Kancah Pemikiran Konstruktif

Friday, April 24, 2020

Gabungan Organisasi IAIN Purwokerto Adakan Donasi Lawan Corona

Penyerahan Hasil Donasi IAIN Purwokerto Peduli Corona kepada RSUD Margono Soekarjo Purwokerto, Kamis (23/04).
Obsesiana.com, Purwokerto – Gabungan beberapa organisasi di IAIN Purwokerto melakukan penggalangan donasi lawan corona. Organisasi tersebut terdiri dari Senat Mahasiswa Institut (SEMA I), Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut (DEMA I), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)  dan Unit Kegiatan  Khusus Mahasiswa (UKK). Bekerja sama untuk membuka penggalangan donasi dalam rangka memerangi wabah Covid -19 melalui IAIN Purwokerto Peduli Corona.

Penggalangan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan kesadaran mahasiswa, terutama mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus untuk turut aktif dalam membantu melawan virus Corona.

“Ya tujuannya menginginkan adanya sebuah kepedulian di lingkup IAIN Purwokerto terutama mahasiswa–mahasiswa yang berkecimpung di ranah organisasi dengan ikut menyelenggarakan open donasi sehingga dapat menyadarkan kepedulian sesama dan membantu melawan virus Corona,” ucap Muhammad Iqbal selaku Koordinator donasi.

Penggalangan donasi telah dibuka sejak 26 Maret 2020. Hingga saat ini belum ditutup secara resmi sehingga masih menerima donasi baik dalam bentuk dana, alat pelindung diri (APD) medis maupun non medis, suplemen vitamin, hand sanitaizer, dan masker.

Bagi masyarakat yang ingin berdonasi dapat mengirimkannya melalui rekening BRI 312101043825537 A.n Muhammad  Iqbal atau dapat menghubungi Anisa Kusuma (0831 – 4420– 6562).

Donasi yang telah terkumpul berupa uang sebesar Rp. 5.950.000 dan masker kain sejumlah 24 buah. Dana tersebut telah dibelikan APD berupa hazmat dan dialokasikan ke RSUD Margono Soekarjo Purwokerto pada  23 April 2020. Sedangkan untuk masker kain akan dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Adapun harapan dari Muhammad Iqbal selaku koordinator donasi.
“Harapan untuk kedepannya apabila masyarakat atau mahasiswa mempunyai rezeki lebih untuk dapat mendonasikannya, dan kami ucapkan terimakasih sebesar-besarnya untuk para donatur yang telah mendonasikan sebagian rezekinya untuk membantu para tenaga medis yang berjuang melawan virus Corona. Saya harap semoga wabah ini dapat segera berakhir agar kehidupan kembali seperti semula, sehat, dapat melakukan aktivitas seperti biasa tanpa rasa takut.” Pungkasya melalui sambungan telepon dengan reporter LPM Obsesi. (Bagus dan Irma/Magang Obsesi)


Share:

Thursday, April 23, 2020

Aku di Luar Sini

Ilustrator: Alya/LPM OBSESI
Aku di Luar Sini
Oleh : Chairun Nissa Rodja

duduklah sebentar
temaniku di tanah kering ini
sambil menatap langit
gedung menjulang tinggi
akan kuceritakan
tentang pagi, siang, dan malam

tak pernah sepi
pagi pun selalu ramai 
begitu pula siang dan malam
orang-orang berlalu lalang
mengganggu tidur nyenyakku

namun, ada yang berbeda kini
tempat tidurku menjadi sepi
pintu-pintu rumah tertutup rapat
kompak berteriak takut

begitu pun denganku
panik seperti halnya mereka
ingin menutup pintu rapat-rapat
tapi apa dayaku
rumahku begitu luas
tak ada satu pun daun pintu

Tuhan, bagaimana denganku ?
di mana aku bersembunyi
saudaraku tak sudi mendekapku

Tuhan, aku pun takut mati

20/04/2020
Share:

