Kancah Pemikiran Konstruktif

Tuesday, November 20, 2018

Sebuah Pesan Pergumulan Orang Muda dari Peace Camp 2018




Foto : Peserta Peace Camp Regional Jakarta



Ada pengalaman dan pembelajaran berbeda yang dialami oleh 30 orang muda dari berbagai kampus dan latar belakang selama 3 hari 2 malam di pinggiran daerah Bogor, Jawa Barat pada 4-6 Mei 2018. Kawan-kawan muda ini tak hanya datang dari wilayah-wilayah yang dekat dengan Parung, seperti Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok atau Tangerang, beberapa dari mereka pun rela datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti dari Lampung, Purwokerto, Jakarta, Serang, Tasikmalaya, bahkan dari Jayapura.


Meski datang dari latar belakang dan daerah yang berbeda, satu hal yang mempersatukan mereka adalah keresahan, pergumulan hidup, dan jibaku mereka untuk Indonesia yang lebih damai. Harapan itulah yang kemudian memanggil dan mempersatukan mereka hingga akhirnya kawan-kawan muda ini dengan semangat mengikuti Student Interfaith Peace Camp (SIPC) di Pendawa Center, Parung.

“Penyelenggaraan Peace Camp ini merupakan kali kedua untuk regional Jakarta. Pesertanya terdiri dari 15 orang muda Muslim dan 15 orang muda Kristiani. Mereka telah diseleksi dari sekitar 170an pendaftar. Harapannya melalui Student Interfaith Peace Camp ini akan dihasilkan para agen perdamaian (peacemaker) baru yang selalu berusaha hidup berdamai dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan sekitar”, ungkap Yulinda R.C. Lumban Gaol, Head of Facilitator YIPC Regional Jakarta.

Foto : Sesi doa yang dilakukan oleh peserta beragama  Kristen asal Papua
 dan peserta beragama Islam dari Jakarta


Mengatasi Prasangka, Menyalakan Perdamaian
Selaras dengan tajuk kegiatan ini, fokus pembelajaran yang dihadirkan bagi para calon agen peacemaker adalah 12 Nilai Perdamaian dari Peace Generation yang terdiri dari: (1) Berdamai dengan Diri, (2) Berdamai dengan Sesama, (3) Berdamai dengan Lingkungan, (4) Berdamai dengan Allah, (5) Keberagaman Agama, (6) Keberagaman Sosial Ekonomi, (7) Keberagaman Gender, (8) Mengklarifikasi Prasangka, (9) Memahami Group/Gank, (10) Transformasi Konflik, (11) Menolak Kekerasan, dan (12) Saling Memaafkan. Kedua belas Nilai Perdamaian tersebut dikemas dengan sangat dinamis, menarik, seru dan jauh dari nuansa jemu, serta difasilitasi oleh para fasilitator muda dan handal yang relatif sebaya dengan para peserta. Pun ada begitu banyak ruang dialog yang terjadi.

Hal tersebut diakui oleh Juli Rosan Tabisu, mahasiswi Universitas Sains dan Teknologi Jayapura. Kesan damai yang berpadu dengan keseruan, jenaka dan kekompakan sangat dirasakan oleh Juli ketika acara Api Unggun. “Sangat senang dan bangga bisa ikut Peace Camp tahun ini. Saya banyak belajar, banyak mendapat pengetahuan baru yang belum pernah saya dapat di Papua dan juga teman-teman baru yang luar biasa seru…” ungkapnya ketika ditanya tentang kesan selama mengikuti kegiatan ini.


Mengenal YIPC

 Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) berawal dari sosok Andreas Jonathan dan Ayi Yunus Rusyana yang adalah mahasiswa Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS). Menjawab berbagai harapan akan hadirnya Indonesia yang damai dan perlunya dialog antara Islam dan Kristen, kedua sosok tersebut berinisiatif untuk menyelenggarakan Young Peacemaker Training di Gedung Pasca Sarjana UGM Yogyakarta pada 9-12 Juli 2012 yang diikuti oleh 25 orang mahasiswa S1 Muslim dan Kristiani dari berbagai kampus di Yogyakarta. Mereka inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Young Peacemaker Community (YPC) Yogyakarta.

