Kancah Pemikiran Konstruktif

Monday, January 18, 2021

Pesta Demokrasi Daring, Strategi Branding Melengking

 

Ilustrasi: Media Indonesia

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto sedang ramai mempersiapkan pesta demokrasi via daring. Hal ini merupakan hal baru dan perdana yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan Mahasiswa (PPM) IAIN Purwokerto. Berbagai strategi baru mulai muncul dari masing-masing kubu, mulai dari pembuatan pamflet-pamflet yang berisi kata-kata bijak, dagelan, plesetan-plesetan kata yang secara halus mengajak pembaca melihat ataupun memilih dirinya maupun video pengenalan ala tik-tok yang berisi pengenalan calon-calon yang nantinya akan bersaing di Pemiluwa.

Strategi baru ini disebut sebagai strategi branding-politik, secara sederhana branding sendiri adalah “pemberian merek” terhadap suatu produk untuk memberikan kesan yang tidak bisa dilupakan dari ingatan konsumen. Brand bisa dikatakan identitas atau kepribadian yang mengidentifikasikan suatu produk, layanan maupun lembaga dalam bentuk nama, tanda, simbol, desain maupun kombinasi diantara semua itu. Sedangkan dalam panggung politik, branding sering kali diartikan sebagai tindakan pencitraan atau pembangunan image terhadap si kandidat terkait karekter personal si kandidat.

IAIN Purwokerto sudah melewati masa ini dimana sebelum hari kampanye, branding sudah berkeliaran hebat di media sosial terutama dijumpai di WhatsApp, karena WhatsApp salah satu media yang lebih private dan lebih personal.

Melihat hal tersebut, Jalbi Hasanul Fikri, selaku Ketua Panitia Pengawas Pemiluwa (Panwasluwa) menganggap sebagai sesuatu yang biasa saja dan bukanlah pelanggaran.

“Sebenarnya gini, sempat kemarin ada gugatan yang masuk terkait hal tersebut. Kembali ke definisi kampanye yang tadi saya jelaskan, ya. Bagi saya itu bukan termasuk pelanggaran. Karena saya juga melihat langsung di WhatsApp saya, itu termasuk kategori branding. Branding setiap individu. Jadi kalau saya melarang hal itu, sama saja saya melanggar hak seseorang untuk berekspresi. Nah di dalam Undang-undang pun sudah dijelaskan meskipun disitu ada kategori gambar, gambar yang seperti apa? Gambar yang mengandung unsur kampanye pastinya. Nah di dalam (poster) itu, saya tidak menangkap tuh apasih sebenarnya kampanye, kampanye seperti apa. Yang saya lihat disitu hanya ada quotes-quotes, nasehat-nasehat seolah mereka adalah tetangga Mario Teguh. Karena kalau misal disini itu, kita (PPM dan Panwasluwa) hanya membatasi bukan melarang,” ujarnya kepada Reporter LPM OBSESI saat ditemui di Sekretariat PPM (17/01)

Menurut Panwasluwa, berkeliarannya pamflet-pamflet yang berisi gambar masing-masing kandidat bukanlah sebuah pelanggaran, karena hal tersebut masih dalam kategori branding yang justru ketika Panwasluwa menganggap hal tersebut merupakan pelanggaran, sama halnya Panwasluwa dan PPM lah yang melakukan pelanggaran karena secara tidak langsung mereka telah melanggar Hak Asasi Manusia setiap orang.

Meskipun  tidak sedikit dari mereka (pasangan calon) yang menyebarkan pamflet-pamflet maupun video, bergerak bersamaan secara masif dan serentak sebelum masa kampanye dilangsungkan, dan ada beberapa yang bahkan sudah menyebutkan nomor urut paslonnya dan ajakan untuk memilih dengan bahasa plesetan. Dengan hal semacam itu, PPM dan Panwas tetap bersikukuh menganggap  sebagai branding, kecuali jika kandidat yang terkait menggunakan kata-kata yang jelas mengajak orang lain untuk memilihnya itu yang bisa dikatakan sebagai pelanggaran.

“Tidak apa-apa. Karena tidak termasuk dalam pelanggaran. Dan itu pun saya lihat dan saya diskusikan dengan teman-teman, bahwa itu branding. Kalau misal itu dikategorikan pelanggaran, semua calon masuk dalam pelanggaran tersebut. kecuali didalamnya ada ajakan, misal “pilih  satu, saya adalah generasi penerus bangsa” gitu,” jelasnya.

Penyebaran pamflet-pamflet maupun video masing-masing kandidat membawa respon pula untuk mahasiswa IAIN Purwokerto, salah satunya Syarif Hidayat yang merasa bahwa penyebaran pamflet-pamflet yang ada di WhatsApp sangat meresahkan, mengganggu karena merupakan bagian dari kampanye sebelum waktunya.