Tuesday, April 21, 2020

Kartini Masa Pandemi

Kartini Masa Pandemi
Oleh : Wardah Munfaati


seringkali dianggap ringkih
namun selalu berjuang tanpa pamrih

seringkali dianggap lemah 
namun langkahnya selalu membawa makna untuk berubah

pejuang tanpa pamrih
bekerja dengan gigih
sebutan untuk Kartini masa pandemi

pejuang garda terdepan untuk rakyat yang ketakutan
pergi perang dengan keuletan dan pengetahuan

terlihat ringkih tubuhnya
namun tak pernah getar semangatnya 

suri tauladan bagi anak-anaknya 
akar penguat bagi keluarganya 

wanita cerdas yang berjuang dengan keras
lemah lembut peluntur hati yang keras
tak layak rasa jika terus menyingkirkan wanita dengan keras

dianggap lemah dan berjuang pun dirasa tak pantas 
kami wanita punya rasa 
namun ingin berjuang dengan pantas

kami tak lemah karena kami tak pernah menyerah
kami Kartini yang berjuang dari hati

_Purbalingga, 21 April 2010_
Share:

API KARTINI

Sumber: google.com

Api Kartini
Oleh: PRC/LPM Obsesi

api itu telah berkobar
membara membakar semangat perjuangan
demi meraih cita-cita
nukan hanya untuk dirinya
melainkan untuk bangsa yang dicintainya

sayang,
kesempatan tak terbuka lebar
dibatasi sejumlah aturan
menjadi pagar penghalang gerak
penuh sesak hampir tak bergerak

kini semuanya berubah
kesempatan terbuka lebar
tak dibatasi ruang
karenanya: hanya tekat yang perlu melekat

Jakarta, 21/04/2020
Share:

Monday, April 20, 2020

Teriakan Sang Proklamator, Masih Pantaskah?

Ilustrasi by Alya
LPM OBSESI
Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan ku cabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia. Inilah teriakan Sang Proklamator yang sangat membakar semangat waktu itu. Mari kita garis bawahi kata pemuda pada quotes kedua. Dengan percaya diri Sang Proklamator mengagungkan pemuda pada waktu itu. Namun memang benar, pemuda saat itu sangat berkontribusi untuk kemerdekaan. Pemuda gagap teknologi yang mampu memeluk penjajah, menyuguhkan kebebasan untuk pemuda selanjutnya. Mereka merintis pergerakan kemerdekaan Indonesia, berperan aktif sebagai ujung tombak, selalu siap mengantarkan Indonesia menjadi negara yang berdaulat. Lalu bagaimana dengan pemuda saat ini ? masih gapap teknologi ? masih berkontribusi penuh untuk negara ? 

Penyebutan pemuda berdasarkan usia memang banyak sekali pendapat, akan tetapi ada yang meyebutkan bahwa pemuda ialah mereka yang memiliki rentang usia antara 16 sampai 30 tahun. Pemuda digadang-gadang sebagai pemilik fisik yang kuat dan produktif. Bahkan, karena begitu sayangnya Negara dengan pemuda, mereka diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia. Begitu besar harapan bangsa terhadap pemuda. Berharap merekalah yang menjadi bagian dari pembangunan nasional. Akan tetapi jika melihat kenyataan saat ini, tidak sedikit pemuda yang memilih pasif dan tidak produktif.

Beragam pilihan jalan yang bisa mereka ambil untuk mengisi masa mudanya. Ada yang memilih untuk memperjuangkan pendidikannya, ada yang memilih untuk menjadi pemuda santuy dengan banyak gaya, ada yang memilih untuk menjadi dirinya sendiri dengan hidup bebas sampai bablas, bahkan ada yang hanya memilih rebahan di rumah sambil Hp-an senyum-senyum sendiri karena dapat pesan dari doi, ada lagi yang hanya nge-game  pagi-siang-malam sampai harus masuk rumah sakit karena mata bengkak akibat radiasi HP. Ditambah lagi masa pandemi seperti saat ini, kaum rebahan dianggap paling berkontribusi dalam memutus rantai penyebaran virus corona karena mereka paling semangat untuk mengikuti anjuran #dirumahaja. Namun, perlu diperhatikan bahwa masa pademi seperti ini bukan menjadi alasan untuk bermalasan-malasan di rumah tanpa melakukan hal yang lebih produktif. 

