Kancah Pemikiran Konstruktif

Tuesday, August 24, 2021

APATIS BUKAN BERARTI TIDAK PEDULI "Bersuara Melalui Platform Media TikTok"

 

ilustrasi : Iqbal (Crew LPM OBSESI)

“Tolong banget lah pemerintah ini, buset dah! Kita mau makan ini, mau makan aja udah kaya, mau beli apaan tau, kaya beli narkoba ini, kita saut sautan sama pedagangnya di dalem”.

Demikian isi video TikTok dari akun yang bernama @tentararusia yang mengungkapkan keresahannya pada regulasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dibuat oleh pemerintah dan diunggah melalui platform media TikTok.

Dengan video berlatar didepan sebuah Warmindo (Warung Makanan Indomie) yang teralisnya setengah tertutup, konten tersebut mendapatkan atensi yang cukup banyak dan disukai oleh jutaan pengguna aplikasi TikTok. Walaupun mendapatkan atensi cukup banyak, konten kreator video tersebut menuturkan bahwa sebenarnya dia membuat konten hanya sebatas iseng akan tetapi memiliki tujuan untuk membantu banyak orang bersuara terutama pedagang yang mengalami dampak pemberlakuan dari PPKM tersebut.

Akun TikTok @tentararusia sendiri dipegang oleh seorang admin yang merupakan Mahasiswa Universitas Islam Negeri Prof. KH. Saiffudin Zuhri Purwokerto (UIN SAIZU), mahasiswa dengan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) tersebut bernama Irham Hanif Abriyanto yang kerap disapa Icam, Icam sendiri merupakan seorang anak rantau asli Jakarta.

Saat dihubungi oleh crew OBSESI, Iaki-laki berambut ikal dan berkulit sawo matang ini menuturkan bahwa awal mula ia masuk dunia perkuliahan didasari oleh tatapan rasa kekecewaan dengan keadaan lingkungan sekitar. Ia merupakan seorang lulusan SMA melalui jalur Paket C. Disaat dia menyelesaikan Pendidikan paket C nya tersebut, kakak tertua dari tiga bersaudara ini pun, sambil berkerja untuk uang saku tambahan.

Hal tersebut dilakukan oleh Icam karena pada saat itu pria bertubuh agak tambun ini telah kehilangan bapaknya, hingga pada akhirnya ia harus belajar mandiri untuk mencukupi kebutuhannya. Setelah lulus dari ujian paket C nya, icam pun mengincar tiga kampus untuk melanjutkan studinya dan salah satunya yaitu UIN SAIZU. Icam menceritakan bahwa masuk di jurusan KPI didasari rasa sukanya terhadap dunia komunikasi dan juga penyiaran,

Karena satu nasehat yang paling icam ingat dari bapaknya adalah “lakukanlah apa yang kamu senangi”, dan hal itu pula lah yang menjadi awal perjalanan icam dalam mendapat atensi public melalui hal yang ia sukai.

Saat memasuki dunia perkuliahan, Icam akhirnya ditunjukan kepada realita kampus yang tidak pernah terbayangkan oleh dia pada awalnya, terutama dalam hal “politik” atau “pengkaderan”. Icam merasa kaget dengan sistem politik kampus yang benar-benar diluar ekpektasi dia selama ini, yang mana kakak tingkat berusaha membujuk para adik tingkatnya untuk masuk dalam golongannya dan akan didukung dalam seluruh kegiatan Lembaga Kemahsiswaan (LK) dikampus.

Icam menyayangkan dalam hal perpolitikan yang terlalu memaksa, seperti contohnya menunjuk seseorang untuk menduduki sebuah jabatan di LK tanpa didasari uji kompetensi akan tetapi hanya bermodalkan dukungan golongan partai.

Keresahan itupun ia salurkan dalam konten tiktoknya, konten tersebutpun menuai banyak respon dari netizen, para netizen banyak yang menyetujui pendapat Icam. Walaupun memang ada saja orang yang tidak senang dengan konten buatannya, tapi bagi Icam itu tidak masalah dan tidak mau terlalu dipermasalahkan. “Ya, kalau ada yang ga suka ya ga masalah, ini kan dari sudut pandang gua dan gua ya ga maksa orang lain mikirnya sama kayak gua, kalau sependapat ya monggo kalau ga sependapat pun ya silahkan, ngga terlalu mempersalahin lah.” Ujar Icam.

Bagi Icam jangan jadikan orang disekitar menjadi penghambat dalam pengekspresian diri sendiri, mahasiswa-mahasiswa yang tidak mengikuti organisasi di kampus, sebenarnya mereka pun ikut dalam organisasi penggerak sosial di kampus, mereka bukan apatis tapi hanya merasa lelah dengan oknum-oknum yang sering membuat kecurang-kecurangan dalam dunia politik kampus.

Dengan kata lain, Icam mendukung anak-anak yang bersikap netral karena keadaan dan ingin menunjukan bahwa masih ada beberapa hal yang salah dalam dunia politik kampus dan harapan Icam kedepan adalah dengan adanya konten-konten kritikus yang ia buat, hal tersebut dapat mengubah pandangan orang-orang tentang LK di kampus, selain itu Icam mengharapkan bahwa anggota-anggota LK dapat memperbaiki sistem regulasi dengan lebih baik lagi, “Idealis lah ketika masih berada di kampus, karena jika sudah lulus, maka realitas lah yang akan mengubur idealisme itu” tutup Icam.

Penulis : Rian

Editor : Fazrul




Share:

2 comments:

TERPOPULER