Young Peacemaker Training tersebut kemudian dilanjutkan dengan berbagai pertemuan reguler diantara para anggota YPC Yogyakarta dalam bentuk interfaith dialogue, kajian Kitab Suci, termasuk penyelenggaraan SIPC pada November 2012 di Pakem yang diikuti oleh sekitar 30 orang mahasiswa dari dalam maupun luar kota Yogyakarta, seperti dari Palembang, Bandung, Kebumen, Solo, Surabaya, dan Madura. Tema yang diusung pada Peace Camp 2012, yakni “Building Peace Generation Through Young Peacemakers” kemudian ditetapkan menjadi motto YPC. Karena makin beragamnya asal daerah peserta, maka setelah Peace Camp 2012, nama YPC Yogyakarta kemudian diubah menjadi YPC Indonesia (YPCI), dan kemudian pada disempurnakan menjadi Young Interfaith Peacemaker Community Indonesia atau YIPC Indonesia di akhir National Conference pada Juli 2013.

Penyelenggaraan Peace Camp pun kemudian mengalami perkembangan pesat. Pada 2013 tercatat bahwa penyelenggaraan SIPC hanya dilaksanakan di 3 tempat, yakni di Medan (untuk wilayah Sumatera), di Trawas (untuk wilayah Jawa Timur), dan di Kaliurang (untuk wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah) dengan rerata jumlah peserta sebanyak 30 orang mahasiswa Muslim dan Kristiani. Lalu pada paruh kedua tahun 2013, terdapat terdapat 1 lokasi Peace Camp di Jawa Barat sehingga YIPC menyelenggarakan 4 Peace Camp, yakni di Medan, Bandung, Yogyakarta dan Jawa Timur. Perkembangan Peace Camp juga semakin terlihat jika merujuk pada data 2017 lalu dimana YIPC berhasil menyelenggarakan Peace Camp di 5 wilayah, yakni Jawa Tengah, Yogyakarta, Medan, Bandung, dan Jawa Timur, dan selanjutnya pada 2018 dapat terselenggara pula di 6 kota, yakni Bandung, Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Medan dan Malang.

Meretas Jalan Damai melalui Generasi Muda

Harus diakui bahwa ragam prasangka kerap memporak-porandakan harmoni keberagaman antar pemeluk agama. Prasangka kemudian menjelma menjadi berbagai tembok dan sekat dalam pergaulan umat manusia. Pun tak jarang prasangka menjelma dengan cepat menjadi konflik Pengalaman pahit tersebut dapat kita amati di berbagai negara, pun di beberapa wilayah di Bumi Pertiwi ini tak terlewat pula oleh bara kebencian itu.

Meskipun demikian upaya memanifestasikan nilai-nilai perdamaian tak boleh kendor. Lewat ruang-ruang dialog seperti Peace Camp, YIPC berupaya menggemakan nilai-nilai perdamaian bagi generasi muda Indonesia agar tergerak menjadi agen perdamaian bagi negeri ini. Generasi muda adalah harapan bagi Indonesia yang damai hari ini dan hari mendatang. Sudah saatnya kita perlu bertekad membangun jembatan-jembatan, memulai dialog-dialog, demi mengatasi prasangka dalam raga kita masing-masing. Agar warna perdamaian terpelihara di Indonesia tercinta ini.

Penulis :
Muhammad Luthfi
(Mahasiswa Semester 8 IAIN Purwokerto, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Obsesi IAIN Purwokerto)

Willem L. Turpijn
(Program & Media Development Yayasan Bhumiksara, Wakil Direktur Eksekutif YOUCAT Center Indonesia)



Share:

0 comments:

Post a Comment

TERPOPULER