Kegiatan produktif yang menunjang agar tetap #dirumahaja sangatlah banyak. Seperti halnya dapat dilakukan untuk pengembangan soft skill yang menunjang karir di masa depan. Contoh kecil seperti melakukan manajemen waktu. Meskipun #dirumahaja kita harus tetap memanagement waktu keseharian kita, karena kemampuan untuk merencanakan, membagi, dan mengeksekusi tugas sangat diperlukan dalam dunia kerja. Sehingga di masa pandemi yang cukup lama ini, kita tetap membiasakan diri untuk tetap hidup dengan teratur. Kemudian masih banyak lagi, dapat kalian tambahkan referensi dari berbagai sumber yang sekiranya dapat diterapkan untuk mengisi waktu selama #dirumahaja. 

Kemudian dapat direnungkan, bagaimana jika masa pandemi covid-19 ini berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan, mau menjadi apa pemuda yang hanya bermalas-malasan seperti ini ? terus-terusan golar-galer di rumah tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Apalagi bagi seorang mahasiswa, mereka terlena dengan kuliahnya yang lebih ringan yaitu hanya kuliah daring sambil tiduran tanpa harus bergegas mandi ataupun dandan bagi perempuan untuk sekedar mengikuti perkuliahan. Ditambah lagi, mahasiswa yang sangat cerdik, mereka hanya menunggu jam kuliah dimulai, bergegas untuk absen diawal, kemudain ditinggal dan kembali diakhir perkuliahan dengan unjuk diri menjawab salam penutup dari dosen. Mau menjadi apa mahasiswa seperti ini ? Tidak melakukan pengembangan diri untuk mengasah skill lainnya, kuliah tidak mendapat ilmu, kuota habis, uang tabungan menipis karena tidak diberi uang saku. Hingga mendekati lulus masih berjalan di tempat. Tidak ada skill lain, tapi dituntut untuk lulus tepat waktu. Alhasil, Negara harus menampung sarjana pengangguran. Menambah angka pengangguran di Indonesia yang sangat tinggi. Seperti dilansir dari lamppost.co menyebutkan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia per Agustus 2019 sebanyak 7,05 juta orang. Ditambah lagi per-Juni 2019 Survei dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan 2,3 juta pelajar atau mahasiswa di Indonesia pernah mengonsumsi narkotika. Pemuda yang dianggap menjadi pembelajar pun menjadi pengonsumsi narkotika, lalu bagaimana mereka yang memiliki pendidikan rendah ? Masih pantaskah teriakan sang proklamator untuk kita teriakan saat ini ? 

Layaknya pemuda masa Soekarno dulu. Keadaan mereka tidak lebih baik dari keadaan pemuda saat ini. Jauh dari kata modern, bahkan tidak megenal teknologi seperti halnya saat ini. Akan tetapi, mereka dapat meunjukkan jati dirinya sebagai pemuda. Menjadi garda terdepan dalam melawan penjajah, berjuang menegakkan kedaulatan untuk bangsanya sendiri. Lalu apa yang dapat dilakukan oleh pemuda saat ini ? Jika tidak lagi dapat mengangkat senjata, tidak lagi berjuang di medan perang, setidaknya mampu membawa dirinya mejadi pribadi yang semestinya, memiliki karakter kebangsaan, tidak pasif dan memberikan kemanfaatan minimal untuk lingkungan disekitar tempat tinggalnya.

