Agustus 2019


Persiapan formasi papermob  


Purwokerto - Persiapan pembentukan formasi Papermob Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Purwokerto 2019 dimulai pada pukul 06.45, acara diawali dengan apel pagi di halaman Rektorat IAIN Purwokerto. Setelah itu peserta berangkat menuju lapangan purwanegara dengan berjalan kaki dan di pandu oleh panitia dan juga beberapa anggota dari tim polisi keamanan lalu lintas (14/8).

Papermob merupakan salah satu rangkaian kegiatan acara PBAK IAIN Purwokerto 2019 yang di ikuti oleh 2684 peserta dari Mahasiswa Baru IAIN Purwokerto. Pada Papermob kali ini seperti halnya PBAK tahun lalu panitia memilih Lapangan Purwanegara sebagai tempat pelaksanaan Papermob dikarenakan lapangan tersebut lebih luas mengingat halaman kampus memiliki keterbatasan tempat untuk mencakup seluruh maba PBAK 2019. Selain itu panitia juga sudah merancang 10 bentuk formasi, diantaranya Logo IAIN Purwokerto, Merah Putih PBAK 2019, HUT RI-74 dan beberapa formasi kaligrafi. Arih selaku Divisi Acara menuturkan bahwa formasi kaligrafi merupakan suatu terobosan terbaru dari PBAK IAIN Purwokerto, mengingat PBAK tahun lalu tidak ada formasi kaligrafi.

Peserta PBAK IAIN Purwokerto merespon acara ini dengan sangat baik, karena mengingat acara ini merupakan suatu pengalaman yang baru bagi mereka. Namun selain itu beberapa juga sangat menyayangkan mengenai keefisienan waktu.
"Acaranya seru, Asik bikin acara kaya gitu, dulu sih di SMA juga pernah bikin Papermob, cuman bedanya kali ini pesertanya lebih banyak, cuman sayangnya tadi ada sedikit kendala di pembagian kertas, ada yang kurang dan juga waktunya kurang efisien jadi kurang tertata gitu, harapan aku buat Papermob selanjutnya sih semoga lebih kreatif, asik dan lebih tertata pembagian waktunya" Ujar Nampi Astuti (ES/FEBI) salah satu peserta Papermob.



Reporter: Fazrul & Wardah
Editor    : Ana Maisyara 



Purwokerto- Penampilan Inagurasi pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2019 IAIN Purwokerto dimeriahkan oleh seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Unit Kegiatan Khusus (UKK) dengan tema  Parade  Budaya pada Rabu (14/08).

Inagurasi menjadi kegiatan terakhir sebelum ditutupnya masa PBAK 2019. Parade Budaya ini merupakan ajang bagi anggota UKM/UKK untuk menunjukkan kreativitas dari masing-masing bidang yang ditekuni. Ada 14 penampilan yang diisi UKM dan UKK IAIN Purwokerto mulai dari UKM Pencak Silat, UKM EASA, UKK KOPMA, UKM Piqsi, UKM LPM Obsesi, UKM Faktapala, UKM Olahraga, UKK Pramuka, UKM Teater Didik, UKM Seni rupa, UKM KSIK, UKK KSR PMI, UKK Kempo, UKM Master. Nia Nur Pratiwi selaku panitia dari divisi acara mengatakan inagurasi seharusnya dimulai dari pukul 12.30 wib, tetapi karena pengkondisian mahasiswa baru yang cukup lama acara diundur menjadi pukul 13.00 wib. Kemudian tema dari inagurasi kali ini adalah Parade Budaya dengan mengacu pada tema PBAK tahun ini yaitu terbentuknya integritas mahasiswa yang berjiwa nasionalis dalam mengharmonisasikan budaya. Tema tersebut diambil karena saran langsung dari Rektor IAIN Purwokerto untuk mengangkat tema kebudayaan.

Kegiatan yang berlangsung di lapangan parkir fakultas Tarbiyah ini cukup meriah.  Alasan panitia memilih tempat tersebut dirasa lebih strategis dibanding dengan tempat sebelumnya yaitu di depan gedung F. Konsep inagurasi kali ini ada sedikit perbedaan dari tahun sebelumnya, dimana selain adanya panggung untuk penampilan inagurasi, dan stand bagi setiap UKM/UKK terdapat juga stand Kuliner jajanan Banyumas yang berjejer di belakang stand UKM/UKK.

