Kancah Pemikiran Konstruktif

Saturday, November 20, 2021

Sistem Informasi Bahasa (SIB): Error System or Human Error ?

Ilustrasi LPM OBSESI 

Pasca insiden Sistem Informasi Bahasa atau lebih dikenal dengan istilah SIB yang down beberapa waktu lalu, baru-baru ini tepatnya pada hari Kamis, 18 November 2021 mahasiswa Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) kembali dihebohkan dengan insiden hilang atau tidak munculnya soal ujian ketika berlangsungnya English Proviciency Test of UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (EPTUS) dan Ikhtibar al-Qudrah li Kafa’at al-Lughah al-‘Arabiyyah (IQLA) yang diselenggarakan oleh UPT Pengembangan Bahasa. Kejadian tersebut diperparah dengan sikap kurang responsifnya pengawas dan penyelenggara ujian dalam menangani masalah tersebut, dengan tidak meberikan instruksi solusi yang jelas kepada peserta ujian.

Permasalahan sistem informasi down bukan lagi hal baru yang dialami oleh mahasiswa UIN SAIZU. Kejadian seperti itu sangat sering dialami bahkan setiap tahunnya pasti terjadi terutama menjelang pergantian semester saat pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) di Sistem Informsi Akademik (SISCA). Bahkan seringnya SISCA down sudah berkali-kali mendapat kritikan keras dari mahasiswa. Sayangnya sampai saat ini usaha yang dilakukan oleh mahasiswa masih belum mendapatkan hasil maksimal dari pihak kampus. Dan sekarang tidak hanya SISCA, Sistem Informasi Bahasa (SIB) sebagai pengganti dari Sistem Informasi UPT Bahasa (SIUB) juga mulai menimbulkan kekhawatiran bagi mahasiswa.

Selama ini tuntutan perbaikan sistem di kampus yang seringkali down seperti Sistem Informasi Akademik (SISCA), Sistem Informasi Bahasa (SIB), dan sistem informasi yang lain selalu diarahkan kepada unit pegawai yang bertanggungjawab mengelola sistem tersebut. Namun setelah ditelisik lebih lanjut, dari banyaknya sistem informasi yang ada di kampus rupanya hanya dipegang oleh satu orang programer saja. Unit-unit pegawai yang selama ini diprotes oleh mahasiswa hanyalah sebagai penanggungjawab pelayanan untuk mahasiswa. Artinya, dalam kasus Sistem Informasi Bahasa (SIB) yang down dan kasus hilang atau tidak munculnya soal ketika ujian adalah di luar kendali dari UPT Pengembangan Bahasa. Cepat lambatnya respon dari UPT Pengembangan Bahasa terkait masalah-masalah yang terjadi pada mahasiswa tergantung dari kecepatan respon programer selaku pembuat sistem tersebut.

Ade Ruswati selaku PLT UPT Pengembangan Bahasa juga menjelaskan bahwa tidak serta merta hal-hal yang terjadi selalu sepenuhnya diakibatkan oleh sistem yang error. Tidak dapat dipungkiri kejadian human error pun sering terjadi seperti kesalahan username, lupa password, dan sebagainya. Namun pihak UPT Pengembangan Bahasa juga tidak mengelak kemungkinan bahwa sistemnya yang eror. Karena sebaik apapun sistem pastilah tidak luput dari terjadinya trouble, yang mana kekurangan-kekurangan dari sistem yang dibuat tersebut hanya bisa diketahui ketika dilakukan uji coba berulang kali sehingga bisa di tindaklanjuti dengan melakukan perbaikan.

Mengenai insiden hilang atau tidak munculnya soal ujian ketika berlangsungnya EPTUS dan IQLA, pihak UPT Pengembangan bahasa juga memberikan tanggapan mengenai opsi solusi yang mungkin bisa dilakukan yaitu dengan mennyelenggarakan ujian secara offline. Namun opsi tersebut belum menjadi solusi terbaik mengingat banyaknya faktor yang perlu dipertimbangkan jika dilakukan secara offline, seperti faktor jarak, yang mana tidak semua peserta ujian berada satu wilayah dengan kampus. Sehingga hal tersebut berpotensi banyak peserta yang tidak bisa hadir saat ujian sehingga harus melakukan remidi. Tentunya hal tersebut tidak menguntungkan bagi peserta dan juga penyelenggara ujian. Dengan sistem ujian online peserta dapat lebih fleksibel mengikuti ujian karena bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun.

 “Kami juga memiliki beberapa solusi, solusinya yaitu dilakukan secara offline. Tetapi jika secara online masih bisa tersistemkan kenapa mesti menggunakan offline, karena dengan sistem tersebut data-data yang mahasiswa miliki dapat terjaga dengan baik.” Ujar Ade.

Pihak UPT Pengembangan Bahasa berharap kepada mahasiswa untuk tidak menyalurkan keluhannya langsung kepada pihak programer. Sesuai dengan prosedur, keluhan dari mahasiswa bisa langsung di sampaikan kepada UPT Pengembangan bahasa sebagai penyedia layanan mahasiswa baik via online maupun dengan datang langsung ke kampus sesuai dengan jam kerja. Selain itu, sebelum menyampaikan keluhan mahasiswa diharapkan dapat terlebih dahulu mencari dan mengikuti perkembangan informasi dengan terus memantau grup ujian EPTUS IQLA serta mengecek secara berkala informasi di website SIB. Berdasarkan penjelasan dari Ade Ruswati, kurangnya pelayanan yang dilakukan selain dikarenakan tupoksi yang cukup banyak seperti ujian remidi, sertifikat, perkulihan pengembangan bahasa, terjemah, seminar, kegiatan bimbingan teknis, dan sebagainya, pegawai UPT Pengembangan Bahasa juga merupakan dosen yang memiliki tanggungjawab untuk mengajar.

Dengan kejadian Sistem Informasi Bahasa (SIB) yang down dan hilang atau tidak munculnya soal ketika ujian, mahasiswa berharap pihak kampus dapat lebih concern melakukan pembenahan yang mungkin bisa dimulai dengan menyediakan lebih dari satu Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk menghandle sistem informasi yang ada di kampus.

 

Reporter          : Aiq Haidar

Editor             : Wardah Munfaati

Share:

TERPOPULER