November 2018




Foto : Peserta Peace Camp Regional Jakarta



Ada pengalaman dan pembelajaran berbeda yang dialami oleh 30 orang muda dari berbagai kampus dan latar belakang selama 3 hari 2 malam di pinggiran daerah Bogor, Jawa Barat pada 4-6 Mei 2018. Kawan-kawan muda ini tak hanya datang dari wilayah-wilayah yang dekat dengan Parung, seperti Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok atau Tangerang, beberapa dari mereka pun rela datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti dari Lampung, Purwokerto, Jakarta, Serang, Tasikmalaya, bahkan dari Jayapura.


Meski datang dari latar belakang dan daerah yang berbeda, satu hal yang mempersatukan mereka adalah keresahan, pergumulan hidup, dan jibaku mereka untuk Indonesia yang lebih damai. Harapan itulah yang kemudian memanggil dan mempersatukan mereka hingga akhirnya kawan-kawan muda ini dengan semangat mengikuti Student Interfaith Peace Camp (SIPC) di Pendawa Center, Parung.

“Penyelenggaraan Peace Camp ini merupakan kali kedua untuk regional Jakarta. Pesertanya terdiri dari 15 orang muda Muslim dan 15 orang muda Kristiani. Mereka telah diseleksi dari sekitar 170an pendaftar. Harapannya melalui Student Interfaith Peace Camp ini akan dihasilkan para agen perdamaian (peacemaker) baru yang selalu berusaha hidup berdamai dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan sekitar”, ungkap Yulinda R.C. Lumban Gaol, Head of Facilitator YIPC Regional Jakarta.

Foto : Sesi doa yang dilakukan oleh peserta beragama  Kristen asal Papua
 dan peserta beragama Islam dari Jakarta


Mengatasi Prasangka, Menyalakan Perdamaian
Selaras dengan tajuk kegiatan ini, fokus pembelajaran yang dihadirkan bagi para calon agen peacemaker adalah 12 Nilai Perdamaian dari Peace Generation yang terdiri dari: (1) Berdamai dengan Diri, (2) Berdamai dengan Sesama, (3) Berdamai dengan Lingkungan, (4) Berdamai dengan Allah, (5) Keberagaman Agama, (6) Keberagaman Sosial Ekonomi, (7) Keberagaman Gender, (8) Mengklarifikasi Prasangka, (9) Memahami Group/Gank, (10) Transformasi Konflik, (11) Menolak Kekerasan, dan (12) Saling Memaafkan. Kedua belas Nilai Perdamaian tersebut dikemas dengan sangat dinamis, menarik, seru dan jauh dari nuansa jemu, serta difasilitasi oleh para fasilitator muda dan handal yang relatif sebaya dengan para peserta. Pun ada begitu banyak ruang dialog yang terjadi.

Hal tersebut diakui oleh Juli Rosan Tabisu, mahasiswi Universitas Sains dan Teknologi Jayapura. Kesan damai yang berpadu dengan keseruan, jenaka dan kekompakan sangat dirasakan oleh Juli ketika acara Api Unggun. “Sangat senang dan bangga bisa ikut Peace Camp tahun ini. Saya banyak belajar, banyak mendapat pengetahuan baru yang belum pernah saya dapat di Papua dan juga teman-teman baru yang luar biasa seru…” ungkapnya ketika ditanya tentang kesan selama mengikuti kegiatan ini.


Mengenal YIPC

 Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) berawal dari sosok Andreas Jonathan dan Ayi Yunus Rusyana yang adalah mahasiswa Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS). Menjawab berbagai harapan akan hadirnya Indonesia yang damai dan perlunya dialog antara Islam dan Kristen, kedua sosok tersebut berinisiatif untuk menyelenggarakan Young Peacemaker Training di Gedung Pasca Sarjana UGM Yogyakarta pada 9-12 Juli 2012 yang diikuti oleh 25 orang mahasiswa S1 Muslim dan Kristiani dari berbagai kampus di Yogyakarta. Mereka inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Young Peacemaker Community (YPC) Yogyakarta.

