Kancah Pemikiran Konstruktif

Tuesday, March 30, 2021

Pengadaan Wisuda Offline ditengah Pademi


IMG_9922.JPGPurwokerto-Setelah lebih dari setahun pademi melanda, akhirnya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto mengadakan acara wisuda secara langsung (offline) pada selasa (30/03). Acara ini diikuti oleh 443 wisudawan yang bertempat di Auditorium IAIN Purwokerto. Wisuda kali ini dibagi menjadi dua tahap, tahap pertama dilaksanakan pada pukul 08.10 s.d 10.00 WIB dan tahap kedua pada pukul 11.00 s.d 13.00 WIB.

Wisuda periode ini terbilang berbeda dari periode sebelumnya, selain karena diadakan secara langsung dengan pembatasan dan protokol kesehatan yang ketat, para wisudawan juga tidak diperbolehkan didampingi keluarga.

“Bagus, senang, berbeda dengan tahun kemarin, karena online sekarang berbeda tapi tetap bagus. Senang juga bisa wisuda di kampus walaupun terbatas. Harapan untuk kedepan kalau sudah tidak ada pandemi bisa dilaksanakan seperti biasa.”

“Untuk aturannya, sama sekali tidak memberatkan, masih netral. Juga tidak ada biaya sama sekali karena awalnya mau online tapi tidak jadi”, ungkap Kurni Aminatus Salamah, salah satu wisudawati.

Meski demikian, sebagian besar peserta tidak merasa keberatan, malah menyambut baik pengadaan acara ini.

Upacara wisuda dibuka oleh Prof. Dr Fauzi. M.Ag pada pukul 08.10 dan berakhir di shift pertama pada pukul 10.00, sementara pada shift kedua dimulai pukul 11.00 sampai 13.00 WIB.

Acara wisuda ini mengusung tema “Membangun Integritas Keilmuan, Integritas Sosial dalam Rangka Pengabdian Kepada Bangsa dan Negara.”

“Memiliki komitmen integritas dalam pengembangan ilmu dan pengabdian terhadap masyarakat di masa pandemi. Tidak boleh kita rendahkan atau harus punya komitmen kita mendapat pelajaran dari pandemi ini. Untuk semangat & berjuang ditengah keadaan yang sulit terus mengembangkan ilmu dan berkontribusi pada bangsa dan negara dengan kemampuan kita masing-masing”, ungkap Fauzi, sebagai Wakil Rektor 1.

Wisuda yang diikuti oleh 443 peserta ini, mahasiswa tertua berusia 55 tahun dan yang paling muda berusia 20 tahun.   Sementara untuk indeks prestasi tertinggi adalah 3,89 dari Prodi Ilmu Al-qur'an dan Tafsir (IAT), sedangkan yang terendah adalah 2,6.


Reporter : Iqbal & Farida

Editor : Wardah


Share:

Sunday, March 28, 2021

Warek 3 Ghosting? Kemana Aja? : Sebuah Audiensi dari UKM & UKK IAIN Purwokerto

Foto : Doc. OBSESI, proses pelaksanaan audiensi UKM-UKK dengan Warek 3

Purwokerto Unit Kegiatan Mahasiswa dan Unit Kegiatan Khusus (UKM-UKK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto mengusung audiensi bersama Wakil Rektor (Warek) 3 (27/3). Bertempat di Lantai empat Gedung Rektorat, acara ini dilatarbelakangi oleh keresahan mahasiswa terkait kebutuhan organisasi yang selama ini kurang diindahkan oleh birokrat kampus.

Mengambil judul "WR 3 Ghosting Ke Mana Aja?"  menjadi stimulus rasa keingin tahuan mahasiswa dan banyak pihak. Audiensi tersebut tidak hanya melibatkan pihak UKM-UKK saja, terdapat Senat Mahasiswa (SEMA) Institut yang turut andil menjembatani pertemuan tersebut sebagai moderator bersama Fadlan (KAK ) dan Lutfi (Staff Warek 3) yang turut hadir sebagai perwakilan birokrat.

Ada empat tuntutan yang diajukan dalam audiensi, diantaranya adalah  penghapusan jam malam, adanya pengecekkan fasilitas umum Gedung UKM-UKK, adanya penghargaan terhadap anggota UKM-UKK berprestasi, serta mempererat hubungan yang jelas antara birokrat kampus dengan pihak UKM-UKK.

