Kancah Pemikiran Konstruktif

Monday, August 30, 2021

UIN SAIZU Gelar 2000 Dosis Vaksin Untuk Mahasiswa & Umum

 

Foto Dok. LPM OBSESI

Purwokerto – Sebanyak 2.000 dosis vaksin  Moderna  diberikan kepada Mahasiswa dan Masyarakat umum pada pelaksanaan program vaksinasi covid – 19 yang bertempat di Auditorium Universitas Islam  Negeri Prof. KH. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) pada Senin, (30/8).

Moh Roqib selaku Rektor UIN SAIZU menyampaikan bahwa kegiatan hari ini merupakan suatu titik gerakan kemanusiaan dengan kolaborasi antara Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN SAIZU bersama  TNI-Polri dalam rangka meningkatkan imunitas masyarakat agar tetap bertahan dalam melawan virus Covid-19. Ungkapan serupa juga disampaikan Kapolresta Banyumas Kombes Pol.  Lukmanul Hakim, beliau  mengatakan bahwa kegiatan vaksinasi ini bertujuan untuk memberikan kekebalan bagi kalangan produktif termasuk mahasiswa.

Foto Dok. LPM OBSESI

Moderna dipilih karena efektifitasnya yang mencapai 94,1% dengan ketersediaan yang cukup saat ini,  meskipun  mempunyai  efek samping tersendiri.

Peserta vaksinasi mahasiswa adalah mereka yang sudah lolos validasi data serta memiliki E-Tiket serta terdaftar dalam link yang disediakan oleh pihak DEMA, dengan syarat menunjukan Kartu Keluarga serta nomor telepon yang bisa dihubungi  serta screening di tempat. Namun, ada beberapa kasus mahasiswa sudah mendaftar melalui link yang tersedia, tetapi tidak mendapatkan  E-Tiket.

Terkait hal tersebut, Sahal selaku ketua DEMA mengatakan “Kita memliki dua belas personil tim kolsultasi dan pendataan. Hal ini memiliki kelemahan, yaitu ketika peserta itu sudah mendaftar di link yang pertama kemudian dia mendaftar lagi di link yang sama, maka datanya akan hilang, karena mendaftar lebih dari sekali, data itu akan menumpuk dan tidak masuk direkap, karena yang kita rekap itu satu data yang paling pertama yang ke dua dan seterusnya itu tidak masuk, disitu kendalanya” ujarnya.

Foto Dok. LPM OBSESI

Menurut Sahal, alasan lain dari kasus ini adalah terkait penyertaan nomor telepon, banyak mahasiswa yang menyertakan nomor WhatsApp bukan nomor ponsel aktif yang bisa dihubungi, karena informasi terkait vaksinasi ini melalui SMS bukan via WhatsApp, sehingga informasi akhirnya tidak sampai.

Vaksinasi yang disambut hangat antusias mahasiswa ini masih belum sepenuhnya berhasil karena masih ada beberapa mahasiswa yang gagal ikut vaksin.

Seperti yang diungkapkan oleh Amri, peserta yang berhasil melakukan vaksinasi “ Tadi aku deg-degan ya, serius, karena kemarin sempat vaksin ke UMP tapi aku ngga lulus screening, terus vaksin disini, dan disini Alhamdulillah baru tadi, perasaannya sekarang lega karena saya sudah menjadi manusia kuat, punya ini kartu vaksin, seperti itu. Ayo segera vaksin dong biar bisa kemana-mana lagi dengan tetap protokol kesehatan.”

Ungkapan lain, dari peserta yang belum berhasil melakukan vaksinasi covid-19, Fazrul mengatakan “Sebenernya cukup kecewa sih, karena ini udah momen yang langka banget kan, kita bisa vaksin moderna, apalagi di kampus sendiri. Cuma tadi aku juga lagi kurang fit juga. Sama dokternya tadi pas screening ternyata nggak dibolehin, yaa gimana lagi gitu ya.”

Dalam mengatasi peserta tertunda ini, Sahal megungkapkan  bahwa mereka akan ditampung terlebih dahulu dan akan tetap diperjuangkan untuk vaksin di kampus. Rektor UIN SAIZU juga menyatakan akan ada pendataan terkait hal tersebut dan jika sudah siap akan dilakukan vaksin gelombang berikutnya.