Young Peacemaker Training tersebut kemudian dilanjutkan dengan berbagai pertemuan reguler diantara para anggota YPC Yogyakarta dalam bentuk interfaith dialogue, kajian Kitab Suci, termasuk penyelenggaraan SIPC pada November 2012 di Pakem yang diikuti oleh sekitar 30 orang mahasiswa dari dalam maupun luar kota Yogyakarta, seperti dari Palembang, Bandung, Kebumen, Solo, Surabaya, dan Madura. Tema yang diusung pada Peace Camp 2012, yakni “Building Peace Generation Through Young Peacemakers” kemudian ditetapkan menjadi motto YPC. Karena makin beragamnya asal daerah peserta, maka setelah Peace Camp 2012, nama YPC Yogyakarta kemudian diubah menjadi YPC Indonesia (YPCI), dan kemudian pada disempurnakan menjadi Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia atau YIPC Indonesia di akhir National Conference pada Juli 2013.

Penyelenggaraan Peace Camp pun kemudian mengalami perkembangan pesat. Pada 2013 tercatat bahwa penyelenggaraan SIPC hanya dilaksanakan di 3 tempat, yakni di Medan (untuk wilayah Sumatera), di Trawas (untuk wilayah Jawa Timur), dan di Kaliurang (untuk wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah) dengan rerata jumlah peserta sebanyak 30 orang mahasiswa Muslim dan Kristiani. Lalu pada paruh kedua tahun 2013, terdapat terdapat 1 lokasi Peace Camp di Jawa Barat sehingga YIPC menyelenggarakan 4 Peace Camp, yakni di Medan, Bandung, Yogyakarta dan Jawa Timur. Perkembangan Peace Camp juga semakin terlihat jika merujuk pada data 2017 lalu dimana YIPC berhasil menyelenggarakan Peace Camp di 5 wilayah, yakni Jawa Tengah, Yogyakarta, Medan, Bandung, dan Jawa Timur, dan selanjutnya pada 2018 dapat terselenggara pula di 6 kota, yakni Bandung, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Medan dan Malang.

Meretas Jalan Damai melalui Generasi Muda

Harus diakui bahwa ragam prasangka kerap memporak-porandakan harmoni keberagaman antar pemeluk agama. Prasangka kemudian menjelma menjadi berbagai tembok dan sekat dalam pergaulan umat manusia. Pun tak jarang prasangka menjelma dengan cepat menjadi konflik Pengalaman pahit tersebut dapat kita amati di berbagai negara, pun di beberapa wilayah di Bumi Pertiwi ini tak terlewat pula oleh bara kebencian itu.

Meskipun demikian upaya memanifestasikan nilai-nilai perdamaian tak boleh kendor. Lewat ruang-ruang dialog seperti Peace Camp, YIPC berupaya menggemakan nilai-nilai perdamaian bagi generasi muda Indonesia agar tergerak menjadi agen perdamaian bagi negeri ini. Generasi muda adalah harapan bagi Indonesia yang damai hari ini dan hari mendatang. Sudah saatnya kita perlu bertekad membangun jembatan-jembatan, memulai dialog-dialog, demi mengatasi prasangka dalam raga kita masing-masing. Agar warna perdamaian terpelihara di Indonesia tercinta ini.

Penulis :
Muhammad Luthfi
(Mahasiswa Semester 8 IAIN Purwokerto, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Obsesi IAIN Purwokerto)

Willem L. Turpijn
(Program & Media Development Yayasan Bhumiksara, Wakil Direktur Eksekutif YOUCAT Center Indonesia)





Foto Bersama Peserta dari KSR PMI Unit IAIN Purwokerto 
Sumber : KSR PMI Unit IAIN Purwokerto