Selain melihat penampilan inagurasi dari UKM/UKK, mahasiswa baru juga diwajibkan untuk mengunjungi stand-stand UKM/UKK yang berderet mengelilingi panggung.  Salah satunya Indra mahasiswa baru fakultas Syariah yang  ditemui reporter LPM OBSESI ketika mengunjungi stand UKM Olahraga. “tadi cuma lihat-lihat stand, pas tau ada UKM olahraga jadi langsung tertarik ke stand-nya soalnya dari dulu emang suka olahraga terutama sepak bola” Ujarnya.

Stand kuliner juga tidak kalah ramai banyak mahasiswa baru yang terlihat mampir untuk menikmati kuliner Banyumasan “Lihat-lihat stand udah tapi tertariknya sama makanan, jadi mampirnya ke stand kuliner beli jajanan pasar sama mendoan”  ujar Linda mahasiswa baru Fakultas Tarbiyah.

Berubahnya tempat untuk acara inagurasi tahun ini dirasa cukup strategis untuk stand-stand yang ada, karena tempat yang lebih luas sehingga mahasiswa lebih leluasa untuk berkeliling. “Tempat standnya strategis hanya saja melihat kondisinya saat ini temen- temen maba belum cukup kondusif karena ditengah lapangan panas, mungkin itu tanggung jawab panitia tapi kaya misalkan tadi pada penampilan ke empat yang didepan panggung udah sepi, sound system juga kurang mantep jadi kaya ada yang kurang aja. Untuk Inagurasi semuanya keren-keren, pesannya untuk mahasiswa baru jangan sampai nggak ikut UKM UKK supaya lebih berpengalaman.” Tutur Mistri salah satu anggota dari UKK Koperasi Mahasiswa (KOPMA).

Acara inagurasi berlangsung hingga pukul 16.00 WIB dengan ditandai bunyi sirine oleh tibpak. Akan tetapi ada perubahan di akhir acara inagurasi ini, konsep awal inagurasi yang  seharusnya acara dilanjutkan dengan penampilan flashmob dari seluruh UKM/UKK yang diikuti seluruh peserta PBAK tetapi karena jadwal dari panitia sudah habis dan karena waktu yang sudah mulur dari awal, penampilan dibatalkan sehingga banyak yang merasa kecewa apalagi mereka yang sudah berlatih untuk mempersiapkan penampilan ini.


Reporter : Nurul, Heni
Editor     : Ana




Purwokerto - Masa Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto 2019 telah resmi dibuka pada sekitar pukul 07.00 WIB. Pembukaan dilaksanakan di depan Gedung Rektorat IAIN Purwokerto dengan diikuti oleh seluruh mahasiswa baru (Maba) yang berjumlah sekitar 2.684 mahasiswa. (13/8)

PBAK tahun ini mengusung tema Terbentuknya Integritas Harmonisasi Budaya. Pengusungan tema tersebut berkaitan dengan telah meresmikan Pojok Panginyongan  IAIN Purwokerto, sehingga tema yang diangkat mengenai kebudayaan lokal.

Menurut Fahrur Rozik selaku ketua panitia, penerapan tema Terbentuknya Integritas Harmonisasi Budaya dapat dilihat dalam acara PBAK tahun ini, seperti pada nama panggilan untuk mahasiswa baru yaitu dimas dan diajeng, konsep acara, ataupun desain yang berkaitan dengan acara.
Pembukaan PBAK 2019 ditandai dengan penerbangan burung merpati oleh Dr.  Moh. Roqib, M.Ag selaku rektor IAIN Purwokerto yang  sekaligus menjadi pembina apel pembukaan PBAK 2019, kemudian diikuti dengan atraksi penurunan banner yang bertuliskan "Selamat Datang Mahasiswa Baru IAIN Purwokerto” oleh UKM Faktapala.

Point penting dalam pembukaan PBAK tahun ini adalah bahwa mahasiswa baru IAIN Purwokerto harus berfikir terbuka, seperti yang dituturkan oleh Dr. Moh. Roqib, M. Ag bahwa jika waktu sekolah kebenaran seakan tunggal,namun tatkala kuliah kebenaran itu bisa ragam. Jika ada orang yang kemudian melakukan true claim bahwa kebenaran miliknya, milik kelompoknya, maka dia belum mampu untuk di perguruan tinggi terbuka. Kita harus punya open space, ada ruang terbuka bagi orang lain yang memiliki pemikiran dan pandangan yang berbeda dengan kita.

"Hiidup ini kalau mau sukses, maka harus punya ketaatan terhadap tata tertib, aturan, dan bagaimana strategi serta teknik yang baik. Tidak ada orang sukses jika dilakukan sehari dua hari. Kesuksesan itu dibangun dari detik ke detik, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan seterusnya." tambahnya

Dalam akhir sambutanya, Rektor IAIN  memberikan semangat dan selamat berproses di IAIN Purwokerto kepada Mahasiswa Baru 2019.