Perihal jam malam, birokrat kampus memutuskan untuk tetap menggunakan peraturan lama. Kebijakan tersebut sudah dipertimbangkan secara matang oleh Warek 3 dan jajaran pimpinan lainnya. Menurut Sulhan Chakim (Warek 3) pemberlakuan jam malam merupakan kebijakan yang ditujukan untuk kemaslahatan bersama.

Foto : Doc. OBSESI

Atas keputusan tersebut, Warek 3 memberikan kelonggaran terhadap aturan lama yang sudah disepakati,  dimana kelonggaran tersebut dapat berlaku apabila yang berkepentingan baik kemahasiswaan maupun organisasi telah mendapatkan izin dan tanda tangan dari Warek 3.

Adapun tuntutan lain perihal pemberian apresiasi terhadap mahasiswa terutama anggota UKM-UKK sudah diusahakan oleh pihak kampus melalui beasiswa BNI, Lazis NU dan sebagainya. Bukan hanya itu, terdapat anggaran yang dialokasikan kepada 3 wisudawan terbaik senilai 15 juta dan 40 juta diberikan untuk mahasiswa berprestasi yang mana perolehan tersebut harus melalui prosedural.

Lalu menindak lanjuti hubungan yang lebih komunikatif antara pihak UKM - UKK dengan Warek 3, Sulhan Chakim menjanjikan adanya program Tri Wulan, yaitu sebuah koordinasi yang dilakukan setiap 3 bulan sekali bersama pihak UKM-UKK untuk membahas hal apapun yang sekiranya perlu dan penting untuk dibahas.

Pada suatu kesempatan, Alfi salah satu perwakilan UKM pencak silat, mengutarakan keluh kesahnya terkait beberapa fasilitas kampus yang memang sudah tidak layak pakai dan harus dibenahi dan diperbaiki, seperti tembok depan gedung UKM yang hampir runtuh pada beberapa bagian dan ternit yang sudah tidak layak guna. Terkait poin tuntutan tersebut Warek 3 berjanji untuk mengadakan survei langsung pada gedung UKM-UKK secara berkala.

Strategi UKM-UKK untuk mengadakan audiensi bersama warek 3 merupakan tindakan  yang tepat. Audiensi yang bertujuan untuk membangun komunikasi baik antara pihak birokrat dan pihak UKM-UKK pun pada akhirnya dapat terealisasi, hal ini merupakan awal langkah baru yang menunjukkan keseriusan berorganisasi dan bermasyarakat di tingkat kampus.

 

Reporter : Asti Hayatri

Editor : Fazrul Nugroho

Share:

Saturday, March 13, 2021

UKM Master IAIN Purwokerto Melantik Kembali Kepengurusan Periode Sebelumnya

 

Foto : Doc.OBSESI

Purwokerto – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Master IAIN Purwokerto laksanakan acara Pelantikan Pengurus periode 2020/2021. Acara ini diselenggarakan di Gedung Student Center (GSC) dan dihadiri oleh beberapa tamu undangan seperti Pembina UKM Master, Wakil Rektor III, serta UKM dan UKK IAIN Purwokerto diantaranya UKM PIQSI, UKM Faktapala, UKK KSR, dan LPM OBSESI (12/03).

Tidak seperti pergantian periode kepengurusan pada umumnya, untuk tahun ini UKM Master IAIN Purwokerto memutuskan untuk melantik kembali pengurus periode 2019/2020. Hal tersebut dilakukan dengan alasan kurang puasnya terhadap kinerja kepengurusan sebelumnya. Sebelum memutuskan untuk melantik kembali pengurus sehingga menjabat selama dua periode, dari UKM telah melakukan wawancara tehadap pengurus periode 2019/2020 terkait kesanggupannya untuk melanjutkan kembali kepengurusan. Dari hasil wawancara dan musyawarah anggota akhirnya diputuskan untuk melanjutkan kepengurusan mereka.

Kepengurusan UKM Master terdiri dari beberapa bidang (dalam UKM Master biasa disebut management) yang diisi dan dikelola oleh beberapa staff di dalamnya. Di kepengurusan tahun ini hanya sebagain kecil saja yang mengalami pergantian. Management Rumah Produksi penggantian pengurus hanya terjadi pada staff Instrument dan staff Pengelolaan. Management Public Relation hanya mengalami pergantian pada staff Management Artis, staff Event Organizer, dan staff Hubungan Masyarakat (HUMAS). Sedangkan di Management Personalia terjadi penggantian pada staff Sumber Daya Manusia (SDM) atau Pengelolaan anggota.