Purwokerto – Ajang ini merupakan ajang perlombaan yang diselenggarakan oleh Korps  Sukarela PMI Unit 3 Veteran Yogyakarta  untuk KSR Unit atau Markas Se-Jawa dengan memperlombakan tiga ketegori yaitu lomba Videografi Promosi Kesehatan, Teknologi Tepat Guna, dan Pertolongan Pertama. Acara yang dilaksanakan di Universitas Veteran Yogyakarta ini diikuti oleh 11 tim, 9 unit dan 1 markas dari ibukota Jakarta. Kesembilan unit tersebut berasal dari univesitas-universitas se-Jawa diantaranya Universitas Ahmad dahlan (UAD), Universitas Airlangga, Universitas Negeri Semarang (Unnes), IAIN Kudus, IAIN Purwokerto, IAIN Tulungagung, Poltekes Semarang, Stikes Surya Global Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta, Poltekes Yogyakarta. Perlombaan ini berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 16 November hingga 18 November 2018.

Ada lima piala kejuaraan yang diperebutkan di Aksi Ketrampilan Relawan Se-Jawa ini, Piala lomba Teknologi Tepat Guna, Piala lomba Videografi Promosi Kesehatan, Piala lomba Pertolongan Pertama, Piala Grade Unit serta Piala Juara Umum. Piala Grade Unit terdiri dari dua kategori yaitu Grade A dan Grade B dinilai melalui proses seleksi ketika berlangsungnya perlombaan. Untuk juara umum, penilaian diambil dari skore tertinggi keseluruan lomba. Ada masing-masing kriteria penilaian dari ketiga lomba tersebut, seperti lomba teknologi tepat guna kriteria yang dinilai yaitu kebermanfaatan alat, penulisan artikel, pemaparan atau presentasi alat, penyesuaian dengan tema. Tema yang diambil dari lomba teknologi tepat guna  adalah teknologi pasca bencana.

KSR Unit IAIN Purwokerto mendelegasikan empat peserta yaitu Dita Safira Aulia, Eka Nurohmawati, Ely Choeriyah, Irfan Faizulhaq, serta satu official yaitu Anisa Nur Khoifah. Dari empat peserta tersebut terbagi menjadi dua kelompok untuk perlombaan Teknologi Tepat Guna dan Videografi Promosi Kesehatan. Pemilihan keempat peserta tersebut dipilih melalui proses seleksi yang dilakukan oleh KSR Unit IAIN Purwokerto dan dibantu oleh PMI Banyumas. Dita Safira salah satu peserta dari KSR PMI Unit IAIN Purwokerto mengungkapkan bahwa untuk persiapan hanya satu bulan, dengan dua minggu pertama fokus pada pertolongan pertama dan dua minggu selanjutnya untuk persiapan yang videografi dan teknologi tepat guna dan lainnya. “ kita kan latihannya mulai dari sore sampai malem ya, sore kita ngurusin videografi daan teknologi tepat guna nah malemnya baru lanjutin yang pertolongan pertama” tambahnya. Dari ketiga perlombaan tersebut, KSR Unit IAIN Purwokerto berhasil memborong dua piala sekaligus, yaitu juara pertama untuk perlombaan Teknologi Tepat Guna yang diwakili oleh Dita Safira Aulia dan Eka Nurahmati. Teknologi yang diperlombakan dari kedua peserta adalah alat penyaringan air untuk korban bencana alam. Dita menjelaskan alasan pemilihan alat tersebut karena air menjadi hal yang sangat vital dan urgen ketika pasca bencana alam terjadi sehingga ketika terjadi bencana dan kondisi air keruh maka air tersebut masih dapat dikonsumsi dengan melalui proses penyaringan dari alat tersebut. Selanjutnya, piala  kedua yang berhasil diraih yaitu dari perlombaan pertolongan pertama. Tim KSR PMI Unit IAIN Purwokerto yang terdiri dari empat peserta berhasil membawa pulang juara kedua.