Acara dilanjutkan dengan penyematan kartu peserta kepada perwakilan dimas dan diajeng dengan didampingi oleh bawor yang menjadi ikon dari Banyumas. Pembukaan juga dimeriahkan oleh penampilan dari grup kentongan oleh UKK Pramuka.

Selain tamu undangan dari para birokrasi kampus, perwakilan Lembaga Kemahasiswaan dan Ormawa serta UKM/UKK, juga dihadiri oleh perwakilan dari Bupati Banyumas dan Kapolri. Dalam sambutannya, perwakilan Bupati Banyumas berharap acara PBAK 2019 ini berjalan dengan baik dan lancar sampai hari terakhir.

Ifan Muarif selaku ketua Dema Institut juga sangat berterimakasih kepada panitia PBAK 2019 yang sudah mensukseskan acara dan menegaskan bahwa PBAK merupakan kegiatan wajib yang harus diikuti oleh Mahasiswa Baru IAIN Purwokerto. Dimana PBAK merupakan salah satu ajang untuk mengesharekan dari taraf siswa menjadi mahasiswa. Dan acara PBAK sebagai ajang untuk menggali substansi bukan sensasi. Pernyataan tersebut dipaparkannya ketika sambutan di depan mahasiswa.




Fahrur Rozik sebagai ketua panitia berharap mahasiswa baru IAIN Purwokerto bisa mengikuti rangkaian kegiatan PBAK ini dengan sungguh-sungguh, dengan serius, dengan segala aturan yang ada ditaati dan dilaksanakan.

Acara ditutup dengan doa bersama. Kemudian berlanjut dengan parade dan pengenalan dari LK, UKM/UKK dengan membawa bendera dari masing-masing LK, UKM/UKK, di pancuran depan rektorat.

Reporter : Wardah, Rini
Editor     : Ana Maisyara





Purwokerto- Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto menggelar prosesi wisuda perdana di bulan Agustus pada Kamis (8/8) yang berlangsung  di Auditorium utama IAIN Purwokerto. Meluluskan sebanyak 386 mahasiswa angkatan Magister ke-10 Sarjana ke-42 dan Ahli Madya ke-18.

Tidak berbeda dari konsep periode sebelumnya, pembukaan acara di awali dengan berkumpulnya peserta wisuda di depan Gedung perpustakaan IAIN Purwokerto, kemudian peserta berjalan menuju Auditorium utama diiringi penampilan kenthongan dari UKK Pramuka IAIN Purwokerto.

Wisuda kali ini merupakan  wisuda periode pertama yang dilaksanakan oleh IAIN Purwokerto pada bulan Agustus. Sebelumnya hanya dilakukan dua kali dalam satu tahun yaitu pada bulan Februari dan September. Sehingga wisuda pada  tahun 2019 ini, dilaksanakan tiga periode yaitu Februari, Agustus dan November. Pembagian tiga periode dalam satu tahun ini, juga akan dilaksanakan untuk tahun-tahun berikutnya.

Menurut Masmin Afif selaku sekretaris panitia, persiapan yang dilakukan sangat terbatas yaitu hanya terhitung satu bulan. Tetapi dalam pelaksanaannya berjalan cukup lancar. Selain persiapan, ada hal lain yang menjadi sorotan yaitu kapasitas ruang gedung Auditorium yang masih dirasa kurang memenuhi kuota wisudawan dan wali mahasiswa. Meski jumlah wisudawan kali ini lebih sedikit dibanding wisuda sebelumnya, ruang gedung Auditorium  masih tidak mampu menampung seluruh wali mahasiswa. Ruang Auditorium hanya dapat menampung peserta wisuda dan untuk wali mahasiswa di tempatkan di luar Auditorium dengan menggunakan tenda. 

"Kedepannya, diharapkan dengan jumlah banyak, acara wisuda dapat diadakan di outdoor sehingga nantinya antara wisudawan dengan orangtuanya tidak terpisah. Namun kita butuh persiapan yang cukup agar harapan tersebut terealisasikan sehingga prosesi wisuda dapat di lihat secara langsung"  ujar Masmin Afif saat diwawancarai oleh anggota LPM OBSESI.

