Juli 2019


Ilustrasi: Ai 

Indonesia merupakan negara multikultural dengan beragam suku dan budaya, bahkan agama. Agama pun masih terbagi atas berbagai aliran, salah satunya agama Islam. Keberagaman,mulai dari madzhab yang dianut, kyai yang dijadikan panutan, sampai berbagai kajian dan majlis taklim yang diikuti. Perbedaan ini menimbulkan tumbuhnya berbagai organisasi islam diantaranya, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Salafi, dan sebagainya.
Keberagaman ini sudah ada di Indonesia sejak lama. Yang paling menonjol adalah 2 organisasi besar Islam di nusantara yakni Nahdlatul Ulama yang berdiri sejak 1926 oleh K. H. Hasyim Asy'ari, serta Muhamadiyah yang didirikan tahun 1912 oleh K. H. Ahmad Dahlan. Keduanya sama-sama memiliki pondasi yang kuat dalam persoalan aqidah, hubungan terhadap sesama manusia, terutama hubungan terhadap sang Kholiq. Hal ini sering menyebabkan perbedaan yang mencolok. Nahdlatul Ulama yang lebih dikenal seperti islam tradisional, dalam artian, syariat-syariat islam yang masuk ke indonesia sudah banyak yang mengalami akulturasi. Sedangkan Muhammadiyah lebih dikenal dengan islam modern yang tentu saja, memisahkan antara tradisi budaya dengan ibadah.
Perbedaan ini kerap menimbulkan banyak perdebatan. Sebagai contoh umum, Nahdatul Ulama  kental dengan tradisi  tahlilan yaitu berdoa bersama untuk mendoakan sanak keluarga atau saudara yang sudah meninggal, sedangkan dalam ajaran muhammadiyah menganggap bahwa tradisi tahlilan ini tidak perlu dilakukan. Sikap inklusif dan toleran tentu akan sangat membantu dalam menyikapi perbedaan ini. Namun ini akan berbeda jika yang ditunjukkan adalah sikap intoleran dan eksklusif. Ini sering menimbulkan pelbagai problematika seperti saling sindir, mengklaim kebenaran secara sempit,hingga membatasi pergaulan.Ketika fanatisme tumbuh didalam diri seseorang, seharusnya toleransi tetap ada. Namun ironisnya, toleransi semakin menipis dan justru sikap permusuhan yang diperlihatkan.
Tapi yang menarik adalah, berbeda dengan  keluarga Sukendar (nama tidak sebenarnya). Warga Desa Ledug, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas ini yang memiliki 4 orang anak dan sudah berkeluarga. Si Sulung merupakan penganut Muhammadiyah, berbeda dengan orangtua dan ketiga adiknya yang penganut Nahdlatul Ulama. Perbedaan ini sering membuat mereka berbeda pendapat. Namun, bukankah berbeda pendapat itu termasuk hal yang wajar?
Nilai-nilai toleransi dalam keluarga ini masih terlihat sangat jelas. Meskipun sudah berbeda rumah tetapi masih satu desa. Ketika orangtua si sulung mengadakan peringatan kematian, atau apapun yang berkaitan dengan tahlilan,ia tetap hadir meskipun hanya duduk diam tanpa ikut membaca lantunan lantunan ayat suci layaknya tamu lainnya. Kehadirannya hanya untuk menghargai kedua orangtuanya.  Tak jarang pula, si sulung ini sering memberikan berbagai wejangan kepada keluarga. Memang tidak dapat dipungkiri, sering sekali perdebatan muncul. Akan tetapi, ketika suasana mulai memanas, selalu ada yang mengakhirinya. Bukan marah, bukan pula tersinggung, hanya diam untuk meredakan suasana.
Perbedaan yang lainnya muncul ketika Hari Raya Idul Fitri. Beberapa tahun silam, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam merayakan hari Raya Idul Fitri berbeda harinya. Hal semacam ini sudah biasa terjadi. Ia tetap melaksanakan sholat ied di masjid Muhammadiyah. Lalu, keesokan harinya baru bisa merasakan halal bi halal dengan keluarga maupun tetangga sekitar.
Sebuah bentuk toleransi yang nyata. Sesederhana itu bukan, memelihara sifat toleransi terhadap orang-orang yang disayang.
Meskipun pada kenyataannya,  hidup di kelilingi oleh kaum mayoritas ini tentu saja membatasi ruang publiknya. Mulai dengan interaksi bersama tetangga sekitar, hingga pembatasan waktu main untuk anak.Dari mulai cara berpakaiannya, celana diatas mata kaki, baju koko yang panjangnya hingga lutut, jilbab besar, hingga cadar. Semua ini masih dianggap aneh bagi kaum mayoritas.
Membatasi ruang publik bukan berarti anti sosial. Menghabiskan waktu lebih banyak dirumah namun interaksi tetap berjalan. Tetap menghadiri ketika ada gotong royong atau hajatan.
Toleransi tidak muluk-muluk selalu tentang cara ibadah. Toleransi sosial pun sangat dibutuhkan agar tercipta kenyamanan hidup berdampingan dalam masyarakat. Jika memang sifat tenggang rasa dengan orang banyak tidak mudah dilakukan, tidak ada salahnya memulai dari orang-orang terdekat.Tenggang rasa akan terasa mudah jika fanatisme dalam diri seseorang bisa ditempatkan pada yang seharusnya dengan tanpa ada perilaku yang merendahkan pihak lain. Indonesia ada karena banyaknya perbedaan dan kuatnya sifat toleransi pada manusianya.