Tidak berhenti didua pencapaian saja, KSR PMI Unit IAIN Purwokerto yang terbilang merupakan KRS termuda dibandingkan dengan peserta lainnya berhasil merebut Piala Juara Umum dan mendapatkan piala kempat sebagai KSR PMI Unit IAIN Purwokerto dengan Grade A. Sebuah pencapaian yang luar biasa, apalagi perlombaan ini merupakan perlombaan pertama yang diikuti oleh KSR PMI Unit IAIN Purwokerto. Diakui oleh salah satu perserta bahwa persaingan memang sangat ketat, dilihat dari latarbelakang universitas masing-masing peserta yang merupakan universitas favorit diwilayah Jawa. “ Sebenernya kita tidak minder, biasa saja. Karena kita tidak berharap yang terlalu banget untuk jadi juara, optimis tetap ada tapi ya tidak terlalu berharap lebih untuk jadi juara” ucap Dita disela wawancara. Dita juga mengungkapkan rasa bahagianya ketika mendengar IAIN Purwokerto keluar sebagai juara umum di Aksi Ketrampilan Relawan Se- Jawa. “Sempat bengong sebentar, tidak nyangka yang menjadi juara adalah kita padahal ada IAIN Kudus yang mendapatkan piala lebih banyak dari kita. Ini adalah keberuntungan kita” jelasnya. Ia juga menjelaskan kembali bahwa peraihan juara umum diambil dari skore yang tertinggi dari ketiga perlombaan, dan IAIN Purwokerto mendapatkan skore lebih tinggi dari IAIN Kudus meskipun dalam jumlah piala lebih sedikit kerena IAIN Purwokerto berhasil mendapatkan dua juara tertinggi yaitu juara 1 dan juara 2.
Sumber : KSR PMI Unit IAIN Purwokerto

Pencapaian ini bukan hanya membanggakan KSR PMI Unit IAIN Purwokerto sendiri akan tetapi juga dapat mengangkat nama baik almamater IAIN Purwokerto dikancah luar. Akan tetapi, ada yang sedikit disayangkan, diakui oleh peserta bahwa dari pihak IAIN Purwokerto sendiri belum ada tindakan atau pemberian apresiasi terhadap peserta. “Belum ada respon apa-apa dari kampus, mungkin karena masih baru dan sekarang hari Minggu. Tetapi pembina kita sudah tahu, kita sedang menunggu kabar” ucap Dita yang ditemui pada Minggu pagi.  Akan tetapi, pada Selasa (20/11) sekita rpukul 08.30 WIB kami kembali mengkonfirmasi salah satu peserta melalui pesan WhatApp bahwa masih belum ada konfirmasi ataupun kabar dari pihak kampus mengenai peraihan ini. “Belum ada respon, kita sedang menunggu  pembina pulang” jawab Eka Nurohmawati melalui pesan WhatApp.
Dita berharap untuk kedepannya semoga KSR semakin maju, lebih bermanfaat bagi oraang banyak dan juga kampus. Karena ternyata mahasiswa IAIN Purwokerto sebenarnya memiliki potensi yang baik, ia juga berharap dari pihak kampus dapat menyalurkan mahasiswa yang potensi dan berprestasi keranah yang lebih baik.


Reporter   : Annisa
Editor       : Arif










Foto : Annisa

Bertempat di lapangan parkir belakang gedung rektorat IAIN Purwokerto, malam puncak acara Dies Natalis IAIN Purwokerto dimeriahkan oleh penampilan Youtuber Alif Rizky atau yang dikenal dengan nama Paijo. Minggu (18/11)

Berbeda dengan rangkaian acara  diesnatalis IAIN Purwokerto sebelumnya yang terlihat tidak begitu ramai, pada malam tadi kampus terlihat dipenuhi penonton yang mayoritas dari kalangan mahasiswi IAIN Purwokerto, hal ini dikarenakan adanya penampilan guest starr youtuber terkenal yaitu Alif Rizky.

Seperti penuturan mahasiswi dari fakultas dakwah " Mahasiswa kurang antusias dalam acara disnatalis yang hari kemarin, taunya acara malam puncak yang ada guess starnya doang, terus yang menarik dalam puncak acara ini bisa mendatangkan artis youtuber seperti Alif Rizky" ujar Amartya Nur Aisyah mahasiswi KPI.