“Sebenarnya secara tidak langsung itu adalah bagian dari kampanye, meskipun tidak ada atribut-atribut partai dan sejenisnya. Namun pamflet yang tersebar di status WA yang katanya berisi quotes itu menampilkan wajah-wajah dari calon ketua ataupun calon wakil ketua LK yang mendaftar,” Jelas Syarif kepada salah satu tim reporter LPM OBSESI via WhatsApp (17/01).

 Menurut Syarif jika pamflet yang bertebaran di WhatsApp benar-benar hanya sekadar quotes, rasanya hanya cukup dengan nama kandidat saja tidak perlu dibubuhi foto dari masing-masing kandidat karena hal itu jelas tidak mengurangi esensi dari quotes itu sendiri. Syarif juga menyebutkan bahwa brending yang dibuat oleh salah satu kandidat dengan menggunakan viedo tik tok itu polanya sama seperti yang dilakukan paslon Lembaga Kemahasiswaan di kampus lain yang ada di Purwokerto.

“Tapi sepertinya hal tersebut lumrah-lumrah saja bagi PPM dan Panwaslu, ya mau gimana lagi”. ungkap Syarif yang merasa kecewa dengan pemiluwa tahun ini.


Reporter : Wardah Munfaati dan Aulia Insan

Share:

Saturday, January 9, 2021

TABLOID EDISI 1 VOL XX 2020 : "Polemik Era Pandemi"

 Hallo Pembaca Setia OBSESIANA.COM

Salam Persma!!!

Kali ini LPM OBSESI IAIN Purwokerto hadir dengan Karya terbaru Tabloid Point Edisi 1 Vol XX 2020 dengan tema “POLEMIK ERA PANDEMI".

Surat Edaran yang dikeluarkan oleh kampus perihal diadakannya Work From Home (WFH) dan Kelas Online tidak serta-merta membuat kami Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) OBSESI IAIN Purwokerto berhenti untuk menyuguhkan topik-topik terhangat era pandemi ini.

Dengan harapan kita semua senantiasa membudidayakan dan membudayakan gemar membaca walau pandemi masih berlangsung. Dan jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan.

Terimakasih...

Link Download PDF >>> CLICK HERE



Share:

Tuesday, January 5, 2021

Mendekati Pemiluwa, PPM IAIN Purwokerto Adakan Sosialisasi

 

Foto: Doc.OBSESI

Panitia Pemilihan Mahasiswa (PPM) IAIN Purwokerto kembali menggelar Pemilihan Umum Mahasiswa (Pemiluwa) tahun ini. Berdasarkan timeline yang dibagikan oleh PPM melalui akun instagram (@ppmiainpwt_2021), rangkain acara Pemiluwa hingga pelantikan akan dimulai pada 04 Januari-04 Februari 2021. Seperti tahun sebelumnya, Pemiluwa diadakan untuk memilih Partai Politik Mahasiswa (Parpolma) serta Ketua dan Wakil Ketua Lembaga Kemahasiswaan (LK) Eksekutif.

Pada sosialisasi kegiatan Pemiluwa yang diselenggarakan oleh PPM pada Senin (04/01) secara daring yang dihadiri oleh Ketua UKK dan UKM, Ketua Komunitas, serta Kosma menggunakan media zoom. Sedangkan sosialisasi secara luring bertempat di Auditorium Utama IAIN Purwokerto yang dihadiri oleh Ketua Partai Se-IAIN Purwokerto dan Ketua Lembaga Kemahasiswaan Se-IAIN Purwokerto. PPM menjabarkan terkait timeline Pemilwa serta pemberkasan yang diperlukan, pembacaan Surat Keputusan (SK), pembacaan regulasi. Untuk teknis pencoblosan, dari PPM masih mematangkan konsep dan akan diumumkan disosialisasi selanjutnya.

Sosialisasi dimulai pada pukul 08.55 WIB, meskipun di Undangan, jadwal sosialisasi dimulai pada pukul 07.30 WIB. Menurut Ketua PPM, Sidik Adi Purnama, hal tersebut disebabkan karena menunggu tamu undangan di Auditorium memenuhi jumlah minimum kursi yang sudah disediakan.

“Dari panitia, sudah siap semenjak jam tujuh. Kalaupun setengah delapan atau jam delapan, kita mulai, tetapi peserta dan tamu undangan belum datang semua, konsekuensinya pemahaman kalian. Kami dari panitia menunggu tamu undangan. Bukan menyalahkan, tapi karena tamu undangan tidak datang tepat waktu. Kalaupun tepat waktu ya silakan langsung duduk. Kami pun mempertimbangkan, kalau tamu undangan yang hadir setidaknya 50%. Kenapa link baru dibagikan untuk tamu undangan via daring, agar mereka menunggu, bukan melihat acara kami yang mulur,” jelasnya.