Penulis : Aulia Insan
Editor : Aisyah


Mengenal lebih lanjut Kuliah Kerja Nyata (KKN)
Oleh: Rica


Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa dengan pendekatan lintas keilmuan dan sektoral pada waktu dan daerah tertentu. Pelaksanaan kegiatan KKN biasanya berlangsung antara satu sampai dua bulan dan bertempat di Desa-desa.  Kuliah di luar ruang kelas ini bertujuan untuk berinteraksi secara langsung dengan masyarakat.

Seperti perguruan tinggi negri lainnya bulan Juli 2019 ini IAIN Purwokerto juga mengadakan Kuliah Kerja Nyata yang ke-44 bagi mahasiswanya. Memang setiap tahunya sudah secara rutin diadakan, untuk  KKN ke-44  tahun ini dibagi menjadi 3 jenis yaitu PAR, RM, dan Nusantara.
Untuk lebih tahu lebih dalam bagaimana  KKN 44 di IAIN Purwokerto, mari kita ikuti wawancara eksklusif wartawan LPM Obsesi dengan Nurma Ali Ridlwan, M.Ag., Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat IAIN Purwokerto.
Apa itu Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Purwokerto ?
KKN itu bagian dari kegiatan akademik, sebagaimana juga mata kuliah yang dilakukan di lapangan. Dalam hal ini adalah dimasyarakat secara langsung. KKN itu Kuliah Kerja Nyata yang sebenarnya juga kuliah tapi tempatnya tidak diruang kelas, merupakan bagian dari suatru proses bermasyarakat secara langsung.

Apa saja jenis-jenis KKN yang ada di IAIN Purwokerto ?
Di IAIN Purwokerto ada empat jenis KKN. Namun pada tahun ini hanya tiga jenis saja yang dilaksanakan, yaitu KKN Revolusi Mental (RM), KKN Participatory Action Research (PAR), dan KKN Nusantara. Berikut penjelasanya:
1.      KKN Revolusi Mental
KKN Revolusi Mental bertempat di Kabupaten Kebumen, Kecamatan Petanahan. Sebanyak 400 mahasiswa baik putra maupun putri dikirim ke sana. KKN ini merupakan KKN dalam rangka mengajak masyarakat secara bersama-sama untuk membangun diri, lingkungan dan masayarakatnya dari berbagai macam aspek SDM dan potensi alam yang ada di wilayah tersebut. Kepentingannya adalah untuk peningkatan kemajuan masyarakat itu sendiri. Mengubah atau mengajak masyarakat secara bersama-sama untuk membangun diri, merevolusi mental dari yang tidak baik menuju baik, dari malas menjadi semangat, dari membiarkan potensi yang ada menjadi menghidupkan potensi yang ada, sehingga menjadi kesejahteraan hidup di masyarakat. KKN RM memiliki program khusus yaitu sesuai yang disampaikan oleh pemerintah daerah Kebumen. Program tersebut diantaranya adalah kesehatan, peningkatan SDM, dan utamaya pada peningkatan SDM.
2.      KKN PAR
Sesuai dengan namanya Participatory Action Research,  nanti masyrakat secara bersama-sama dengan mahasiswa untuk menemukan potensi-potensi yang ada di desa tersebut. Kemudian mencari tau sebenarnya yang dibutuhkan oleh masyarakat selama ini namun belum banyak yang diketahui. Program  dari KKN ini tidak bersifat top-down tapi lebih pada bottom-up, secara bersama-sama menemukan masalah yang ada dimasyarakat. Program lebih kondisional melihat situasi di wilayah tersebut. KKN PAR angkatan 44 ini sebanyak 500 mahasiswa yang ditempatkan di Kabupaten Purbalingga dan Banjarnegara.
3.      KKN Nusantara
KKN Nusantara merupakan program Nasional dari Kementrian Agama. Untuk kuota KKN ini yaitu minimal 3 mahasiswa dan maksimal 10 mahasiswa yang akan ditempatkan di Maluku. Pembekalan yang dilakukan yaitu secara khusus. Kemudian sistem pelaksanaannya yaitu di sana akan digabung dengan mahasiswa dari perguruan tinggi lainnya. Karena dikirim diwilayah-wilayah yang ada diluar seperti itu, tentunya tidak lepas dari upaya untuk membangun masyarakat baik dari aspek SDM maupun yang lainnya.
Sebenanya ada jenis KKN Pertukaran, namun dari mahasiswa tidak ada yang mendaftarkan diri. Sehingga tahun ini IAIN Purwokerto tidak melakukan KKN pertukaran ke pergurun tinggi lainnya. Namun, IAIN Purwokerto tetap menerima mahasiswa pertukaran dari STAIN Bengkalis dan IAIN Palangkaraya. Mereka yang kesini kita gabungkan dengan PAR maupun RM. Dari Bengkalis megirimkan kesini 5 mahasiswa yang terdiri dari 4 mahasiswi dan 1 mahasiswa. Dan dari Palangkaraya mengirimkan 10 mahasiswa yang terdiri dari 9 mahasiswi dan 1 mahasiswa. Mereka mengikuti program KKN yang ada di IAIN purwokerto.
Alasan tidak ada yang mendaftar KKN pertukaran ini yaitu karena KKN ini dengan biaya mandiri yang otomatis juga dari sisi kos lebih besar. KKN ini bisa dikatakan “kemauan masing-masing perguruan tinggi”. Namun dari kampus sendiri tidak ada bantuan biaya karena memang tidak teranggarkan.