Malam puncak acara dies Natalis untuk merayakan hari ulang tahun IAIN Purwokerto yang ke-56 ini dibuka dengan laporan kegiatan dari Ketua Panitia Ayu Diah dan sambutan-sambutan dari Ketua Dema dan WAREK III.
Dr. H. Supriyanto, Lc, M.S.I beliau berpesan kepada mahasiswa bahwa apapun kerja kita orientasinya adalah menjadikan kampus kita menjadi nomer satu, caranya anda yang punya potensi dan bakat serta kemampuan yang baik dikembangkan dengan baik, berkompetisi dengan kampus lain. Kita perlu bangga dan gembira menjawab kita kuliah di IAIN Purwokerto.
Dan beliau juga berharap kepada kepanitiaan  kedepan dapat lebih masif lagi dalam merencanakan konsep diesnatalis tahun selanjutnya.

Setelah itu dilanjutkan dengan acara pembagian hadiah kepada pemenang lomba termasuk The Best Student atau Duta IAIN yaitu Muhammad Riza perwakilan dari Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiyah yang diharapkan selain menjadi icon IAIN dapat juga ikut serta dalam perlombaan pemilihan duta PTKIN se-Indonesia, dan kedepannya dapat mengenalkan  IAIN Purwokerto di luar kampus.


Foto : Best Student IAIN Purwokerto 2018


Foto : Penampilan Paijo 

Sebagai hiburan sebelum memasuki puncak acara,  ada penampilan band dari UKM Master dan Band pemenang lomba Dies Natalis IAIN Purwokerto, kemudian  dilanjutkan  dengan penampilan dari Guess star yang dibagi menjadi dua sesi, yaitu sesi pertama sebagai Aliff rizky dan sesi kedua sebagai Paijo dengan ciri khasnya yang memakai pakaian adat jawa dan tidak lupa pula memakai blangkon (penutup kepala khas budaya jawa).

 Mahasiswa antusias pada malam puncak acara ini terbukti dengan kesan yang diutarakan oleh Guess star Youtuber Aliff Rizky
 "IAIN Purwokerto luar biasa, off air ter-ramai selama perfom Aliff Rizky atau mas pajio, terima kasih dan sukses terus" tuturnya.
Namun Antusias pada malam puncak acara berbeda dengan antusias pada acara rangkaian dies natalis yang diselenggarakan sebelumnya. Beberapa acara terlihat tidak begitu ramai dipadati penonton. Hal tersebut juga dibenarkan oleh ketua panitia, kurangnya sosialisasi terhadap mahasiswa menjadi salah satu kendala yang menyebabkan mahasiswa kurang mengetahui acara tersebut.

Persiapan konsep acara Dies Natalis IAIN  Purwokerto sebenarnya sudah dilakukan dua bulan, namun karena terdapat kendala dalam pertemuaan dengan ormawa dan pimpinan untuk penyampain konsep sehingga baru pada dua minggu sebelum hari H konsep baru ditetapkan. Persiapan yang hanya dalam kurun waktu dua minggu itu, menjadikan salah satu kurangnya panitia dalam mensosialisasi acara tersebut dan juga minat dari mahasiswa yang kurang meskipun sudah disosialisasikan ke masing-masing kosma. Namun, Ayu menuturkan bahwa  meskipun acara dies natalis kali ini belum termasuk dalam keberhasilan yang di inginkan tetapi untuk persiapan acara yang hanya dalam kurun waktu dua minggu  sudah cukup memuaskan.

 Selanjutnya ketua panita menyampaikan harapanya "semoga IAIN Purwokerto semakin maju dan semakin jaya, dan untuk acara dies natalis selanjutnya supaya bisa maksimal lagi dan persiapannya supaya lebih dimantapkan" tutupnya.

Reporter : Aiq
Penulis    : Dayu
Editor       : Annisa



Foto : Annisa

PURWOKERTO –  IAIN Purwokerto kembali merayakan Dies Natalis yang ke-56. Acara Dies Natalis tersebut dibuka pada hari ini Kamis (15/11) di halaman Rektorat IAIN Purwokerto. Pembukaan dihadiri oleh Rektor IAIN Purwokerto serta tamu undangan dari BEM Universitas UNWIKU, UMP dan AMIKOM.