Foto : Doc.OBSESI

“Untuk harapan kepengurusan tahun ini,yang pertama kita mengevaluasi kepengurusan yang kemarin terhadap apa yang sudah kita laksanakan. Kesalahan yang kemarin itu kita belum mencoba beradaptasi dimasa pandemi yang seperti ini. Bersama tim insyaallah kita akan lebih menekankan pada produksi dan mengembangkan media sosial UKM Master,” ujar Arif Faozi Fadilah selaku ketua UKM Master.

Ketua UKM Master dua periode, Arif Faozi Fadilah juga menjelaskan ketidak maksimalan pengurus sebelumnya bukan hanya karena adanya pandemi tetapi juga keterbatasan ruang gerak UKM yang sulit memasuki kampus karena kampus sempat di nonaktifkan. Harapannya terhadap birokrat kampus yaitu untuk lebih terbuka terhadap UKM, terutama UKM yang bergerak dalam dunia seni. Ia berpendapat bahwa dengan memerintahkan untuk tetap menjaga protokol kesehatan sudah cukup, karena jumlah anggota yang tidak terlalu banyak sehingga tidak akan membuat kerumunan. Dan pastinya anggota yang hadir baik untuk rapat atau kegiatan lain tetap diwajibkan mengunakan masker serta cuci tangan atau membawa hand sanitizer.

 

Reporter : Aiq Haidar

Share:

Tuesday, March 9, 2021

Aliansi Front Perjuangan Rakyat Banyumas Gelar Aksi Edukasi Hari Perempuan Internasional

 


Foto: Dok. LPM OBSESI

Purwokerto – Aliansi Front Perjuangan Rakyat (FPR) Banyumas sukses gelar Aksi Edukasi di selatan alun-alun Purwokerto. Aksi ini merupakan momentum peringatan Hari Perempuan Internasional 2021 yang diperingati setiap tahun pada 8 Maret. (09/03)

Aliansi FPR bersama gabungan organisasi Banyumas, Front Mahasiswa Nasional (FMN), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jendral Soedirman, BEM Bina Sarana Informatika, Dewan Perwakilan Mahasiswa Univesitas Wijaya Kusuma, Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi, Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HIMSI), BEM Unversitas Harapan Bangsa, dan Kader Hijau Muhammadiyah (KHM) komite Banyumas, melakukan aksi untuk memperingati Hari Perempuan dengan tema situasi perempuan Indonesia ditengah pandemi, pasca pengesahan Undang-Undang nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja. Aksi ini seharusnya diadakan pada hari senin 8 Maret, namun dikarenakan cuaca yang tidak mendukung dikhawatirkan kurang tersalurkannya pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.


Foto: Dok. LPM OBSESI

“Penindasan dan ketertindasan terhadap perempuan semakin masif dimana rezim berkuasa ini dalam mengeluarkan kebijakannya tidak berpihak kepada rakyat, perempuan, kaum buruh dan kaum tani karena pengesahan omnibus law. Upah dan kerja semakin minim, beberapa merugikan kaum perempuan. Dimana bagi buruh perempuan  sudah tidak ada Undang-undang yang mengatur cuti haid dan cuti melahirkan”, ujar Yasni selaku koordinator lapangan.

Kekerasan dan diskrimasi terhadap perempuan merupakan kekerasan yang berlangsung paling lama dalam masyarakat di dunia. Diskriminasi terhadap perempuan banyak terjadi di berbagai bidang seperti ekonomi, politik, budaya, dan mungkin terjadi diberbagai bidang lainnya. Sedangkan kekerasan terhadap perempuan berdasarkan data yang dirilis oleh Komisi Nasional Perempuan pada 6 Maret 2021 menunjukan peningkatan sebesar 6% dari tahun 2018-2019 yaitu sekitar 25.293 kasus kekerasan.

Untuk itu, aksi ini diharapkan dapat mendorong kaum perempuan Indonesia untuk bersatu dan berjuang bersama, serta menyatukan diri dalam organisasi. Memperkuat tujuan kita melawan rezim berkuasa yang semakin fasis memfikirkan keuntungan bagi imperialisme tanpa berpihak kepada rakyat maupun kaum buruh, kaum tani dan kaum perempuan Indonesia.

 

Share:

TERPOPULER