Program apa saja yang pernah dilakukan dalam KKN ?
Salah satu program yang pernah dilakukan yaitu Tematik. Tematik itu kita mengambil tema-tema tertentu yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat atau pemerintah pada saat itu. Seperti contohnya pada masa lalu pernah melakukan tematik buta aksara. Jadi kita mengentaskan buta aksara yang ada di desa tersebut dengan kita bekerja sama dengan DINPORA. Selama KKN itu melakukan kegitan untuk mengentaskan buta aksara yang ada di masyarakat tersebut. Kita juga pernah melakukan tematik pengentasan kemiskinan. Karena saat itu selaras dengan program pemerintah. Dimana pemerintah sedang getol-getolnya untuk mengurangi angka kemiskinan. Jadi pengentasan kemiskinan disana kemudian kita berupaya bersama-sama masyarakat dan pemerintah bagaimana menyadarkan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan hidup dirinya masing-masing.

Bagaimana hasil dari program tematik yang pernah dilakukan ?
Selama kita melakukan evaluasi dengan pemerintah daerah, kita selalu mendapatkan apresiasi yang cukup baik ini dengan indikasi setiap kita melakukan KKN kita diminta kembali ke daerah tersebut. Ini indikator yang paling mudah, ketika tidak memiliki hasil yang baik, maka kita tidak diberi tempat lagi di sana. Contohnya seperti di Purbalingga, Banjarnegara  dan yang lain yang kita gunakan untuk KKN, selalu ada permintaan ke kampus untuk wilayahnya ditempatkan KKN IAIN Purwokerto. Namun pada tahun ini tidak ada program tematik karena barangkali belum ada sesuatu  yang harus digarap secara khusus serta dari  pemerintah sendiri tidak ada program secara khusus.

Bagaimana sistem seleksi untuk peserta KKN ?
Seleksi KKN berdasarkan syarat-syaratnya, diantaranya :
Seleksi kelulusan pada aspek-aspek tertentu dari aspek SKS dia sudah harus lulus minimal 101 SKS, kemudian syarat-syarat lain seperti lulus BTA-PPI, dan syarat-syarat administrasi secara umum. Kalau itu semua terpenuhi maka kita punya pertimbangan yang lain seperti aktif dikegiatan yang dibuktikan dengan sertifikat yang akan menjadi faktor pendukung. Kemudian yang lain kita terbatas dengan kuota. Sehingga ketika pedaftar melebihi kuota, otomtis akan tergeser tidak diikutkan dengan KKN angkatan kali ini. bagaimana kita menggesernya, yaitu kita rangking dengan beberapa catatan pertimbangan. Kemudian yang tergeser masuk ke dalam antrian angkatan selanjutnya, namun diangkatan depan mereka harus mendaftar ulang lagi tapi tetap akan menjadi prioritas.

Bagaimana model tempat tinggal dan pembayarannya selama pelaksanaan KKN ?
Model tempat tinggal yaitu Living Kost di rumah warga. Tahun ini ada patokan harganya yaitu dengan alasan agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat serta terjadi proses pemerataan. Pematokan harga kita sudah melihat berbagai macam aspek, situasi, kondisi, kemampuan kita dan masyarakat terhadap harga-harga kebutuhan yang ada. Sehingga kita patok maksimal Rp 30.000/hari/orang. Itu tidak hanya untuk makan, tapi secara keseluruhan untuk tempat tinggal, makan dan sebagainya. Sehingga kalau 45 hari, membutuhkan untuk kepentingan living kost sekitar Rp 1.350.000/anak.

Bagaimana harapan LPPM IAIN Purwokerto mengenai pelaksanaan KKN ?
Harapan secara akademik tentunya akan menjadikan Mahasiswa menjadi semakin memahami dan dapat menerapkan ilmu-ilmu yang sudah diperoleh dari kampus untuk kemudian diterapkan di Masyarakat. Kedua, akan meningkatkan pengetahuan yang diperoleh mahasiswa, karena dia sudah terjun langsung ke masyarakat. Ketiga ara sosial kemasyarakatan, kita juga memiliki kepentingan, kampus perlu dikenal secara luas oleh masyarakat.


Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.