Sebelum memasuki acara  pembukaan Dies Natalis IAIN Purwokerto ke-56, acara dimeriahkan oleh aksi dari Kenthongan UKK Pramuka yang  melantunkan beberapa lagu. Kemudian dilanjutkan dengan acara inti yaitu pembukaan Dies natalis IAIN Purwokerto yang ke-56.  Diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diiringi oleh Paduan Suara Parade  Insani dari UKM Master. Dilanjutkan dengan sambutan pertama dari ketua panitia, sambutan kedua oleh Presiden Mahasiswa IAIN Purwokerto dan  sambutan terakhir oleh Rektor IAIN Purwokerto sekligus membuka acara pembukaan Dies Natalis IAIN Purwokerto ke-56.
Diakhir sambutannya, Rektor IAIN Purwokerto menyampaikan selamat kepada DEMA dan SEMA  IAIN Purwokerto dan mahasiswa kerena selalu melakukan inovasi-inovasi baru terhadap IAIN Purwokerto khususnya pada acara Dies Natalis tahun ini. “Dan kemudian saya ucapkan selamat bertanding semoga nilai-nilai sportifitas dan nilai-nilai perjuangan komitmen yang tinggi senantiasa hadir dalam diri kita semua” lanjutnya.

Dengan mengucapkan kalimat basmalah acara Dies Natalis IAIN Purwokerto ke-56 resmi dibuka dan dilanjutkan dengan pemukulan gong bersama oleh Rektor IAIN Purwokerto, Ketua Panitia dan Presiden Mahasiswa.

Tema yang diusung pada perayaan Dies Natalis IAIN Purwokerto ke-56 ini adalah “Meneguhkan IAIN Purwokerto Sebagai Destinasi Studi Islam Dunia”. Tema tersebut merupakan tema yang diberikan langsung oleh Rektor IAIN Purwokerto Dr. H. Lutfi Hamidi, M.Ag. Tujuan dipilihnya tema tersebut yaitu untuk memeperkokoh visi dan misi dari IAIN Purwokerto yang Unggul, Islami dan Berkeadaban.


Namun, ada sedikit pemandangan yang kurang pada  barisan peserta diacara pembukaan Dies Natalis pagi tadi. Peserta yang merupakan delegasi dari masing-masing Prodi tiap Fakultas, dari Lembaga Kemahasiswaan serta kontingen-kontingen tidak terlihat penuh mengisi barisan. Hal tersebut juga dibenarkan oleh ketua panitia. Bahwa sebenarnya, tiap kelas dari masing-masing prodi  mendelegasikan 5 mahaiswa untuk menjadi peserta pembukaan. Namun, pada waktu yang ditentukan mahasiswa banyak yang memilih perkuliahan meskipun dari pihak panitia sudah menyiapkan surat dispensasi untuk mahasiswa. “Tapi tadi dari beberapa kontingen tidak dapat hadir karena lebih mementingkan kuliah” tutur Ayu Widia selaku ketua panitia.

Rangkaian acara Dies Natalis IAIN Purwokerto ke-56 ini berlangsung hingga tanggal 18 November 2018. Dengan berbagai lomba-lomba diantaranya lomba puisi, hadroh, lomba voli.  Ada sedikit perbedaan pada rangkaian acara Dies Natalis ke-56 ini, yaitu diadakannya IAIN Purwokerto Best Student dan perebutan Piala Rektor. Diakhir acara akan diadakan Jalan Sehat untuk mahasiswa dan umum dan puncaknya ada dilaksanakan pada malam hari.

Ayu Widia sebagai ketua panitia sangat mengharapkan antusias yang lebih dari mahasiswa IAIN Purwokerto dalam perayaan Dies Natalis ke-56 ini. “Simpel aja, semoga acaranya sukses dan lancar” tutupnya diakhir wawancara.


Reporter : Aulia Insan
Editor : Annisa Maulina



Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.