Penulis : Chanti Balqis/LPM Obsesi
Share:

Friday, April 17, 2020

UU PBAK Belum Selesai diplenokan, Oprec Panitia diundur

Berdasarkan hasil rapat daring Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut (DEMA I) bersama Wakil Rektor III, dan Kasubbag KAK, serta diikuti oleh perwakilan masing-masing lembaga kemahasiswaan di tingkat Institut dan fakultas se-IAIN Purwokerto, Kamis (02/4), Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) tetap akan dilaksanakan sebagaimana mestinya pada bulan Agustus 2020. Langkah awal mengenai keputusan tersebut, DEMA Institut mengeluarkan surat edaran bernomor 018/AI/DEMA-I/IV/2020 yang berisi pemberitahuan pelaksanakan PBAK 2020 serta open recruitment kepanitiaan PBAK Institut yang diadakan April 2020 dan untuk PBAK fakultas akan dilaksanakan setelahnya.
Surat Edaran DEMA I
Kemudian disusul dengan surat edaran DEMA Institut nomor 020/A-1/DEMA-I/IV/2020 memberitahukan tentang rangkaian jadwal pendaftaran panitia PBAK. Akan tetapi, baru beberapa hari DEMA I mengeluarkan surat edaranya, langsung disusul surat dari SEMA-I untuk DEMA-I menyatakan agar pendaftaran kepanitiaan PBAK ditunda sampai UU PBAK tahun 2020 selesai diplenokan.
Surat edaran SEMA I
"Rangkaian persiapan PBAK tidak dapat dilaksanakan jika UU PBAK 2020 belum diplenokan seperti yang dikatakan Faza Sulistiawan selaku wakil ketua SEMA , yang pertama karena UU PBAK  tahun 2020 ini belum disahkan, kemudian sekarang juga masih dalam proses pleno oleh komisi A, nah  yang kedua adalah karena kenapa diundur sementara ditunda dulu karena UU PBAK 2020 ini nanti kemungkinan ada beberapa yang akan di revisi itu si garis besarnya."  Ujarnya ketika dihubungi oleh reporter LPM Obsesi via whatsapp (16/04).

Sementara dari kordinator komisi A sendiri juga berpendapat kurang lebih sama terkait penundaan pendaftaran panitia PBAK ini, melalui sambungan telepon via WhatsApp, Wahyudi selaku kordinator komisi A memberi alasan terkait waktu yang kurang memungkinkan dalam memplenokan UU PBAK tahun 2020. 

Wahyudi juga menuturkan bahwa kurang kondusifnya anggota karena urusan masing-masing menjadi salah satu kendala tidak selesainya rapat pleno untuk UU PBAK ini. Ia juga mengungkapkan seharusnya pada maret ini rapat selesai tapi karena kendala-kendala tersebut membuat sampai sekarang belum ada keputusan akhir. Kepada LPM Obsesi, Wahyudi menyampaikan bahwa pada 16 April 2020 keputusan akhir mengenai UU PBAK tersebut akan di ambil. Di lain sisi, menurut ketua SEMA sendiri menyatakan bahwa tidak perlu tergesa-gesa, karena menurutnya open recruitment cukup diadakan dalam waktu satu minggu. 

Miskomunikasi antara SEMA&DEMA 
Dari wawancara dengan pihak SEMA diperoleh informasi bahwa pada saat surat edaran dari Dema dirilis pihak SEMA tidak tahu. Faza selaku Wakil SEMA mengaku telah terjadi miscommunication antara pihak SEMA dan DEMA. “Jadi terkait hal tersebut terjadi miskomunikasi, ini sih cuma miskomunikasi ya, kami kemarin ya sempet nyimak sih dari rapat-rapat sama WAREK III, online juga dan ya karna mungkin kendala rapat itu online ya jadi kami belum kelar di tubuh SEMA I tentang UU PBAK nah itu terjadi miskom seperti itu. Ya tau sendiri sekarang ga bisa keluar, rapat pun terbatas, online juga maka terjadilah seperti itu." Ungkap Faza kepada LPM Obsesi. Kemudian terkait kejadian surat menyurat antara DEMA dan SEMA ia menanggap sudah menjadi hal yang lumrah atau umum sesuai mekanisme yang ada. "Sebenarnya sudah lewat mekanisme yang ada artinya ketika ada hal yang kurang atau kurang maksimal ya lewat surat menyurat seperti itu, ya sudah sesuai alur berorganisasi.”