Reporter    : Iqbal & Irma

Editor    : Isti


Share:

Wednesday, August 25, 2021

Antusiasme Mahasiswa Baru dalam Pelaksanaan PBAK UIN SAIZU 2021


Photo Dok. LPM OBSESI

OBSESI – Hari terakhir Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2021 Universitas Islam Negeri Prof. K.H Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU)  Purwokerto (25/8) diisi dengan pengenalan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Unit Kegiatan Khusus (UKK), Partai Politik Mahasiswa dan Organisasi Kemahasiswaan.

PBAK 2021 kali ini menyungsung tema “Bumikan Bangsa Langitkan Budaya dalam Moderasi Beragama” dengan ini diharapkan mahasiswa baru UIN SAIZU dapat menjaga bangsa, budaya dan toleransi antar umat beragama. Saat ditemui crew LPM OBSESI, Rizki, ketua PBAK 2021 menuturkan bahwa jumlah panitia PBAK tahun ini berjumlah 165 orang yang terbagi menjadi 8 divisi dan diikuti oleh 3.272 peserta.

Photo Dok. LPM OBSESI

Beberapa kendala kerap ditemukan dalam proses pelaksanaan PBAK, hal ini dijelaskan langsung oleh Rizki “Kendala krusial mungkin miskomunikasi, terus yang paling urgent yaitu untuk budgeting masih dari temen-temen panitia, selain itu ada sedikit kendala 1-2 menit terhadap media, dikarenakan kabel yang copot tetapi itu bisa cepat diatasi oleh tim media sehingga tidak mengakibatkan kendala yang krusial”.

Walaupun diselenggarakan secara online, antusiasme peserta cukup luar biasa dalam mengikuti serangkaian acara yang sudah terstruktrur, walupun masih ada beberapa anak yang belum bisa terkondisikan untuk mengikuti kegiatan PBAK, hal ini terjadi karena terdapat beberapa anak yang meminta izin untuk mengikuti kegiatan vaksinasi. Hal tersebut dimaklumi oleh panitia PBAK, karena mengingat vaksinasi juga merupakan salah satu bentuk kegiatan dari pemerintah yang perlu didukung oleh masyarakat termasuk akademisi.

Imam Hanif, peserta PBAK UIN SAIZU 2021 prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) mengutarakan pesan dan kesannya terhadap PBAK 2021 saat dihubungi oleh crew ”kurang asik karena dilaksanakan secara online begitu pun banyak kendala yang dialami diantaranya yaitu masih tentang kendala sinyal yang umum terjadi dikalangan peserta PBAK, tidak ada keluhan karena tugas hanya meresume” ungkapnya.

Pada kesempatan lain Septi Muslimatul Khasanah, peserta PBAK dari prodi Hukum Ekonomi Syariah (HES) juga mengungkapkan pesan dan kesannya terhadap kegiatan PBAK “Asik ngga garing walaupun online tetapi berkesan kendala yang dihadapi masih sama yaitu terkait kendala sinyal dan kurangnya pemahaman terhadap teknologi seperti penggunaan zoom yang  masih bingung” saran Septi untuk kedepannya bagi mahasiswa yang belum bisa dalam pengoperasian zoom mungkin dari panitia bisa membuatkan tutorial mengenai pemakaian zoom tersebut.

Pada akhir sesi wawancara, Rizki memberikan pesan kepada Calon Mahasiswa Baru UIN SAIZU “Semangat terus, semangat kuliah walaupun banyak halang rintang terkait pandemi, tetap fokus terhadap tujuan utama kuliah dan juga dengan PBAK ini mahasiswa dapat mengetahui apa saja yang ada di kampus dan bisa melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, pengabdian, dan penelitian” Untuk seluruh mahasiswa baru dan teman-teman yang lain, tidak usah hebat untuk memulai tapi memulailah untuk jadi hebat” Tutup Rizki.

Reporter    : Subhan & Nia

Editor    : Fazrul



Share:

Tuesday, August 24, 2021

APATIS BUKAN BERARTI TIDAK PEDULI "Bersuara Melalui Platform Media TikTok"

 

ilustrasi : Iqbal (Crew LPM OBSESI)

“Tolong banget lah pemerintah ini, buset dah! Kita mau makan ini, mau makan aja udah kaya, mau beli apaan tau, kaya beli narkoba ini, kita saut sautan sama pedagangnya di dalem”.

Demikian isi video TikTok dari akun yang bernama @tentararusia yang mengungkapkan keresahannya pada regulasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dibuat oleh pemerintah dan diunggah melalui platform media TikTok.

