya karena beralih profesi jadi bos bakso. Kalau kau mau pakai saja untuk tempat tinggalmu sementara.” Ucap tetangganya menjelaskan sebelum ia pergi meninggalkan Tono dan kedua anaknya di gubuk itu. 

Malam semakin larut, rasa kantuk mulai menggerogoti Tono. Akhirnya ia tertidur di atas amparan tikar yang sedikit termakan rayap dan membiarkan kedua anaknya tidur di atas ranjang walau agak reyod karena kayunya sudah mulai lapuk. Malam yang terasa singkat namun mereka tertidur cukup pulas dan melupakan kejadian yang telah mereka lalui untuk sejenak.

Setelah disadari hadirnya pagi, Tono bergegas mengambil uang yang disimpannya di kantong celana yang tergantung di dinding yang kemudian ditukarkan dengan dua bungkus nasi untuk makan kedua anaknya. Setelah sampai kembali di gubuk tersebut, Tono membangunkan kedua anaknya kemudian pergi ke kota untuk bekerja dan meninggalkan kedua anaknya.

Angin berhembus meniupkan baliho-baliho iklan di sepanjang jalan Jakarta. Tono bukanlah seorang yang buta huruf, sesekali ia membaca isi dari iklan tersebut. Langkah Tono membawanya ke suatu tempat dimana banyak orang yang bernasib sama sepertinya. Sekelompok pengemis di ujung jalan buntu tengah berkumpul dan menyantap nasi bungkus. Tono ingin menyapa namun siang hampir  memanggilnya sehingga ia harus bergegas pergi ke trotoar di dekat lampu merah.

Matahari benar-benar berada diatas kepala dan Tono mulai lelah. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali. Jalan yang dilalui sama seperti saat dia berangkat tadi. Masih dalam suasana yang sama, di ujung jalan buntu ada segerombol pengemis. Kali ini yang dibawanya bukan lagi sebungkus nasi namun kaleng berisi uang yang tengah  dihitung para pengemis. Kali ini Tono menghampiri dan menyapa teman se-profesinya. Belum sempat menyapa, Polisi datang mengepung tempat tersebut sehingga semuanya panik termasuk Tono. Ternyata pengemis tersebut merupakan pengemis suruhan. Tono berusaha melarikan diri namun apalah daya ia hanya bisa pasrah. Semua pengemis tadi termasuk Tono dibawa ke kantor polisi untuk di proses. Akhirnya Tono beserta pengemis lain di tahan. Pikiran Tono tertuju kepada kedua anaknya. Entah bagaimana keadaan mereka sekarang, Tono hanya bisa meratap disertai air mata yang mengalir deras.


Suatu pekerjaan yang tak baik pada ujungnya berakhir tak baik pula. Sudah jatuh dengan keadaan Tono yang melarat, tertimpan tangga pula dengan masuknya ia ke tahanan beserta anaknya yang terlantar entah dengan siapa.

Penulis  : Sri Roijah, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) semester 4 IAIN Purwokerto
Share:

0 comments:

Post a Comment

TERPOPULER