Foto: Doc.OBSESI

Acara pembukaan berlangsung semestinya, dari sambutan hingga penutup, dilanjutkan pada acara inti yang merupakan topik utama sosialisasi ini. Diawali dengan pembacaan SK yang telah ditetapkan pada hari Jumat 25 Desember 2020 serta pemberitahuan terkait pemberkasan harus dikirim dalam dua bentuk file yaitu softfile dan hardfile yang harus dikirimkan ke sekre PPM tepatnya di ruangan A5 bagi hardfile.

Salah satu peserta daring, M. Alfi Alkautsar menyayangkan sosialisasi yang terbagi menjadi dua, menurutnya, hal tersebut meurpakan salah satu bentuk diskriminasi.

“Menurutku ya sosialisasi pemiluwa tahun ini hampir sama dengan tahun kemarin bahkan bisa dikatakan lebih buruk begitu, kenapa karna di sistem sosialisasi tahun ini itu terbagi 2 yaitu offline dan online dan menurut saya itu merupakan diskriminasi. Iya saya paham kalo itu untuk mematahui Protokol kesehatan, tetapi tentunya juga panitia PPM harus memperhatikan agar tujuan sosialisasi itu tersampaikan dengan baik. Selain itu juga sosialisasi ini menurut saya, membatasi hak untuk berbicara sebab dalam sosialisasi ini banyak yang ingin berpendapat namun terhalang oleh beberapa hal seperti signal, kuota dan sebagainya ini untuk temen - temen yg online,” jelasnya kepada reporter LPM Obsesi via whatsApp.

Selama beberapa jam, baik peserta offline maupun online disuguhi pembacaan timeline, SK, regulasi, syarat-syarat serta gambaran samar teknis pemilihan secara lisan, tanpa ada sedikit pun tampilan visual berupa share screen yang menurut beberapa peserta daring maupun luring sebagai suatu hal penting dalam sosialisasi terutama  bagi mereka yang mengikuti sosialisasi secara daring. Saat dibuka sesi tanya jawab, hal itu menjadi pertanyaan sebagian peserta mengenai apa yang bisa dipahami dengan sosialisasi seperti itu?

“Kami sengaja tidak menampilkannya, karena ditakutkan peserta fokusnya terbagi, antara tampilan visual dan apa yang dijelaskan,  jadi kami harap dengan cara ini, perhatian peserta menjadi terfokus dengan apa yang disampaikan,”   jelas Sidik, sewaktu ditanyai terkait jalannya sosialisasi.

Namun, meski sudah dijelaskan demikian, nampak gelombang pertanyaan terkait pemahaman muncul ditiap peserta yang mengangkat tangan. Hal itu memicu salah satu anggota SEMA, Umam angkat bicara :

“Daritadi bermasalah sekitar pemahaman, kalau kita itu pernah belajar filsafat dan berbicara tentang pemahaman itu adalah kebenaran yang subjektif, masing-masing orang itu mempunyai kebenaran dan pemahaman tingkatnya sendiri-sendiri, jadi ketika pemahaman itu diumumkan  ataupun menjadi kebenaran objektif itu ngga bakal bisa, sampai kiamat H-2 itu ngga bakal bisa, karena apa ketika ada visualisasi atau sharescreen apakah pemahaman itu mewakili semua orang, belum tentu karena apa masalah pemahaman itu adalah sifat objektif semua orang,” imbuh Umam usai salah satu peserta menyanggah terkait masih banyak yang belum paham dengan sosisalisasi tersebut.

Seperti tahun sebelumnya, sosialiasi berbagai macam rangkaian Pemilwa, PPM mengandalkan akun sosial media mereka berupa Instagram dan Facebook.

Selain itu, Alfi berharap ajang pemilwa kali ini tidak hanya menjadi ajang pesta sebagian kaum, melainkan pesta demokrasi semua mahasiswa IAIN.

“ya paling membuat mahasiswa lebih peduli lagi terkait demokrasi dan perpolitikan yang ada di kampus begitu, untuk menciptakan demokrasi yang lebih baik. Kemudian juga diharapkan acara pemiluwa ini bukan hanya ajang pesta dari sebagian kaum saja, tp ini adalah pesta seluruh mahasiswa di IAIN sendiri,” harapnya.

 

Reporter: Chairunnisa dan M. Iqbal

Editor: Aulia Insan.

Share:

TERPOPULER