Dengan video berlatar didepan sebuah Warmindo (Warung Makanan Indomie) yang teralisnya setengah tertutup, konten tersebut mendapatkan atensi yang cukup banyak dan disukai oleh jutaan pengguna aplikasi TikTok. Walaupun mendapatkan atensi cukup banyak, konten kreator video tersebut menuturkan bahwa sebenarnya dia membuat konten hanya sebatas iseng akan tetapi memiliki tujuan untuk membantu banyak orang bersuara terutama pedagang yang mengalami dampak pemberlakuan dari PPKM tersebut.

Akun TikTok @tentararusia sendiri dipegang oleh seorang admin yang merupakan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Prof. KH. Saiffudin Zuhri Purwokerto (UIN SAIZU), mahasiswa dengan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) tersebut bernama Irham Hanif Abriyanto yang kerap disapa Icam, Icam sendiri merupakan seorang anak rantau asli Jakarta.

Saat dihubungi oleh crew OBSESI, Iaki-laki berambut ikal dan berkulit sawo matang ini menuturkan bahwa awal mula ia masuk dunia perkuliahan didasari oleh tatapan rasa kekecewaan dengan keadaan lingkungan sekitar. Ia merupakan seorang lulusan SMA melalui jalur Paket C. Disaat dia menyelesaikan Pendidikan paket C nya tersebut, kakak tertua dari tiga bersaudara ini pun, sambil berkerja untuk uang saku tambahan.

Hal tersebut dilakukan oleh Icam karena pada saat itu pria bertubuh agak tambun ini telah kehilangan bapaknya, hingga pada akhirnya ia harus belajar mandiri untuk mencukupi kebutuhannya. Setelah lulus dari ujian paket C nya, icam pun mengincar tiga kampus untuk melanjutkan studinya dan salah satunya yaitu UIN SAIZU. Icam menceritakan bahwa masuk di jurusan KPI didasari rasa sukanya terhadap dunia komunikasi dan juga penyiaran,

Karena satu nasehat yang paling icam ingat dari bapaknya adalah “lakukanlah apa yang kamu senangi”, dan hal itu pula lah yang menjadi awal perjalanan icam dalam mendapat atensi public melalui hal yang ia sukai.

Saat memasuki dunia perkuliahan, Icam akhirnya ditunjukan kepada realita kampus yang tidak pernah terbayangkan oleh dia pada awalnya, terutama dalam hal “politik” atau “pengkaderan”. Icam merasa kaget dengan sistem politik kampus yang benar-benar diluar ekpektasi dia selama ini, yang mana kakak tingkat berusaha membujuk para adik tingkatnya untuk masuk dalam golongannya dan akan didukung dalam seluruh kegiatan Lembaga Kemahsiswaan (LK) dikampus.

Icam menyayangkan dalam hal perpolitikan yang terlalu memaksa, seperti contohnya menunjuk seseorang untuk menduduki sebuah jabatan di LK tanpa didasari uji kompetensi akan tetapi hanya bermodalkan dukungan golongan partai.

Keresahan itupun ia salurkan dalam konten tiktoknya, konten tersebutpun menuai banyak respon dari netizen, para netizen banyak yang menyetujui pendapat Icam. Walaupun memang ada saja orang yang tidak senang dengan konten buatannya, tapi bagi Icam itu tidak masalah dan tidak mau terlalu dipermasalahkan. “Ya, kalau ada yang ga suka ya ga masalah, ini kan dari sudut pandang gua dan gua ya ga maksa orang lain mikirnya sama kayak gua, kalau sependapat ya monggo kalau ga sependapat pun ya silahkan, ngga terlalu mempersalahin lah.” Ujar Icam.

Bagi Icam jangan jadikan orang disekitar menjadi penghambat dalam pengekspresian diri sendiri, mahasiswa-mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi di kampus, sebenarnya mereka pun ikut dalam organisasi penggerak sosial di kampus, mereka bukan apatis tapi hanya merasa lelah dengan oknum-oknum yang sering membuat kecurang-kecurangan dalam dunia politik kampus.

Dengan kata lain, Icam mendukung anak-anak yang bersikap netral karena keadaan dan ingin menunjukan bahwa masih ada beberapa hal yang salah dalam dunia politik kampus dan harapan Icam kedepan adalah dengan adanya konten-konten kritikus yang ia buat, hal tersebut dapat mengubah pandangan orang-orang tentang LK di kampus, selain itu Icam mengharapkan bahwa anggota-anggota LK dapat memperbaiki sistem regulasi dengan lebih baik lagi, “Idealis lah ketika masih berada di kampus, karena jika sudah lulus, maka realitas lah yang akan mengubur idealisme itu” tutup Icam.

Penulis : Rian

Editor : Fazrul




Share:

TERPOPULER