Senada dengan hal itu, Shaufi Fernanda selaku ketua DEMA Institut mengaku penundaan dari oprec PBAK memang dikarenakan turunnya surat penundaan dari SEMA yang akan melakukan peninjauan kembali terhadap UU PBAK. Dia mengaku DEMA mengeluarkan surat edaran pendaftaran panitia PBAK sebab sudah dilaksanakan rapat secara Online bersama WAREK III dan juga SEMA. Namun Shaufi mengaku tidak tahu apabila dari pihak SEMA memperhatikan atau tidak. "ya kita tahunya disitu sudah ada pihak SEMA perkara memperhatikan atau tidak silahkan tanyakan sendiri pada pihak SEMA." Ungkapnya pada wawancara via telfon bersama LPM Obsesi,  Rabu (15/4)

Diluar hal itu, Shaufi memaklumi mengapa hal seperti ini bisa terjadi, pandemi yang tengah terjadi memang berimbas pada kegiatan organisasi-organisasi termasuk di IAIN Purwokerto. Ia-pun beranggapan seharusnya SEMA memiliki banyak waktu untuk melakukan pleno jauh-jauh hari. Namun dari pihak DEMA tetap mengikuti rules yang ada sebab SEMA memang memiliki wewenang untuk merevisi. Sampai berita ini diturunkan, belum ada kepastian hasil dari rapat pleno dan kelanjutan open recruitment panitia PBAK,  tetapi Shaufi menyampaikan bahwa para pendaftar yang sudah terlanjur mendaftarkan diri akan tetap ditampung untuk kemudian disaring. "Ya bagi yang sudah mendaftar tetap kita tampung untuk disaring."

Reporter: Iqbal, Nisa, Ulil

Share:

Friday, April 10, 2020

SEMINAR PROPOSAL ONLINE IAIN Purwokerto


Pada tanggal 3 April 2020 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Purwokerto mengeluarkan surat pengumuman yang berisi tentang beberapa point terkait kegiatan akademik salah satunya mengenai pelaksanaan ujian Seminar Proposal (Semprop) online, seminar pun dilaksanakan pada tanggal 6 April 2020, di ikuti oleh 14 peserta dan 3 dosen penguji yaitu Dewi Laela Hilyatin S.E., M.S.i selaku Kepala Jurusan (Kajur) Ekonomi Syari'ah, Yoiz Shofwa Shafrani S.P., M.S.i selaku Kajur Perbankan Syariah dan Rahmini Hadi S.E., M.S.i selaku Kajur Mazawa.
Surat Edaran Fk. Ekonomi dan Bisnis Islam

Dalam melaksanakan Semprop online ini mahasiswa dan juga dosen menggunakan sistem aplikasi bernama Google Meet.

Dalam sebuah wawancara yang dilakukan secara online terhadap Afrian (8/ES/C) salah satu peserta semprop online tersebut, ia menjelaskan bahwa dalam seminar yang dilakukan secara online tersebut tidak ada kendala berat yang di jumpainya, "Untuk teknis pelaksanaan sebenarnya tidak ada kendala, karena didalam aplikasi google meet, kita bisa menggunakan fitur presentasi, jaid kita bisa mempresentasikan dengan menampilkan power point yang sudah dibuat, dan power point itu bisa dilihat oleh penguji dan semua peserta, mungkin bagi beberapa peserta kendalanya hanya masalah jaringan, karena tidak semua peserta berada pada tempat yang memiliki koneksi jaringan yang baik" ujarnya.

Afrian pun menjelaskan bahwa walaupun seminar dilaksanakan secara online, tetapi ketentuan pelaksanaan seminar ini tidak jauh beda dengan seminar proposal seperti biasa, walaupun terasa kurang sakral, karena ujian semprop merupakan momen dimana mahasiswa diuji atas apa yang sudah dipelajari selama dikampus, namun ia sangat berterima kasih terhadap kampus karena tetap melaksanakan ujian semprop walaupun secara online, hal ini merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh kampus dalam upaya mencegah tersebar luasnya wabah Covid-19 ini.

Reporter: Fazrul
Share:

TERPOPULER