Diakhir wawancara, Masmin berpesan pada seluruh wisudawan IAIN Purwokerto, semoga bisa memperoleh ilmu yang bermanfaat, sehingga dapat melaksanakan pengabdian ditengah-tengah masyarakat dengan bekal ilmu yang didapat. “IAIN Purwokerto menaruh harapan besar kepada mereka untuk menyampaikan hal-hal yang baik ditengah-tengah masyarakat dan dapat membawa misi dakwah Islam yang rahmatan Lil'alamiin". tambahnya.

Reporter : Nurul Fatonah, Sitha
Editor      : Ama Maisyara




PURWOKERTO - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto kembali melaksanakan Ujian Baca Tulis Al-Quran dan Pengalaman Praktik Ibadah (BTAPPI) pada Rabu, (31/7). Untuk ujian kali ini pesertanya adalah seluruh mahasiswa baru 2019 yang masuk lewat jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UMPTKIN). Dalam ujian BTAPPI terdapat beberapa hal yang diujikan yaitu, Ujian tulis, Imla, Tartil, Tahfidz, dan Praktik.
Ujian berlangsung dengan lancar, dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan sekitar pukul 12.00 siang. Diawali dengan ujian tulis yang berupa mengerjakan soal pilihan ganda sebanyak 100 soal, kemudian dilanjutkan dengan ujian  Imla. Setelah ujian tulis usai, seluruh peserta dikeluarkan dari kelas dan menunggu giliran untuk melaksanakan ujian berikutnya. Berbeda dengan ujian tulis, ujian tartil dan tahfidz serta praktik dilakukan perlima orang yang akan masuk kedalam kelas sesuai urutan dan diuji langsung oleh penguji yang bertugas.
Ujian BTA-PPI memang sudah dianggap ujian yang sulit bagi sebagian mahasiswa IAIN purwokerto, sudah tidak heran lagi jika banyak tanggapan negatif menganai ujian ini. Kebanyakan para peserta mengalami kendala dalam ujian tahfidz dan praktik dikarenakan kurangnya persiapan.
“Susahnya itu pas bagian niat sholat jenazah dan jamak qosor karena itu materinya banyak," kata  Abdul Zaid mahasiswa baru dari program studi Sejaran Peradaban Islam (SPI).   
Suasana Tes Imla dan Tartil
Dari beberapa peserta yang kami ditemui,  semuanya berkata pasrah untuk hasil yang akan keluar nanti. Salah satu peserta ujian mengaku bahwa sebelumnya tidak ada pemberitahuan materi yang akan diujikan, ”Untuk materi ngga di kasih tau, tapi katanya sih ada bimbingan tes, tapi saya ngga ikut,”ucap Firda salah satu peseta ujian.
Walaupun begitu Firda tetap menganggap penting adanya ujian BTAPPI, menurutnya dengan ujian ini kita bisa melihat kemampuan dibidang keagamaan tiap mahasiswa.
Tanggapan ini dijawab oleh Dr. Nawawi, M. Hum  selaku  dosen  penguji, “Materinya sudah diberitahukan, tapi tidak secara detail, diberitahukan secara gambaran besar saja ada tartil, tahidz, imla, dan praktik. Karena nantinya jika diberitahukan maka mereka tidak belajar.” Ujarnya ketika diwawancarai oleh salah satu anggota LPM OBSESI.
“Apabila ada hal lain yang diujikan oleh penguji, itu hanya sebagai bentuk pengembangan dari materi yang ditetapkan. Jadi tidak terpaku pada materi yang sudah ada tetapi juga tidak keluar dari ketentuan yang sudah ada,” tambahnya.
Nawawi juga menjelaskan bahwa semua hal tentang BTA-PPI sudah memiliki kriteria sendiri yang diatur oleh MAHAD, baik pemilihan dosen penguji, soal yang akan diujikan, dan kritetia kelulusan. Untuk dapat lulus ujian BTA-PPI peserta harus mencapai nilai minimal 70 untuk semua aspek.
Mengenai isu penggiringan ke pondok pesantren yang menyebabkan semakin bertambahnya pondok mitra dan pondok baru yang bermunculan, Nawawi menjelaskan bahwa untuk mahasiswa IAIN idealnya masuk pesantren, dengan  adanya pondok pesantren diharapkan mahasiswa bisa mendalami ilmu agama, karena jika mengandalkan dikampus dirasa kurang efektif dikarenakan waktu perkuliahan yang terbatas. Tujuan adanya pondok sendiri untuk meningkatkan kualitas mahasiswa jadi adanya isu-isu mengenai ujian BTAPPI itu bukan menjadi permasalahan.

Reporter : Arifa  Nur Isnaeni , Atin Nurul
Editor     : Okti Nur Alifia


x

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.